Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pengembangan B100 akan Tingkakan Konsumsi Minyak Sawit

Damiana Simanjuntak dan Tri Listiyarini, Jumat, 15 Maret 2019 | 12:30 WIB

Sementara itu, pengembangan B100 di Indonesia akan meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik secara sangat signifikan. Pemanfaatan biodiesel, B30 hingga B100, telah dirancang pemerintah. Balitbang Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku telah sukses melakukan riset pemanfaatan minyak sawit untuk B100.

“Gapki mendukung upaya menaikkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri. Untuk B100 tentunya kita masih menunggu kebijakan pemerintah (Kementerian ESDM)," kata Direktur Eksekutif Gapki Mukti Mukti Sardjono.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Bernard A Riedo mengatakan, proses pengujian untuk pelaksanaan B30 masih berlangsung dan diharapkan bisa terlaksana, setidaknya sesuai target awal yang ditetapkan pemerintah.

Sedangkan penggunaan B100 mungkin saja dilakukan, meski ada pendapat yang meragukan implementasinya untuk kendaraan. Alasannya, platform kendaraan di masa depan diprediksi lebih mengarah pada mobil listrik. "Untuk menghasilkan listrik dibutuhkan bahan bakar. Bahan bakarnya menggunakan biodiesel," kata dia.

Secara terpisah, peneliti sawit senior Hasril Hasan Siregar mengatakan, level produksi CPO nasional belum mampu untuk B100 karena masih perlu untuk alokasi kebutuhan domestik dan ekspor. Namun demikian, program B30, B50, dan B100 perlu terus dipacu untuk meningkatkan penyerapan CPO dan posisi tawar bagi kestabilan harga yang baik.

"Bila mandatori B20 saja butuh 6-10 juta ton CPO per tahun maka B100 akan butuh 30-50 juta ton CPO per tahun. Saat ini, level produksi CPO masih sekitar 40 juta ton per tahun. Ini belum mampu utk B100 karena masih perlu untuk alokasi kebutuhan domestik dan ekspor. Soal perlu tidaknya pengurangan ekspor tergantung dinamika produksi dan dinamika pasar," ucap Hasril.

Untuk menggenjot produksi, menurut dia, perlu peremajaan dengan bibit unggul yang menghasilkan produktivitas tinggi. Di sisi lain, perlu pelaksanaan kultur teknis yang baik (good agriculture practices), sehingga realisasi produktivitasnya mencapai 5-8 ton CPO per ha per tahun.

"Artinya, dengan luas tanaman menghasilkan (TM) 10 juta ha saja dapat diperoleh produksi 50-80 juta ton CPO per tahun. Tentu diutamakan untuk pangan dulu. Penyerapan untuk energi dapat diatur sesuai situasi dan kondisi, misalnya kurang untuk memasok B30, B50 atau B100. Ya diatur saja, misalnya hanya Jawa dan Sumatera dulu. Kalimantan dan Sulawesi tetap B20 terlebih dahulu," papar Hasril. (*)

BAGIKAN