Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

REI: Permintaan Rumah di Luar Pameran Menurun

Jumat, 21 Juli 2017 | 13:08 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SEMARANG- Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah menyatakan permintaan rumah dari konsumen di luar pelaksanaan pameran mengalami penurunan.

"Jika dibandingkan tahun lalu penurunan permintaan rumah khususnya di Kota Semarang pada tahun ini mencapai 20%," kata Wakil Ketua REI Jateng Dibya K Hidayat di Semarang, Jumat.

Ia mengatakan meski selama ini permintaan rumah melalui pameran masih mendominasi, penjualan di luar pameran juga tetap memberikan kontribusi bagi keberlangsungan pertumbuhan sektor perumahan.

Mengenai penyebab penurunan tersebut, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti.

"Kalau dilihat dari pertumbuhan ekonomi dalam negeri seharusnya daya beli masyarakat makin kuat, tetapi bisa jadi karena beberapa bulan terakhir ini mereka menunda pembelian untuk persiapan Lebaran lalu," katanya.

Meski tidak menyampaikan secara jumlah unit, dikatakannya, kondisi tersebut cukup merugikan para pengembang. Bahkan, banyak pengembang yang akhirnya melakukan promo harga untuk menarik lebih banyak konsumen.

"Mengenai promo harga ini kami bekerja sama dengan perbankan selaku pemberi fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR)," katanya.

Ia mengatakan sejauh ini hampir semua bank memiliki produk KPR, karena jika dibandingkan dengan jenis kredit lain, tingkat kemungkinan gagal untuk kredit pemilikan rumah lebih rendah.

"Dari yang kami lihat, orang sebisa mungkin jangan gagal di kredit rumah dibandingkan kredit lain. Karena rumah kan kebutuhan primer," katanya.

Mengenai penurunan permintaan rumah tersebut, katanya, banyak terjadi untuk rumah tipe menengah dan mewah.

Untuk rumah sederhana dari program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), katanya, kondisinya justru berbanding terbalik dari rumah menengah dan mewah.

"Kalau untuk rumah sederhana ini justru sulitnya di kelayakan KPR. FLPP ini pasarnya tebal, tetapi yang layak memenuhi syarat KPR sangat tipis," katanya.

Meski demikian, pihaknya menyambut baik banyaknya program dari pemerintah yang bersifat memberikan keringanan kepada segmentasi pasar rumah subsidi.

"Seperti program pemilikan rumah dari BPJS Ketenagakerjaan, ini sangat membantu. Bukan hanya untuk rumah sederhana, tetapi diharapkan program ini juga mampu mendongkrak penjualan rumah menengah dan mewah," katanya. (ant/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN