Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

PBHMI Luncurkan Buku Melawan Korupsi Di Banten

Anis Rifatul Ummah, Selasa, 25 Maret 2014 | 12:57 WIB

TANGERANG- Mengikuti gerak sejarah Indonesia, yang terkait dengan sejarah wilayah Banten, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI) akan meluncurkan buku "Melawan Korupsi Di Banten" karya Ananta Wahana yang membawa semangat perlawanan Eduard Douwes Dekker lewat bukunya “Max Havelaar”.

“Ibarat 'Max Havelaar Jilid Dua', buku 'Melawan Korupsi Di Banten' ini menjadi momentum atas perubahan yang diharapkan terjadi untuk menuju Indonesia yang lebih baik," kata Rudy Gani, Ketua Bidang Politik PB HMI dalam rilisnya Selasa (25/3).

Buku “Melawan Korupsi Di Banten” sendiri akan diluncurkan Rabu (26/3) di Gedung Serbaguna, Islamic Center, Tangerang. Selain PBHMI peluncuran ini didukung oleh Banten Crisi Center (BCC), Front Max Havelaar (FMH), Serikat Guru Tangerang (SGT), dan Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa).
 
Menurut Rudy Gani, peluncuran “Melawan Korupsi Di Banten” oleh PBHMI digunakan sebagai momentum perubahan. Buku ini merupakan kompilasi pernyataan Ananta Wahana, yang merupakan anggota DPRD Banten sejak 2010, di media cetak ataupun online terkait dengan korupsi di wilayahnya.

“Ananta bisa dianggap sebagai tokoh perubahan yang melawan arus deras pada saat itu di Banten. Dan langkah ini harus secara moral disebarkan ke mana-mana,” ujar Rudy.
 
Oleh karena itu, beberapa tokoh perubahan versi PBHMI dihadirkan sebagai pembicara dalam peluncuran buku ini. Pemilihan pembicara ini, menurut Rudy, berdasarkan seleksi agar makna “Max Havelaar Dua” juga terjadi.
 
Mereka yaitu, Letjen TNI (Pur) Suryo Prabowo (mantan Kasum TNI), Hermawi Taslim (Caleg DPR-RI Dapil Banten dari Partai Nasdem), Rahmad Pribadi (Caleg DPR-RI Dapil Yogyakarta dari Partai Golkar), KH Maman Imanulhaq (Caleg DPR-RI Dapil Jabar dari Partai PKB), Zuhairi Misrawi (caleg DPR-RI Dapil Jatim dari Partai PDIP), Ade Irawan (Koordinator ICW) dan pimpinan KPK.
 
“Kami sebagai organisasi juga ingin berubah tanpa melupakan sejarah kelam propinsi Banten dan juga Indonesia yang dilanda tsunami korupsi pada dua tahun belakangan ini.  Kami tidak ingin melupakan sejarah. Dengan kondisi seperti ini, sesulit apapun perubahan itu dilakukan, bersama organisasi penyelenggara lainnya, kami bertekad untuk terus maju demi Indonesia satu tak terbagi,” ujar Rudy.
 
Max Havelaar adalah sebuah novel karya berdasarkan fakta yang ditulis oleh Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker. Karya yang ditulis di Belgia pada tahun 1860-an ini berisi tentang penindasan, kerja paksa dan korupsi yang dialami oleh rakyat Kabupaten Lebak di mana bupatinya adalah seorang pribumi. Eduard Douwes Dekker sendiri menjabat sebagai asisten residen Karisedan Lebak ketika penindasan dan kerja paksa itu berlangsung.
 
Buku ini mengundang reaksi keras dari masyarakat Eropa dan membuat malu Pemerintah Hindia Belanda. Buku ini pula yang akhirnya menjadi inspirasi berdirinya organisasi dan gerakan kebangsaan pribumi pada masa itu. (*/gor)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA