Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
MRT Jakarta. Foto ilustrasi: jakartamrt.co.id

MRT Jakarta. Foto ilustrasi: jakartamrt.co.id

Pencapaian Infrastruktur

Sabtu, 13 April 2019 | 10:06 WIB

Harus diakui, selama empat tahun lebih masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur adalah prestasi yang layak diapresiasi. Langkah berani dan terobosan-terobosan yang dilakukan Presiden Jokowi membuat berbagai hal yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin.

Lihat saja proyek mass rapid transit (MRT) Jakarta yang diresmikan bulan lalu. Proyek itu sudah dicanangkan berpuluh tahun, maju-mundur, namun tak kunjung terealisasi. Lewat kepemimpinan Jokowi, MRT yang kini menjadi kebanggaan bangsa itu telah membuka lembaran dan peradaban baru dalam dunia transportasi berbasis rel. Kereta api super cepat Jakarta- Bandung adalah terobosan berani Jokowi yang lain, di samping pembangunan Bandara Kertajati.

Jokowi pula lah yang mendobrak berbagai proyek, baik jalan tol, pelabuhan, bandara, dan infrastruktur lain yang dulunya mangkrak.

Proyek-proyek tersebut mandek dengan berbagai alasan, mulai dari sulitnya pembebasan lahan hingga nilai investasi yang dianggap tidak menguntungkan. Oleh Jokowi, proyek tersebut dicarikan solusi dan dilanjutkan, apapun kendala yang dihadapi oleh para kontraktor.

Presiden juga mengerahkan dan mengoptimalkan peran badan usaha milik negara (BUMN) bidang infrastruktur untuk mengebut berbagai proyek infrastruktur strategis. Lewat menteri BUMN, BUMN Karya tersebut dipaksa, diultimatum, dan diberi batas waktu. Alhasil, proyek-proyek BUMN tersebut bisa diselesaikan tepat waktu dan menjadi pundipundi keuangan bagi BUMN yang bersangkutan.

Pemerintah pun tidak pelit dalam menggelontorkan dana untuk infrastruktur. Anggaran infrastruktur dalam APBN terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan. Selain itu, pemerintah juga melakukan penyertaan modal negara (PMN) pada berbagai proyek infrastruktur. Dan yang patut diacungi jempol, pemerintah banyak membangun jaringan infrastruktur di daerah terluar, terpencil, dan terisolasi.

Tingginya komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur kini dapat dirasakan oleh masyarakat. Selain berbagai proyek monumental seperti MRT, LRT, dan KA Super Cepat, beberapa pencapaian yang patut dicatat adalah pembangunan 947 kilometer (km) jalan tol, 3.432 kilometer jalan biasa, 134 unit jembatan gantung, 755 km jalur kereta api baru, 10 bandar udara baru, 19 pelabuhan baru, infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring, 65 bendungan, 860 ribu hektare jaringan irigasi, dan banyak lagi.

Pilihan pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur memang tepat. Sebab, Indonesia relatif jauh ketinggalan dalam penyediaan infrastruktur disbanding negara tetangga. Kelemahan infrastruktur inilah yang selama ini menjadi keluhan investor, sehingga peringkat daya saing Indonesia kerap disalip oleh negara-negara kompetitor.

Pembangunan infrastruktur mampu mendorong konektivitas, memperlancar distribusi barang dan jasa, memangkas biaya logistik, serta dapat menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan infrastruktur juga bakal merangsang daya saing antardaerah, mewujudkan rasa keadilan, meningkatkan produktivitas masyarakat, menaikkan daya saing perekonomian nasional, serta menciptakan lapangan kerja secara masif Daerah-daerah yang tertinggal dan terisolasi akan semakin terangkat jika ditunjang oleh infrastruktur yang memadai.

Sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat akan bermunculan dan menaikkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, kesenjangan pendapatan yang selama ini menjadi masalah krusial di Indonesia, bisa diperkecil.

Itulah sebabnya, siapapun presiden terpilih nanti, pembangunan infrastruktur tetap harus menjadi prioritas, di samping secara parallel membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Namun perlu diingat, pemerintah jangan hanya terfokus membangun infrastruktur kota-kota besar atau wilayah yang sudah maju seperti di Jawa. Justru pemerintah harus memprioritaskan pada wilayah-wilayah kantong kemiskinan agar tidak terjadi kecemburuan sosial.

Infrastruktur yang bagus akan membuka potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar lagi. Dengan kata lain, jika infrastruktur nasional lengkap, memadai, dan canggih, maka tidak sulit bagi ekonomi negeri ini untuk tumbuh minimal 6%. Infrastruktur yang baik mampu mengakselerasi pertumbuhan dan menciptakan dampak berantai (multiplier ef fect) bagi perekonomian. (*)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN