Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Oleh-oleh dari Bursa Efek Indonesia

Selasa, 31 Mei 2016 | 07:07 WIB

Senin 23 Mei, yang baru lalu, saya diundang PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menekan tombol --atau lebih tepat meletakkan telapak tangan di permukaan kaca– sebagai tanda dimulainya perdagangan hari itu. Seremoni itu diadakan dalam rangka memperingati 21 tahun beroperasinya Jakarta Automated Trading System (JATS).

 

Selain itu, seremoni semacam itu, mengutip Tito Sulistio, direktur utama BEI, merupakan kebijakan perusahaan untuk mengembangkan bursa yang lebih friendly dan tidak menjadi “menara gading”.

 

Pagi yang cerah dan meriah. Sambutan lima menit, membuka perdagangan, ramah-tamah dan sesi foto, potong tumpeng, wawancara TV, Tanya jawab dengan beberapa wartawan dan ngobrol cukup lama di ruang direktur utama (dirut), memberikan saya kesempatan untuk memutakhirkan pemahaman saya tentang perkembangan BEI.

 

Pagi yang mengharukan. Lebih dari 100 orang teman lama hadir di situ, sehingga acara seremoni seketika berubah menjadi acara “kangen-kangenan”. Melihat fotofoto lama, tayangan film dokumenter, bercanda bersama teman, bagaikan terowongan waktu yang menyeret saya ke era seperempat abad silam.

 

Secara fisik, BEI terlihat telah melompat jauh ke depan. Di lantai dasar ada ruang tamu yang wah. Di sebelahnya, tempat seremoni berlangsung, adalah gallery dengan tata letak, arsitektur dan dekor bernuansa kontemporer yang gagah dan nyaman. Saya sempat melirik barisan desk tops, seperti miniature trading work station ketika dulu perdagangan masih menggunakan lantai. Saya tak sempat bertanya apakah miniature itu berfungsi sebagai disaster recovery center apabila JATS mengalami down atau tempat simulasi, atau sekadar asesoris ruangan.

 

Dari kacamata kelembagaan dan teknologi, BEI juga membuat berbagai lompatan. Sebut misalnya pembelahan KDEI menjadi KPEI (1996) dan KSEI (1998), perdagangan tanpa warkat (2000), perdagangan online (2002), penggabungan BEJ-BES ke dalam BEI (2008), dan pembentukan Securities Investor Protection Funds (2013).

 

Namun, oleh-oleh yang paling berharga adalah pemaparan direktur utama BEI, di ruang kerjanya, tentang kondisi mutakhir BEI dan rencana ke depan. Sebagai acuan analisis, saya lontarkan di sini pertanyaan oratoris Dirut: “Seberapa besar peluang BEI menjadi terbesar di Asean pada 2020?”

 

Setelah beresnya pelonggaran barrier dan penyatuan pasar produk dan jasa, Masyarakat Ekonomi Asean akan sampai pada eksplorasi kemungkinan mata uang tunggal dan bursa saham tunggal. Dalam konteks ini perlu dicatat bahwa Bursa Malaysia dan Stock Exchange of Singapore sudah lama melakukan demutualisasi, bertransformasi dari membership not for profit organization menjadi ordinary for-profit corporation.

 

Demutualisasi membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi langsung, memiliki dan memperoleh bagian keuntungan dari operasi bursa. Demutualisasi merupakan prasyarat bagi penyatuan bursa-bursa Asean.

 

Berikut beberapa statistik yang saya peroleh dari ruang dirut BEI. Dari jumlah emiten, mengambil posisi akhir 2015, BEI (521 emiten) masih tertinggal dari Thailand (639), Singapura (769, termasuk 286 foreign listings) dan Malaysia (902, termasuk 10 foreign listings). Namun, tren lima tahun terakhir menunjukkan jumlah emiten yang menurun di Malaysia dan Singapura. Kalau BEI mampu membawa 100 emiten per tahun, maka akan menjadi yang terbesar dari jumlah emiten tercatat, pada 2020.

 

Kapitalisasi BEI akhir 2015 (US$ 353 Bio) berada sedikit di atas Thailand (349), namun berada di bawah Singapura (640) dan Malaysia (383). Banyaknya perusahaan asing yang tercatat di SGX, karena skala ekonomisnya lebih besar, berperan dalam mengangkat kapitalisasi SGX. Kalau BEI mampu memenuhi target penambahan emiten, maka ranking kapitalisasi pasar juga akan ikut naik. Rata-rata frekuensi transaksi harian BEI pada tahun 2015 tercatat 221K transaksi. Angka itu berada di atas Malaysia (153K) dan Singapura (na), tapi di bawah Thailand (368K). Sekadar perbandingan, frekuensi rerata harian BEI hanya sekitar satu per mil dibandingkan dengan Bursa Saham Shanghai yang mencapai rata-rata lebih dari 21 juta transaksi per hari.

 

Yang menyedihkan adalah nilai perdagangan. Nilai perdagangan BEI 2015 (US$ 78 Bio) jauh di bawah Thailand (222), Singapura (203) dan Malaysia (124). Harga rata-rata saham di BEI terlalu rendah! Terlihat jelas dari angka statistik yang menunjukkan kenaikan frekuensi transaksi tapi diikuti oleh penurunan nilai rata-rata transaksi harian. Mungkin diperlukan kebijakan yang menetapkan rentang harga saham. Lebih dari angka tertentu diwajibkan melakukan stock split, kurang dari batas minimal wajib melakukan reverse split.

 

Seperti juga ekonominya, pasar modal China nyaris sebuah keajaiban. Saya masih ingat diundang ke Beijing tahun 1992 dalam rangka promosi tiga bursa efek yang baru beroperasi di China: Shanghai, Shenzen dan Beijing. Artinya, pasar modal Indonesia meluncur 15 tahun di depan China. Namun, kini, kapitalisasi pasar modal China mencapai US$ 8,2 triliun.

 

Kapitalisasi pasar modal China merupakan 13% kapitalisasi global, 25 kali lipat kapitalisasi BEI. Yang lebih fantastis adalah nilai perdagangannya. Walaupun kapitalisasi bursa China baru sekitar sepertiga kapitalisasi pasar modal Amerika Serikat, tapi nilai transaksinya tahun 2015 sebesar US$ 41 triliun (40% transaksi dunia), sudah jauh melampaui Amerika Serikat (30 triliun, 27%).

 

Faktor likuiditas yang berbicara. Karena itu, menurut saya, peningkatan likuiditas merupakan salah satu prioritas BEI. Saham yang likuid bukan saja memudahkan konversi dari kas ke saham dan sebaliknya, spread jual-beli menjadi kecil, harga saham tidak terlalu sensitif terhadap block sale, tapi juga meniadakan kegiatan miring “goreng menggoreng” harga saham!

 

Likuiditas adalah fungsi dari jumlah pemegang saham. Saya tidak memperoleh angka-angka jumlah pemegang saham di berbagai negara. Tetapi dengan jumlah pemegang saham sekitar 500.000, saya yakin bahwa kalau dibuat peringkat persentase investor terhadap jumlah penduduk, Indonesia akan berada di tempat paling rendah. Bandingkan, misalnya, dengan China yang selama kuartal I-2015, saja, mencatat 30 juta rekening baru.

 

Kalau Warren Buffett pada umur 10 tahun membaca semua buku investasi di perpustakaan Kota Omaha, lalu mulai melakukan investasi pada umur 11 tahun; kalau di sekolah menengah atas di Hong Kong dan Singapura sudah diajarkan dan dipraktekkan stock picking, alangkah bebalnya kita membiarkan mayoritas masyarakat kita tetap buta investasi dan berulang-ulang menjadi korban investasi bodong……

 

Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN