Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

PSI: Agus Sukses Kendalikan Inflasi, Perry Stabilkan Rupiah!

Kamis, 24 Mei 2018 | 12:36 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA—Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyambut baik pelantikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo hari ini. Tugas berat pertama Perry yakni menstabilkan nilai tukar rupiah yang melewati Rp 14.000 per US$.


“PSI mengucapkan selamat. Tugas berat pertama beliau, stabilkan rupiah,” ujar Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo di Jakarta, Kamis (24/5) .


Rizal mengatakan, yang terpenting rupiah mengalami stabilisasi guna memberi kepastian bagi dunia usaha.


Ia mengatakan, tugas ini memang berat bagi Gubernur BI yang baru sebab tidak mudah menjinakkan amukan dolar saat ini. “Yang kena dampak ‘amukan’ dolar ini kan tak hanya rupiah, mata uang lain juga kenah dampaknya. Ini tren global. Kita melawan tren seberapa kuat kita. Kedua, dolar pulang kampong sebab ada perbaikan secara struktural dan fundamental di perekonomian Amerika Serikat. Jadi bukan hanya faktor kebijakan moneter atau finance sector-nya Amerika tapi juga ada perbaikan real sector-nya. Fundamental sekali jadinya,” ucap dia.


Sementara itu, PSI mengapresiasi kinerja mantan Gubernur BI Agus Martowardojo. PSI menilai Agus mampu mengendalikan inflasi setiap kali merespon kebijakan pemerintah. “Beliau sukses mengendalikan inflasi untuk dua Presiden,” imbuh Rizal.


Sebagaimana diketahui Agus menjabat sebagai Gubernur BI untu Presiden SBY dan Joko Widodo (Jokowi). Kedua pernah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pada Agustus 2013, inflasi tahunan (year on year) mencapai 8,79% sebagai dampak kenaikkan harga BBM bersubsidi menjadi Rp6.500 per liter dari Rp4.500 per liter.


Pada 18 November 2014, pemerintahan Jokowi juga menaikkan harga BBM bersubsidi menjadi Rp 8.500 per liter dari sebelumnya Rp6.500 per liter. Kenaikkan itu membuat inflasi Desember 2014 meningkat hingga 8,36% (year on year).


Menjawab kenaikkan tersebut, Agus Martowardojo menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) hingga 7,5% per November 2013. Pada November 2014, Agus kembali menaikkan suku bunga ke level 7,75%. Pada tahun 2015, Agus kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate dan diturunkan hanya sekali yakni pada Februari menjadi 7,5 %.


Kerja keras Agus mulai terasa pada 2016. Inflasi mulai terkendali sampai saat ini di kisaran 4%. Sebab inflasi membaik, BI dengan enteng menurunkan suku bunga acuan hingga empat kali dalam empat bulan berturut-turut menjadi 5,5% pada April 2016. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN