Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Perusahaan Itu Ibarat Orkestra

Investor, Senin, 23 November 2015 | 16:48 WIB

Memimpin sebuah perusahaan mungkin perkara biasa. Namun membawa perusahaan keluar dari masa krisis dan menyelamatkan ratusan karyawan dari keterpurukan, bukanlah hal yang mudah. Tapi Wiwiek Dianawati Santoso berhasil melakukannya.

 

Ia bahkan mampu menyulap PT Marga Mandalasakti (MMS) dari perusahaan yang disebut ‘abal-abal’ menjadi badan usaha jalan tol (BUJT) yang diperhitungkan. Wiwiek dipercaya memimpin perusahaan pembangun tol Tangerang-Merak yang diakuisisi Astra Group ini.

 

Mulai 2008, dia mengemban tugas sebagai presiden direktur MMS, setelah sejak 1991 bekerja untuk Astra. PT MMS sendiri berdiri sejak 1989. Astra Group membelinya pada 2005 dengan kondisi perusahaan yang kolaps dan tol yang dikelolanya rusak. Wiwiek mengibaratkan perusahaan sebagai sebuah orkestra atau kelompok musisi yang memainkan alat musik bersama, sedangkan pemimpin perusahaan merupakan dirigennya. Wiwiek harus berusaha menyatukan seluruh pemain music agar instrumen yang dimainkan bisa selaras dan menghasilkan lagu yang indah.

 

“Prinsipnya, sebagai pimpinan, saya cuma dirigen. Saya mengerti cara main musik, kalau disuruh pun bisa. Tapi saya membutuhkan orang lain untuk melakukan semuanya,” kata Wiwiek kepada wartawati Investor Daily Laila Ramdhini di Jakarta, belum lama ini.

 

Wiwiek mengaku mengalami kesulitan saat pertama kali terjun di perusahaan pengelola jalan tol. Ia harus mempelajari berbagai ilmu baru mengenai konstruksi, teknik sipil, dan sebagainya. Namun, dia tidak segan meminta bawahannya untuk mengajarinya banyak hal baru.

 

Selain menakhodai PT MMS, Wiwiek menjabat sebagai direktur PT Astratel Nusantara, anak usaha Astra Group yang focus di sektor infrastruktur. Astratel Nusantara memiliki empat ruas jalan tol melalui kepemilikan saham di empat perusahaan. Pertama, PT MMS dengan kepemilikan 79,31% saham dan memiliki ruas tol Tangerang– Merak sepanjang 72,45 km yang telah beroperasi 100%.

 

Kedua, PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI), dengan kepemilikan 95%, memiliki ruas tol Jombang–Mojokerto sepanjang 40,5 km. Seksi 1 telah beroperasi dan seksi 2-4 sedang dalam proses pembebasan lahan, dan pararel seksi 2-3 dalam proses konstruksi.

 

Ketiga, PT Marga Trans Nusantara (MTN), dengan kepemilikan 40%, memiliki ruas tol Serpong-Kunciran sepanjang 11,25 km, yang sedang dalam proses pembebasan lahan. Terakhir, PT Trans Marga Jateng (TMJ), dengan kepemilikan 25%, memiliki ruas tol Semarang–Solo sepanjang 72,64 km.

 

Apa kiat Wiwiek D Santoso sehingga ia mampu membangkitkan PT MMS yang sudah tiarap? Mengapa ia mengibaratkan perusahaan sebagai orkestra? Bagaimana gayanya memimpin perusahaan? Berikut petikan lengkap wawancara dengan perempuan kelahiran Malang, 25 Januari 1961 tersebut.

 

Bagaimana  perjalanan karier Anda?

Saya masuk Astra Group pada 1991, tapi kebanyakan di

Bidang otomotif. Pada 2008  tiba-tiba saya ditawari memegang tol di bawah bendera PT Marga Mandalasakti (MMS). Saya masih bingung karena bukan lulusan teknik, dan ini kan merupakan tol pertama yang dimiliki Astra. Tapi saya pikir tidak ada salahnya mencoba.

 

Kondisi MMS saat Anda bergabung?

Saya masuk pada Agustus 2008, MMS juga belum bagus, jalan tol masih rusak, dan sisi keuangan perusahaan minus. Jadi, banyak yang harus dibenahi. Tapi untungnya, waktu saya datang, timnya masih sangat bersemangat untuk diajak ‘lari’. Banyak anak muda yang punya idealism dan semangat yang tinggi. Saat itu, 80% kondisi jalan tol Tangerang-Merak ini rusak karena sebagian besar berupa beton dan sudah pecah.

 

Cara Anda membawa perusahaan bangkit dari krisis?

Kondisi kami berada di bottom waktu itu. Keuangan minus, jadi mau betulin jalan juga dari mana uangnya? Tapi dalam kondisi itu ada untungnya. Kalau sudah di ‘dasar’, kita nggak ada pilihan lain, mau naik atau diam dan mati di dasar jurang ini. Alhamdulillah, tema-teman bilang, kita harus bangkit, dan akhirnya itu terjadi. Untungnya, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) percaya bahwa kami bisa memperbaiki jalan ini.

 

Tadinya kami janji akan selesai perbaikan pada 2014, tapi ternyata pada 2012 malah sudah bisa beroperasi dengan baik. Dari situ, teman-teman makin bersemangat, ternyata kami bisa. Dan, aura positif terus menjalar. Sampai akhirnya BPJT mengakui bahwa MMS dalam industri jalan tol dari abal-abal menjadi yang terbaik.

 

Langkah yang Anda tempuh saat itu?

Saya coba cari tahu akar permasalahannya. Ternyata akarnya memang kondisi jalan yang buruk, sehingga pelayanan kepada pengguna tidak maksimal. Orang-orang menghindari jalan itu, sehingga traffic menjadi rendah. Langkah pertama yang kami lakukan adalah memperbaiki jalan. Tapi uang dari mana? Akhirnya saya bilang, kita harus keluarkan investasi lagi, tapi ini harus dibantu berbagai pihak, karena bank tidak mungkin percaya memberi pinjaman begitu saja.

 

Jadi, ketika itu BPJT langsung bantu bikin business plan baru. Kemudian kepada pemegang saham, saya menjelaskan kondisi jalan seperti ini, sehingga pertama yang harus diperbaiki adalah jalan. Setelah itu, bank juga mau memberikan pinjaman. Seiring berjalannya waktu, selain memperbaiki jalan, di internal juga kami beresin. Kami menambah orang baru dan menyamakan nilai-nilai perusahaan. Kami tetapkan visi-misi. Kami pegang values yang ada.

 

Semangat apa yang Anda tanamkan ke para karyawan saat itu?

Di Astra Group, kami pakai ‘Catur Dharma’ sebagai falsafah dasar. Jadi, untuk MMS, daripada ambil cari lain, mendingan kami adaptasi aja itu karena toh kami bagian dari Astra. Empat dharma itu adalah menjadi yaang bermanfaat bagi bangsa dan negara, memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan, menghargai dan membina kerja sama, dan selalu berusaha mencapai yang terbaik. Ini menjadi pegangan kami.

 

Gaya Anda memimpin perusahaan?

Prinsipnya, sebagai pimpinan, saya cuma dirigen. Saya mengerti cara bermain musik, kalau disuruh pun bisa. Tapi saya membutuhkan orang lain untuk melakukan semuanya. Tim saya tahu cara memainkan alat musik masing-masing dengan baik. Saya selalu butuh tim. Dan, mereka juga harus tahu kalau mereka nggak bisa main sendiri. Sebab, akan beda hasilnya antara kerja sama dan sendirian. Orang di sini harus punya pikiran ‘kalau sendirian nggak akan berhasil’. Dia bisa main musik, tapi nggak akan seindah kalau bersama.

 

Apa yang menarik dari bisnis jalan tol?

Pengaruhnya sangat luas. Kalau kita punya tol bagus, yang menikmati adalah masyarakat luas. Di samping itu, dengan adanya infrastruktur, perkembangan suatu wilayah akan sangat luar biasa cepat. Banyak industrial estate dan real estate yang tumbuh di sekitarnya, termasuk industry pariwisata, kalau di Banten misalnya Anyer.

 

Perkembangan bisnis Astratel sebagai induk MMS?

Kalau MMS hanya mengelola satu jalan, yaitu Tangerang-Merak. Tapi di Astratel, kami punya yang lain, seperti Marga Trans Nusa yang akan membangun tol Serpong- Kunciran. Ada juga tol Semarang-Solo yang sedang pembangunan seksi III dan akan selesai tahun depan. Terakhir, Marga Harjaya Infrastruktur yang membangun tol Mojokerto-Jombang, ini juga akan selesai tahun depan.

 

Jadi, Astra sudah pegang empat ruas tol. Yang jelas, kami dari Astra semakin percaya diri dan berkomitmen untuk membangun infrastruktur jalan tol. Pemerintah juga minta swasta mendukung pembangunan, karena kemampuan pendanaan pemerintah untuk membangun infrastruktur minim.

 

Apa kesulitan terbesar dalam membangun tol?

Masalah klasik, pembebasan lahan. Untuk membangun tol baru, pembebasan lahan sangat sulit. Pak Jokowi (Presiden) saja sudah mengeluarkan paket deregulasi, seperti peraturan presiden (perpres) untuk pembebasan lahan. Tapi di lapangan ada saja hambatan dalam pembebasan lahan. Sebagai investor, kami memang tidak ikut membebaskan lahan. Tapi kami baru bisa membangun jalan kalau sudah ada lahan.

 

Cara Anda membagi waktu dengan keluarga?

Sekarang sudah lebih baik karena anak-anak sudah dewasa. Jadi, lebih bagaimana mengatur waktu bersama suami. Tapi waktu anak-anak masih kecil, ini sangat struggling. Jadi, harus setting prioritas saja. Ini butuh komitmen untuk menjalankannya dengan baik. Kalau menjalankan tanpa keluarga juga tidak bisa.

 

Kebetulan saya suka bikin kue, sehingga saya rutin bikinkan ketika keluarga sedang  berkumpul. Sejak awal bekerja, saya sudah berkomitmen bahwa weekend adalah waktu untuk keluarga. Kadang kalau hari minggu terpaksa kerja setengah hari, saya bawa anak. Tapi sebisa mungkin saya hindari kerja di akhir pekan, karena it’s the only time I can spend with my family.

 

Apa filosofi hidup Anda?

Saya sih lakukan semua sebaik mungkin. Kalau sudah komit melakukan sesuatu, saya harus melakukan yang terbaik untuk itu. Waktu tidak bisa berulang. Kalau tidak dijalani dengan sebaik-baiknya, maka kita akan kehilangan (kesempatan). Dan, tidak ada hal hal yang terlalu kecil untuk dilakukan. Saya selalu pesan kepada anak-anak, jangan meremehkan hal kecil, karena itu akan menjadi hal besar. (*)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/kegiatan-spiritual-demi-seimbangkan-hidup/133317

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA