Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pasar yang Likuid

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 19 April 2016 | 06:45 WIB

Beberapa hari lalu saham PT Antam (ANTM) menghijau dan menjadi berkah bagi investornya. Jika mengamati hanya pada open price dan close price saja; maka ijo-nya saham tersebut menunjukkan capital gain yang diperoleh.

 

Tapi, pada praktiknya hal itu bisa saja tidak demikian, justru ijonya saham tersebut menjadi ‘merah’ bagi sebagian investor. Dalam hal inilah waktu masuk-keluar investasi menjadi faktor dominan. Dengan demikian pula, pada saat sebuah saham jatuh, itu bisa berarti juga bagi sebagian investor sebagai ijo, karena ‘waktu yang tepat’ untuk investasinya (keluar di saat harga tinggi dan masuk lagi saat harga rendah).

 

Secara teoritis, untuk mengukur kinerja investasi, yang biasa dipakaiadalah bobot waktu (time weight) dimana yang dilihat perubahan harga dari dua waktu yang berbeda (awal/open dan akhir/close); sehingga setiap kali harga akhir lebih tinggi berarti investasi bernilai positif. Selain dari ukuran itu, biasa juga dipakai bobot rupiah (rupiah weight) dimana kinerja dihitung berdasarkan besaran rupiah yang keluar-masuk, sehingga itu lebih mencerminkan nilai investasi secara keseluruhan.

Sayangnya, rupiah weight ini sangat subjektif, sangat berbeda antarindividu dan tidak tersedia datanya. Untuk alasan itulah maka  dipakai time weight untuk menunjukkan kinerja investasi, khususnya kinerja instrumen keuangan.

 

Pengaruh Media Sosial

Adanya ukuran kinerja rupiah weight menunjukkan perlunya pasar yang likuid. Bayangkan saham gocapan, meskipun kinerja secara time weight tidak menunjukkan kerugian (0%), secara rupiah weight hal itu menunjukkan sebaliknya, dimana potensi dana mengambang sangat tinggi dan menjadi semacam ilusi, yakni seolah-olah memiliki kekayaan namun kekayaan tersebut sebenarnya sangat tidak likuid.

 

Ukuran-ukuran ekonomi-keuangan pada dasarnya adalah time weight, tapi dalam hal ini dapat menyesatkan yakni seolah-olah tidak terjadi keburukan, padahal faktanya di masyarakat terjadi hal yang tidak diinginkan. Untuk hal ini ada semacam hubungan yang hilang antara time weight dan rupiah weight dan semestinya dipikirkan untuk dicari jalan keluarnya.

 

Pertama, bagaimana mengatasi bottleneck ini, apakah harus diturunkan lagi harga minimumnya? Hal ini dapat menjadi preseden buruk, namun bagi risk taker dapat juga menjadi peluang untuk mendapatkan potensi gain yang besar.

 

Kedua, meskipun masih sangat prematur (sangat perlu dikaji lagi) apakah perlu ada dana jaminan bagi investor di pasar modal yang disediakan bursa melalui semacam iuran asuransi dari peserta, missal jika investor ‘terjebak’ pada saham gocapan maka bursa menalanginya sebesar tertentu (10%?) dan sahamnya diambil alih oleh bursa.

 

Tentunya ide ini masih sangat kasar, tetapi kita perlu memahami kekecewaan berbagai pihak yang terjebak pada saham gocapan. Harapannya adalah tidak ada kekhawatiran yang berlebihan dari pelaku uninformed investor dan dapat mendorong pasar modal itu menjadi lebih bergairah

 

Pasar yang likuid juga menunjukkan partisipasi masyarakat dimana monetisasi keuangan menjadi lebih kuat. Pasar yang likuid hanya akan terjadi jika ditunjang oleh teknologi komunikasi yang murah-efisienandal.

 

Untuk alasan ini, maka penetrasi pasar yang meluas akan lebih dapat dicapai dengan memanfaatkan teknologi ini. Saat ini, pengguna media sosial sangat meluas dan sebagian besar pemakainya adalah remaja. Apakah sudah waktunya kita mengubah fasilitas medsos yang selama ini sebagai sarana membagi kegembiraan menjadi sarana investasi bagi remaja.

 

Beberapa institusi bisnis-pendidikan telah memasang iklan pada medsos, namun belum tampak dari otoritas Otoritas Jasa Keuangan OJK) beserta elemennya. Keberadaan remaja sebagai investor mungkin dapat diharapkan menjadi gerbang bagi kewirausahaan bangsa, karena sejak awal mereka sudah bisa memahami potensi laba- rugi, kinerja-hasil, dan diharapkan hal itu dapat menumbuhkan sikap positip.

 

Keempat, sekalipun lebih berisiko ternyata pasar saham lebih luas stakeholder-nya dibandingkan pasar obligasi. Bagi emiten, menerbitkan surat saham lebih berisiko karena mengurangi/membagi kekayaannya dan bagi investor juga lebih berisiko karena tidak ada jaminan uang kembali dari investasinya.

 

Situasi yang lebih berisiko ini ternyata dapat diterima, dan semestinya menunjukkan hal positif yakni kesadaran akan adanya potensi laba-risiko. Sikap ini dapat menjadi modal dasar bagi wirausaha jika secara meluas dimiliki oleh generasi muda bangsa. Karena itu, pelibatan lebih banyak stakeholder dapat memeriahkan pasar modal.

 

Kelima, adanya potensi wirausaha yang tidak tersalurkan karena hambatan modal. Para ahli menunjukkan bahwa venture capital (VC) dapat menjadi solusinya. Masalahnya dalam hal ini, tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan VC, sehingga wirausaha muda yang tidak beruntung dapat menjadi layu sebelum berkembang. Bursa dapat membantu wirausaha ini dengan mengelola/ menyediakan dana CSR sebagai venture capital (VC) yang tentu saja dikelola secara profesional. Setelah usaha itu membesar, diharapkan potensi bisnis tersebut dapat go public sehingga dapat dimiliki oleh masyarakat secara luas.

 

Saya kira akan sangat membanggakan bagi anak muda jika usahanya digaungkan di bursa dan akan menuntun banyak pemuda lainnya untuk menjadi pelaku bisnis dengan tanpa kekhawatiran yang berlebih akan ketersediaan modal. Keenam, mungkin juga bursa perlu masuk bursa (demutualisasi) sehingga bursa dapat dimiliki masyarakat lebih luas. Jika proses demutualisasi ini terjadi, itu akan menarik stakeholder secara luas.

 

Jika saja harga saham bursa turun, maka tentunya imbasnya pada bursa secara keseluruhan akan besar. Namun, jika secara time weight, harga sahamnya naik, maka itu akan memberikan juga informasi positif berkenaan dengan perkembangan pasar modal selama ini. Stakeholder yang melimpah mungkin merepotkan, tetapi itu setidaknya dapat menunjukkan ‘tanda cinta’. Hanya saja, apakah bursa harus masuk bursa, itu tidaklah semata pertimbangan untuk melikuid- kan pasar, tetapi tetap sebagai pertimbangan bisnis.

 

Harga Bergerak Dinamis

Pada dasarnya, pasar yang likuid membuat harga akan bergerak dinamis. Ini mencerminkan semua informasi dan harapan (juga gosip/rumor/issue). Harga yang bergerak menunjukkan pasar tersebut efisien dan berada dalam situasi dimana banyak yang percaya. Itu menunjukkan sesuatu yang riil. Bagaimana jika harga tersebut digerakkan oleh rumor? Secara lelucon pelaku menyebut itu sebagai real-gosip-price.

 

Dengan banyaknya pelaku pasar, maka bias gosip akan mengecil; dimana masing-masing pihak memiliki gosip tersebut, dan pada akhirnya menjadi informasi umum saja. Artinya, tidak ada yang berlebihan dan abnormal return/loss akan terdistribusi bagi banyak pihak. Karpov (1986) menyatakan trading bersumber dari disaggrement in belief atau secara sederhananya makin banyak rumor makin sedap.

 

Tentu saja rumor yang berkualitas- lah yang semestinya memenangkan harga. Sebagai leading indicator perekonomian maka pasar modal sudah sewajarnya semakin likuid dan meluas, dan pada akhirnya menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

 

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen Kwik Kian Gie School of Business Jakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN