Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Personal Finance, Jebakan Utang

Oleh Said Kelana Asnawi, Kamis, 12 November 2015 | 06:03 WIB

Utang merupakan bagian dari kehidupan hampir seluruh masyarakat. Banyak sisi baik dari utang, walaupun juga tak sedikit sisi buruknya.

 

Saat ini, banyak sekali pesan singkat yang mengiming-imingi utang yang dapat membuat kita gelap mata, seolah-olah itu dapat memberikan kemudahan hidup. Padahal, jika tidak berhati-hati, utang dapat merupakan jebakan.

 

Contoh terbaru adalah bomber Alam Sutera yang terjebat tindakan kriminal, salah satu sebabnya karena tersangkut utang. Sisi baik utang adalah memudahkan kita untuk mendapatkan keinginan atau kebutuhan, terutama jika kondisi keuangan benar-benar sedang bermasalah.

 

Contoh paling mudah adalah kredit kepemilikan rumah (KPR). Untuk mendapatkan utang, maka perbankan memberikan prasyarat jumlah pendapatan minimal tiga kali dari angsuran. Itu artinya, kita harus mendisiplinkan diri dan membiasakan hidup dengan dua pertiga dari pendapatan atau disiplin diri untuk membayar kewajiban kita.

 

Ini bukan hal sulit, tapi juga bukan hal mudah, karena kadang utang memiliki jatuh tempo yang lama, sehingga terasa menjenuhkan. Seseorang akan langsung merasa lega jika utangnya lunas.

 

Disiplin Membayar Kewajiban

Jika kita memiliki sejumlah utang, berarti sisa pendapatan bebas lebih kecil dari dua pertiga pendapatan. Banyaknya utang, bukan menunjukkan kita bisa membohongi kreditor melainkan membohongi diri sendiri. Pada akhirnya, yang mengalami kesulitan adalah diri sendiri, karena kita harus membayar berbagai cicilan tetap, hingga harus menghadapi si penagih yang dapat membuat dirinya stres.

 

Untuk alas an ini, berpikirlah terlebih dahulu untuk tergiur utang, terutama jika kita sudah memiliki utang. Pertimbangkan baik-baik kemanfaatan utang tersebut sehingga memiliki alas an logis untuk melakukannya.

 

Kesampingkan keinginan atau ikuti kebutuhan, dapat menjadi rambu-rambu awal untuk berutang. Selanjutnya tanyakan lagi, apakah utang memang dibutuhkan atau tidak. Pada prinsipnya, salah satu kenyaman hidup adalah jika kita memiliki hanya sedikit tagihan, sehingga kita dapat hidup lebih bebas.

 

Walau demikian, bagi sebagian orang, adanya kewajiban membayar utang dapat memacu adrenalinnya untuk bekerja lebih giat. Kita dapat memilih di area mana yang lebih pas bagi kita.

 

Utang juga akan terasa memberatkan jika beban bunga bersifat mengambang dan konotasinya lebih sering naik. Konsekuensinya cicilan akan meningkat, dan itu akan membuat kita pusing jika pendapatan tetap. Antisipasi untuk hal ini adalah besaran sisa pendapatan yang ada memiliki kelebihan untuk kenaikan cicilan.

 

Pada posisi itu, pihak kreditor biasanya sulit untuk dinego lagi. Maka bekerja lebih rajin dan produktif dapat menjadi solusi yang jitu. Jadi terus mengupayakan portopolio pendapatan, semangat, optimistisme, dan menjaga kesehatan dapat sebagai upaya mengimbangi kenaikan cicilan. Rajin menabung dan berinvestasi merupakan tindakan komplementer yang sempurna. Kreditor (pemberi pinjaman) menerapkan angsuran secara rutin kepada debitor, biasanya bersifat bulanan. Hal ini untuk kemudahan bagi kedua pihak.

 

Secara teoritis, sebenarnya jumlah bunga dibayarl lebih tinggi dibandingkan jumlah bunga dibayar. Makin sering dicicil, makin banyak bunganya. Hal itu karena makin sering dicicil, berarti bayar pokok utang dalam nominal kecil, sehingga sisa pokok utang dalam nominal besar. Jadi jika Anda mampu membayar dalam jumlah yang besar itu alternatif yang lebih menguntungkan dibandingkan jumlah yang kecil.

 

Jika kreditor sering menggunakan jargon cicilan ringan, itu sebenarnya merujuk pada besaran cicilan Anda, tapi tidak berarti beban Anda diringankan. Ahli perencanaan keuangan menasehati, agar disiplin membayar kewajiban tetap adalah tindakan pertama yang harus dilakukan.

 

Sisa dari pembayaran utang itulah baru dipakai untuk keperluan sehari-hari. Jadi bukan memenuhi pengeluaran sehari-hari terlebih dahulu, barulah membayar utang. Jika ini terjadi, maka ada peluang kita tak akan mampu membayar utang.

 

Menjadi Kuadran Investasi

Utang dalam jangka panjang biasanya menjenuhkan. Jika mendapatkan bonus, pertimbangkanlah bonus tersebut dimanfaatkan sebagai bagian untuk pelunasan awal utang. Kekurangan uang pelunasan dapat diupayakan dengan utang baru, dengan nilai nominal yang lebih rendah serta jatuh tempo yang lebih cepat.

 

Memang pada tahun-tahun awalnya, kita tak mendapatkan manfaat dari pelunasan utang serta uang bonus. Tetapi setelah itu, kita akan terbebas dari utang, seperti yang dinyatakan tadi seolah mendapatkan kenaikan gaji. Anda bisa mempertimbangkan kenaikan gaji ini untuk berbagai hal.

 

Seiring waktu, biasanya pendapatan akan meningkat, sehingga dirasa utang yang ada tidak memberatkan lagi. Anda mungkin mempertimbangkan untuk utang baru, tapi sebaiknya bertanya lagi, apakah hal itu memang suatu kebutuhan?

 

Jika tidak, mungkin Anda dapat memanfaatkan kelebihan pendapatan untuk hal yang lebih produktif, memindahkan kuadran konsumsi menjadi kuadran investasi. Utang dapat dijadikan sebagai bagian pendanaan, komplemen bagi modal sendiri. Mungkin tidak semua orang berbakat menjadi pengusaha, tetapi tetap terdapat peluang melalui penyertaan modal pada usaha-usaha terpilih.

 

Di sini faktor kewaspadaan harus ditingkatkan, karena banyak iming-iming investasi (penyertaan modal) dengan imbal hasil (return) yang tidak wajar. Nasehat orang tua yang harus diingat adalah: yang terlalu manis, biasanya terasa pahit.

 

Saham adalah investasi berisiko, sehingga imbal hasil saham dapat dijadikan cermin sebagai batas atas. Kelebihan uang tersebut dapat diinvestasikan pada ORI, diwakilkan pada manajer investasi terpilih untuk diinvestasikan pada reksadana, atau mencoba memiliki franchise pilihan. Perhatikan juga konsekuensi dari investasi tersebut memiliki peluang gagal sehingga jika mempergunakan utang, imbal hasil tidak dapat untuk menutupi utang. Anda harus mempunyai back-up dana, setidaknya tidak boleh aktiva Anda ada dalam incaran kreditor.

 

Salah satu aktiva utama itu adalah tempat tinggal. Untuk kepentingan investasi pun, sebaiknya kita tidak menjadikan rumah sebagai agunan. Bagaimana jika berutang untuk mendanai pendidikan? Apakah ada pihak kreditor yang bersedia dengan jaminan ijazah yang akan diterima? Hal ini dapat dipertimbangkan secara luas oleh stakeholder, sebagai bagian memajukan bangsa.

 

Lalu, bagaimana dengan nasib para pensiunan? Pada sebuah buku teks manajemen risiko, ditunjukkan skor yang lebih tinggi untuk para pensiun dibandingkan juniornya. Para pensiun diyakini memiliki banyak uang, sehingga memiliki penilaian yang tinggi di mata lembaga keuangan. Bagaimana dengan para pensiun di Indonesia? Semoga di Hari Pahlawan ini kesejahteraan para pensiunan semakin baik, sehingga tidak lagi berutang, melainkan mendapatkannya dari passive income. Boleh berutang tapi semoga tidak terjebak.

 

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen Kwik Kian Gie School of Business Jakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN