Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Husein Heikal, Peneliti Economic Action (EconAct) Indonesia

Muhammad Husein Heikal, Peneliti Economic Action (EconAct) Indonesia

Pusaran Suram Ekonomi Global

Muhammad Husein Heikal, Rabu, 24 April 2019 | 08:28 WIB

Prospek ekonomi global tahun ini dikabarkan menyuram. Lembaga Moneter Internasional (IMF) melihat lebih banyak risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global. IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3%. Penurunan ini menyambung tren penyusutan sebelumnya, dari 3,7% menjadi 3,6%. Perlu diingat ini adalah angka pertumbuhan ekonomi global terlemah sejak 2009 (The Economist, 9/4).

Angus Deaton mengingatkan bahwa tren pertumbuhan global sebenarnya telah melambat sejak tahun 1970. Perlambatan dari masa lalu ini membuat banyak kesulitan. Peraih Nobel Ekonomi 2015 ini juga mengatakan bahkan sejak Perang Dunia II, dunia telah sibuk memulihkan dan membangun kembali ekonomi di negara masing-masing (ProjectSyndicate, 13/3). Ironisnya hingga kini kita masih menghadapi bermacam kesulitan.

Ada beberapa kekhawatiran atau risiko terhadap ekonomi global di tahun ini. Pertama, melambatnya pertumbuhan di negara-negara mapan, seperti Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan terutama di Eropa. Ekonomi AS diprediksi hanya tumbuh sebesar 2,5% pada tahun ini, menyambung pelemahan dari 2,9% pada tahun lalu. Kebijakan perdagangan internasional Presiden AS Donald Trump ialah biang keroknya. Neraca transaksi berjalan AS defisit US$ 621 miliar tahun lalu. Bahkan ProjectSyndicate (14/3) menganalogikan Trump dengan Don Quixote. Tokoh cerita legendaris karya Cervantes itu melawan kincir angin, namun Trump melawan defisit perdagangan.

Kedua pertempuran itu tidak masuk akal, tetapi setidaknya Don Quixote diwarnai dengan idealisme. Trump basah kuyup karena ketidaktahuan. Tiongkok tak jauh beda nasibnya. Ekonomi negeri Tirai Bambu itu hanya tumbuh sebesar 6,6% pada tahun 2018. Angka ini memang cukup melampaui prediksi para analis yang mengatakan ekonomi Tiongkok hanya mampu mencapai 6,4%. Sayangnya, walau cukup jauh melampaui prediksi, 6,6% merupakan angka pertumbuhan ekonomi Tiongkok terlambat dalam 28 tahun terakhir (sejak 1990). Rendahnya angka ini menambah redup prospek pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya putaran roda perekonomian Tiongkok memberi dampak terhadap sepertiga pertumbuhan ekonomi global.

Komisi Eropa juga turut memangkas proyeksi pertumbuhan zona euro di tahun ini. Langkah ini diambil melihat Jerman, sebagai sumber ekonomi terbesar Eropa, mengalami perlambatan. Ekonomi Jerman hanya tumbuh 1,5% di 2018, merupakan level terlemah lima tahun terakhir. Ditambah dengan protes di Prancis turut membebani ekonomi Eropa. Komisi Eropa memperkirakan Uni Eropa (UE) akan tumbuh 1,3%, meleset jauh dari perkiraan awal yakni 1,9%.

Kedua, perang dagang AS dan Tiongkok terus berlangsung. Perang dagang ini bisa dikatakan telah menjadi pemicu utama yang mempersuram prospek perekonomian global. Walaupun sempat ada secercah harapan, ketika Trump mengatakan tentang adanya kemajuan menuju persetujuan dengan Tiongkok. Namun saat itu juga Trump membantah kalau AS akan mempertimbangkan pencabutan tarif atas barang-barang impor dari Tiongkok.

Dampak perang dagang ini tentu menyebar ke berbagai negara, terutama negara-negara yang memiliki kerja sama dagang dengan Tiongkok maupun AS. Kita lihat misalnya Jepang. Angka ekspor Jepang menurun drastis. Ini karena Jepang banyak memproduksi peralatan dan suplai yang akan digunakan oleh pabrik-pabrik di Tiongkok. Di saat ekonomi Tiongkok melambat, otomatis memberi dampak perlambatan ekspor (barang-barang modal) Jepang. Akibat dari dampak ini, kerentanan Jepang menuju resesi kian melebar.

Ketiga, timbulnya konflik perdagangan mengenai kedirgantaraan antara AS dan UE. Kedua pihak mendekati titik puncak dari pertikaian subsidi yang telah digulirkan melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) selama hampir 15 tahun. Awalnya bermula ketika Trump mengancam akan memberlakukan tarif pada produk Eropa senilai US$ 11 miliar. Ini merupakan reaksi atas ketidakadilan subsidi yang diberikan Eropa kepada Airbus, dan menyebabkan kerugian pada AS. Namun tak disangka, Komisi Eropa tak tinggal diam, dan justru menyusun daftar tariff impor AS senilai US$ 22,6 miliar. Ini menjadi sengketa yang kian rumit, apalagi jika benar Eropa menerbitkan tarif ini.

Keempat, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) belum menemukan titik terang. Referendum baru rencananya diagendakan kembali. Padahal sebelumnya referendum telah dilangsungkan pada 23 Juni 2016. Perdana Menteri Inggris Theresa May ingin Inggris tetap memiliki hubungan dagang dengan UE, sementara pihak oposisi mendesak agar Inggris secara total putus hubungan dengan blok tersebut. Adapun tenggat Brexit yang baru ialah pada 31 Oktober. Alhasil Inggris masih berada dalam gelombang ketidakpastian, dan mengarah tanpa kesepakatan (deal or no deal).

Kelima, harga minyak dunia dikhawatirkan bakal melesat terbang akibat ketidakstabilan geopolitik negara-negara produsen minyak. Namun bisa jadi justru kembali anjlok. Fluktuasi harga minyak dunia mirip roller-coaster. Di satu sisi, menurunnya harga minyak dunia merupakan berita yang menggembirakan. Namun di balik kegembiraan itu terselip ancaman: setelah turun, harga minyak akan terbang tinggi kembali. Sepekan terakhir, Brent menanjak di harga US$ 71 per barel, sementara WTI US$ 63 per barel. Pendorong kenaikan harga minyak ialah ekspektasi merosotnya pasokan global karena adanya perang di Libya, salah satu Negara eksportir minyak terbesar.

Kenaikan harga minyak tentu menjadi kekhawatiran besar bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia (net-importir). Konon pula Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) terus berusaha mengurangi pasokan minyak dunia dengan cara memangkas produksi minyak.

Tujuannya tak lain untuk mengerek kembali harga minyak. Bahkan OPEC disebut-sebut akan membuat pasar tahun ini menjadi “defisit pasokan minyak”. Sungguh sebuah istilah yang mengerikan. Namun ke depannya, akibat dari rilis penyusutan ekonomi global dari IMF ditambah dengan keluarnya Rusia dari kesepakatan pemangkasan produksi minyak, diperkirakan akan membuat harga minyak kembali melandai. Begitupun kita tak dapat memastikan, dan sepatutnya tetap waspada.

Menilik kondisi domestik

Setelah pemaparan suramnya prospek ekonomi global, coba kita berkaca pada prospek ekonomi domestik. Badan Pusat Statistik merilis pertumbuhan ekonomi 2018 menanjak menjadi 5,17%. Faktor dominan pertumbuhan ekonomi Indonesia berupa konsumsi tumbuh dengan baik sesuai tren, yakni 5,05%. Investasi juga demikian, tumbuh positif 6,67%.

Anggaran pengeluaran pemerintah juga berhasil menekan angka defisitnya di bawah target dan tumbuh 4,8%. Hal yang masih bermasalah ialah persoalan perdagangan internasional (ekspor-impor) kita. Tahun lalu kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi negatif 0,99%.

Meski ekspor mampu tumbuh 6,48%, namun impor melesat di angka 12,04%. Nilai ekspor yang negative memberi dampak penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara implisit, berbagai kekhawatiran di atas tentu memengaruhi ekonomi dalam negeri. Begitupun itu semua tak memakan porsi yang begitu besar, kecuali dampak dari AS dan Tiongkok, saya kira, kita bisa tetap saja fokus membenahi problem besar kita yakni ekspor.

Selama ini kita mengandalkan migas dan batu bara untuk diekspor. Namun, kini kita tak lagi bisa berharap pada ekspor jenis itu. Kita mesti bergerak menggenjot ekspor di sektor non-migas, terlebih lewat ekonomi kreatif. Di samping itu, kita juga mesti menguatkan ekonomi digital. Investasi dan pariwisata turut pula ditingkatkan.

Ketidakagresifan The Fed mengerek suku bunga pada tahun ini memang cukup menenangkan nilai tukar rupiah. Namun perlu diingat suku bunga Bank Indonesia ahead curve hingga 6% (naik 150 basis poin). Ke depannya, belum satupun yang meragukan bahwa perekonomian Indonesia akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Gejolak, bagaimanapun itu, suatu saat akan kembali tenang. Kehati-hatian adalah kata kuncinya.

Muhammad Husein Heikal, Analis Economic Action (EconAct) Indonesia dan Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN