Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Relativitas dalam Ekonomi

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 11 Agustus 2015 | 10:36 WIB

Jika masih ingat kuis who want to be millionare yang kondang itu, kita semua akan ingat emosi yang diaduk-aduk saat peserta memutuskan untuk memilih dengan metode suddent death, berhasil atau hilang, terutama untuk hadiah dengan nominal besar.


Bagaimana peserta mengambil keputusan, ternyata didasarkan pada latar belakang kekayaan (wealth). Untuk peserta dari level atas maka kecenderungannya akan mengambil pilihan suddent death. Sebaliknya, untuk peserta dari yang kurang siap, dia akan menyudahi permainan. Bagi peserta level atas, hadiah yang ada belum cukup besar, sehingga gagal didapatkan tidak mengapa, atau dia menganggap hadiah harus lebih besar lagi.


Sebaliknya, bagi peserta yang biasa-biasa saja, hadiah yang ada sudah sangat besar, sehingga kehilangan hadian itu merupakan sebuah kehilangan besar yang dapat menimbulkan penyesalan seumur hidup. Permainan yang dihadap sama, tetapi nilai risiko dirasa tidak sama.


Karakter Risiko Investor

Kuis di atas sebenarnya menunjukkan pandangan ilmiah setengah abad lalu, ketika ekonom masyhur pemenang Nobel, Arrow (1970) dan Pratt (1964), menunjukkan bahwa keputusan investasi tergantung dari sikap/karakter risiko investor serta jumlah kekayaan (wealth) yang dimiliki. Apakah kekayaan yang meningkat, akan menambah investasi pada aset berisiko? Menurut Pratt serta Arrow investasi pada aset berisiko meningkat jika level kekayaan meningkat, walaupun proporsi (persentase) investasi pada aset berisiko bisa meningkat bisa juga tidak.


Berkaca dari teori ini, seyogyanya pelaku investasi adalah kelompok orang kaya, tetapi faktanya, yang banyak teriming-iming justru kelompok yang ekonomi pas-pasan. Sering kita baca atau kita dengar penipuan investasi yang menjanjikan return sangat tinggi dan korbannya adalah orang yang kehilangan sumber hidupnya. Sebaiknya disadari, yang siap naik tinggi, artinya badannya juga kuat seandainya jatuh.


Penyampaian informasi juga ternyata tidak linear, dan dikenal sebagai framing effect. Tulisan Machina (1987) pada jurnal Economics Perspective dapat dijadi contoh. Misalkan ada wabah yang menyebar dan mengancam keselamatan 600 jiwa. Untuk mencegahnya telah diupayakan dua alternatif. Konsekuensi dari program tersebut adalah sebagai berikut: Jika program A yang dipakai 200 orang akan diselamatkan; sedangkan jika program B yang dipakai maka 1/3 akan selamat, sedangkan 2/3 lainnya tidak dapat ditolong.


Riset yang dilakukan menunjukkan 72% responden memilih program A. Perhatikan di situ baik program A maupun Program B sebenarnya sama saja hasilnya. Selanjutnya diberikan pada kelompok yang konsekwensinya ditunjukkan sebagai berikut: Jika program C yang diterima maka 400 orang akan mati, sedangkan Jika program D yang dipakai maka 1/3 akan selamat, sedangkan 2/3 lainnya tidak dapat ditolong.


Riset yang dilakukan menunjukkan 78% responden memilih program D, walaupun program C dan D juga sama, dan sama dengan A dan B. Ternyata responden memiliki keberpihakan terhadap program tertentu padahal bukankah keempat program sama saja? Inilah non-linearitas.


Perhatikanlah kalimat yang dipakai pada program-program tersebut. Kata-kata yang menunjukkan kuatnya harapan lebih merupakan pilihan. Berkaca dari hal ini maka seyogyanya pejabat publik/pemerintah dapat menyampaikan pesan dengan kata-kata yang kuat mengandung harapan, bukan dengan maksud menipu tetapi lebih pada upaya mendapatkan kepercayaan.


Pada pasar modal, ada teori kondang, penghasil hadiah nobel, yakni Hipotesa Pasar Efisien, di mana teori tersebut menunjukkan bagaimana pasar merespons informasi. Berdasarkan relativitas yang dibahas di sini, maka informasi yang diluncurkan tidaklah sama maknanya/responsnya jika waktu peluncurannya berbeda. Informasi yang diluncurkan pada hari Jumat, akan diakusisi pada Senen, dengan kemungkinan menjadi informasi basi. Akan berbeda jika informasi diluncurkan pada Senin sesi perdagangan I.


Dengan demikian pemerintah sebaiknya mengumumkan pada Senin pagi untuk berita yang menggembirakan, dan pada Jumat malam untuk berita tidak menyenangkan. Berita baik sebaiknya disajikan sehingga memiliki efek yang lebih panjang, sebaliknya berita buruk hendaknya tidak dicicil, agar tidak berimbas kemana- mana. Keduanya sama-sama berita, tetapi kemungkinan memiliki respons yang berbeda-beda.


Menjaga Kredibilitas

Pasar keuangan merupakan pasar yang membutuhkan kredibilitas tinggi, di mana kredibilitas ini tidak boleh terganggu sedikit pun. Pada bisnis dengan kredibilitas tinggi, maka dampak berita buruk dapat ditangkap sangat buruk, sebaliknya dampak berita baik hanya ditangkap sebagai berita baik saja.


Untuk hal itu, semua pihak harus berhati-hati menjaga kredibilitas, karena dampak terjadi tidak linear. Pada perpajakan, dengan alasan keadilan tarif pajak berlaku progresif, di mana marjinal tax untuk setiap level pendapatan berbeda. Hal ini terjadi karena kelompok pajak tinggi, mereka juga mendapatkan pendapatan lebih tinggi, dengan sumber daya publik yang sama. Sebaliknya dengan situasi ini, kelompok bawah akan mendapatkan lebih banyak sebagai imbalan untuk meningkatkan derajatnya menjadi lebih tinggi. Hal ini berlaku, jika sebagai mediatornya, pemerintah dapat menjalankan dengan baik.


Relativitas dalam ekonomi/bisnis ditunjukkan pada teori konsumsi dengan istilah marjinal (tambahan). Pada kalangan bawah, konsumsi marjinal tinggi, karena pendapatan hanya mencukupi untuk konsumsi. Hal ini tidak berlaku untuk golongan the have. Karena itu, kebijakan pemerintah dalam hal transportasi, pendidikan serta kesehatan murah dan nyaman, akan mengurangi pengeluaran konsumsi, atau menyebabkan golongan bawah menjadi sejahtera (kaya), walau mungkin tidak terlalu dirasa kelompok the have.


Untuk itu pembebasan pajak atau subsidi kertas buku/alat kesehatan akan mendukung industri tersebut maju dan memberikan tambahan kekayaan bagi masyarakat. Secara umum, fungsi pemerintah menyediakan barang publik, akan meningkatkan kekayaan kelompok rakyat biasa, yang tidak mampu memiliki secara privat.


Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sudah memberikan bukti, betapa banyak pasien yang sudah tertolong meskipun masih belum sempurna. Transportasi massal yang nyaman harusnya menjadi kriteria keberhasilan pemerintah. Tak mengapa kelompok the have menaiki jaguar-sejenisnya, asalkan rakyat tertidur di kereta mengantarnya ke tempat kerja. Kata orang, bahagia itu sederhana.


Fisikawan Einstein sudah menjajakan teori relativitas, dan tampaknya perlu kita pahami. Nilai waktu presiden sangat berharga, tidak sama dengan rakyat biasa. Beliau melihat dari tempat yang tinggi, sehingga semua tampak, namun dalam skala yang kecil. Sementara rakyat biasa melihat dari sudut pandangnya (tempat yang rendah) sehingga tampak skalanya besar. Hal ini bisa menyebabkan skala prioritas, sudut pandang, berbeda antara presiden dengan rakyat biasa. Apakah presiden benar mengambil konklusi? Beri waktu untuk membuktikannya. Berapa lama? Relatif.


Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business Jakarta

BAGIKAN