Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pasar Marketing Riset di Indonesia Makin Menjanjikan

Rabu, 25 Juli 2018 | 00:08 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Presiden Director Neurosensum Indonesia, Rajiv Lamba optimistis tahun ini mampu menjaring 50 perusahaan sebagai kliennya. Optimistisme Rajiv ini didukung pencapaian perusahaan ini dalam waktu singkat berhasil menjaring 25 klien dengan 50 proyek meski perusahaannya relatif masih baru beroperasi di Indonesia.


Neurosensum berkantor pusat di Singapura yang berdiri pada Juli 2017 dan beroperasi komersial di Indonesia pada Februari 2018. Perusahaan ini juga bergabung dalam jajaran perusahaan rintisan (start-up) yang didukung oleh perusahaan modal ventura Alpha JWC Ventures.


“Kami juga kaget mendapatkan 25 klien dalam waktu yang relatif singkat dari perusahaan-perusahaan yang besar, ada yang perusahaan consumer goods ,e-commerce, finance dll . Kami bersaing dengan perusahaan riset yang besar-besar disini dan kompetisinya ketat, namun kami percaya kami memiliki deferensiasi dengan pendekatan yang berbeda dalam melakukan riset,” kata Rajiv kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.


Riset yang dilakukan oleh Neurosensum, lanjut dia, berbasis neuroscience dan artificial intelligence (AI) menggunakan metode baru dengan perangkat biometrik untuk memperoleh respons implisit dari konsumen. Dalam menjalankan survei pasar terhadap iklan, produk atau packaging, Neurosensum menggunakan perangkat EEG (electroencephalogram), eye tracker, virtual reality (VR), reaction time dan facial coding.


Riset dengan metode tersebut, sambung dia, sangat cocok dengan karakteristik konsumen Indonesia yang sopan menjadi tantangan tersendiri bagi industri pemasaran dalam melakukan riset pasar. Ketika menjadi responden, konsumen cenderung menjawab pertanyaan survei dengan sesuatu yang baik meski pada kenyataannya bertentangan dengan pikiran yang sebenarnya.


“Hal ini memiliki dampak hasil riset yang terlihat kurang akurat karena kecenderungan responden untuk memberi jawaban yang bagus. Makanya kita menggunakan metode yang berbeda dengan ada sentuhan teknologi untuk memperoleh hasil yang lebih akurat,” tuturnya.


Menurut dia, dengan pendekatan neuroscience, pemilik brand dapat memperoleh informasi yang akurat dari pikiran bawah sadar konsumen, sedangkan survei yang ada saat ini kebanyakan mengandalkan claim-based research menjadi subconscious-based.


Ia menambahkan, dengan menggunakan pendekatan seperti itu hasilnya akan lebih akurat, karena sebagian besar pengambilan keputusan manusia terjadi dalam pikiran bawah sadar.


Meski demikian Neurosensum tetap melakukan survei berupa respons eksplisit dari responden melalui wawancara secara tatap muka kepada konsumen untuk memperoleh wawasan mendalam mengenai kinerja suatu brand. “Berdasarkan penelitian, 95% pengambilan keputusan manusia terjadi pada dalam alam bawah sadar dan 5% terjadi pada pikiran sadar,” katanya.


Dia optimistis Neurosensum secara bisnis akan terus bertumbuh. Pihaknya akan terus melakukan edukasi pasar dan membangun ekosistem karena riset yang dilakukan memanfaatkan teknologi terbaru. “Metode ini relatif baru di Indonesia jadi kami sekarang masih melakukan edukasi ke pasar, sasaran kami 400 perusahaan yang besar-besar itu sebagaian besar akan menjadi klien kami.” katanya.


Layanan yang ditawarkan Neurosensum mencakup ad testing (pre & post),product testing, concept testing, shopper studies, brand track & post launch, packaging testing, pricing study hingga customer satisfaction.


Neurosensum sedang mengembangkan platform DIY (do it yourself) market research berbasis artificial intelligence dan machine learning untuk menyasar UMKM atau perusahaan start-up. Platform ini targetnya akan diluncurkan pada 2019. Platform ini akan menjadi Disruption Positive bagi industri market research.



Pengembangan SDM

Rajiv mengaku menyukai bidang marketing riset karena bidang ini sangat dinamis dan saat ini mulai banyak ada inovasi, tidak lagi hanya urusan metodologi riset. “Sentuhan teknologi yang kuat membuat dunia riset ini hidup dan dinamis,” katanya.


Pria kelahiran India 1 Maret 1978 ini telah meniti karir di bidang riset konsumen ini sudah 14 tahun. Sebagian besar perjalanan karirnya itu ada di Indonesia, sehingga dia merasa Indonesia sebagai Tanah Airnya. “Saya punya banyak teman disini, di Indonesia saya membangun karir. Suasananya sangat saya sukai, penduduknya selalu tersenyum dan saya cocok dengan makanannya seperti rendang dan nasi goreng,” katanya.


Dia mengatakan, Neurosensum saat ini memiliki 36 karyawan, dimana 7 ada di India dan 29 ada di Indonesia. “Karyawan di mata saya adalah keluarga jadi saya selalu mendukung yang terbaik buat mereka. Karyawan senang pasti konsumen juga senang, kerja keras diimbangi reward yang pantas buat mereka, terkadang kalau kita sesudah bekerja keras saya ajak mereka makan atau nonton film untuk membangun kebersamaan dan tim kerja yang solid,” katanya.


Rajiv juga concern dengan pengembangan SDM karyawannya. Untuk itu, setiap Jumat, dia melatih hard skill dan soft skill karyawannya seperti presentasi, public speaking, kemampuan teknikal dll. “Setelah kita latih, kita percayakan untuk bekerja biarkan mereka bekerja secara independen dengan inovasinya,” ujarnya.


Dia juga berusaha membangun lingkungan kerja yang menyenangkan. Apalagi, banyak karyawannya ini termasuk generasi muda milineal yang tidak mudah dalam melakukan pendekatan. "Karena itu, jam kerja di perusahaan ini fleksibel menyesuaikan dengan Start-up culture, selama hasil yang dicapai optimal. Hasil optimal tersebut tentunya tidak lepas dari pelatihan agar mereka semakin ahli di bidangnya," katanya.


Dia mengakui, dalam masa perintisan ini kesibukannya sangat padat untuk membangun dan mengembangkan Neurosensum. Namun, akhir pekan dia selalu menyiapkan waktu buat keluarga. “Keluarga adalah segalanya. Sabtu sore biasanya tenis bersama keluarga, dan minggunya saya bersepeda di car free day,” katanya. (is)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN