Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pergerakan IHSG Pekan Ini Takkan Terlalu Tajam

Senin, 19 Maret 2018 | 13:22 WIB

Analis OSO Sekuritas Rifqiyati memprediksi pergerakan IHSG pekan ini tidak akan terlalu tajam, berada di kisaran level 6.220-6.323. Namun, karena belum ada faktor yang mendukung, pergerakan indeks akan cenderung melemah.



Namun demikian, jika suku bunga acuan FFR jadi dinaikkan, dia berharap hal itu dapat menjadi sentimen positif yang mendorong kenaikan IHSG. "Kemungkinan ada penguatan IHSG setelah The Fed menaikkan suku bunganya. Adapun sentimen rupiah masih dicermati pelaku pasar," tutur dia.

Menurut dia, kebijakan proteksionisme AS tidak akan berdampak besar ke Indonesia karena persentase ekspor baja dan aluminium Indonesia ke AS tidak besar. Berbeda dengan Tiongkok dan sejumlah negara lain yang terkena dampak langsung dari kebijakan Negeri Paman Sam ini.



Dia juga melihat kemungkinan terjadinya perang dagang yang membahayakan perekonomian global jika negara-negara yang terkena dampak proteksionisme AS mengambil kebijakan yang sama terhadap AS. Jika hal itu terjadi, Indonesia kemungkinan akan menjadi negara penerima sejumlah komoditas limpahan tersebut.



Sementara itu, depresiasi rupiah akan menahan pertumbuhan laba emiten yang punya utang berbasis dolar AS atau emiten yang tergantung pada bahan baku impor. “Misalnya sektor consumer goods dan sektor pertambangan akan terpengaruh apabila rupiah terus melemah. Akibatnya, beban utang dan biaya operasional akan naik dan menekan margin perusahaan,” kata dia.

Di tengah pergerakan indeks yang belum stabil, Rifqiyati menyarankan investor untuk masuk ke pasar lewat saham-saham defensif. "Pilih saham defensif atau saham yang memiliki korelasi berbanding terbalik dengan rupiah, serta memiliki utang yang rendah dalam dolar," jelas Rifqiyati.



Menurut dia, beberapa sektor yang dapat dicermati investor adalah sektor konsumer, dengan potensi technical rebound pada saham HMSP dan UNVR. Dua saham lainnya yang cukup menarik untuk dicermati adalah SRIL dan BKSL. (ant/jn)



Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/ekonomi-as-sudah-stabil/173347

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN