Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Reputasi dalam Industri Keuangan

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 16 Juni 2015 | 07:58 WIB

Booth & Smith (1986) tercengang melihat kenyataan surat berharga yang masuk pasar modal di Amerika Serikat sebanyak 82% memanfaatkan kontrak firm/full commitment (FC), sekalipun ada pilihan lain, yakni best effort (BE).


Pada kontrak FC, maka underwriter/investment banking (IB) menjalankan fungsi makelarnya 100%, dan siap nombok jika pasar tidak menyerap sekuritas yang diterbitkan. Sebaliknya, pada kontrak BE, maka IB lebih hanya sekadar perlu menjalankan fungsi makelarnya.


Masalahnya, emiten yang meneken kontrak full commitment harus membayar fee lebih mahal, demi kenyamanan, yakni sekuritas terjual penuh. Mengapa emiten tidak memilih kontrak best effort agar fee dibayar lebih murah? Ternyata emiten khawatir akan gagal jual penawaran umum saham perdana (initial public of fering/ IPO). Jadi, emiten bayar mahal itu tidak mengapa, yang penting IPO sukses.


Jadi, menurut Booth & Smith, pemilihan metode FC karena emiten tidak yakin akan ‘kualitas’ dirinya, sehingga ia memerlukan usaha tambahan untuk memasarkannya. Usaha ini dikenalkan oleh Booth&Smith sebagai sertifikasi, certification hypothesis. Seandainya saja emiten percaya diri maka emiten tidak memerlukan sertifikasi. Ketidakpercayaan diri ini dapat disebabkan belum adanya reputasi atau nama baik dari emiten.


Komitmen dan Jaminan

Di Indonesia, semua perjanjian kontrak penerbitan surat berharga haruslah berdasarkan FC, bukan bersifat pilihan. Hal ini terjadi dengan merujuk pada dugaan Booth&Smith bahwa untuk mensertifikasi bukan saja emiten, tetapi juga meyakinkan calon investor.


Para investor perlu diberikan keyakinan bahwa barang yang dijual bagus, investor tidak ditipu. Makelar yang menanggung potensi rugi ini tentunya akan melakukan upaya sertifikasi terbaik.


Soal reputasi dan informasi, ini tidak secara langsung telah dinyatakan oleh pemenang Nobel Ekonomi, Akerloff (1970) yang dikenal dengan Lemon Model. Ia mengibaratkan percampuran jeruk manis dan jeruk masam dengan perbandingan 50:50 dan didapat harga reratanya, misal Rp10.000 per kg. Campuran itu tidak tepat sama, dan seorang pembeli mendapatkan lebih banyak yang masam.


Keesokan harinya dia hanya akan membeli jika harganya menjadi lebih murah. Jika lebih murah, penjual akan menawarkan dengan komposisi jeruk masam yang lebih banyak. Akibatnya, situasi pasar terjadi hanyalah untuk buah masam. Bahasa keren dinyatakan bad goods drive out good goods, barang jelek menendang barang bagus. Apakah akan tetap ada barang bagus?


Sesungguhnya implikasi dari ‘informasi asimetri’ Akerloff ini adalah hipotesis sertifikasi dari Booth&Smith. Ide dari Akerloff dan Booth&Smith ini memiliki implikasi luas dalam bisnis, ekonomi dan kemasyarakatan. Pertama, pada sektor keuangan, implikasi

ini berubah menjadi kredibilitas.


Tanpa kredibilitas, maka sektor keuangan tidak berkembang, atau memerlukan biaya intermediasi yang lebih tinggi. Kredibilitas akan menumbuhkan kepercayaan, dan kepercayaan inilah yang menyebabkan sektor keuangan akan mendapatkan stabilitas.


Bayangkan jika kreditor tidak percaya pada bank maka sudah pasti bank tidak dapat mengembalikan tabungan debitor, dan bank collapse, walaupun bank tersebut sesungguhnya sehat. Kalau kemudian debitor menarik uangnya (rush) itu karena mereka khawatir atau tidak percaya. Mengapa tidak percaya? Hal ini dapat bermuara pada hal sebenarnya atau pun hanya isue. Perlu upaya membentuk informasi yang simetri, agar kredibilitas dunia keuangan menguat, selanjutnya mendapatkan kepercayaan.


Kepercayaan ini akan dibayar berupa rendahnya biaya intermediasi dan tingkat likuiditas yang meningkat. Perhatikan perbedaan suku bunga bank perkreditan rakyat (BPR) dan non-BPR, hal itu dapat juga berkenaan dengan kredibilitas dalam hal pengumpulan/penyaluran dana. Bernanke, mantan bos Federal Reserve, dalam buku teks makroekonominya, 20 tahun lalu menyatakan, pentingnya kredibilitas bank sentral dalam mengatur perbankan, agar sinyal yang dikirimkan bank sentral diikuti dengan arah yang sesuai.


Secara umum industri keuangan adalah industri pengumpul dana dengan iming-iming imbalan untuk investor. Bagaimana investor percaya akan janji tersebut, seharusnya merujuk pada kredibilitas, yang dibentuk dari rangkaian aktivitas terukur, bukan pada janji manis. Kekeliruan janji manis harus dihukum berat agar kredibilitas tidak jatuh. Sebuah industri keuangan akan serta merta jatuh jika terjadi rush/redemption, dan hal itu terjadi karena kepanikan akibat salah satu stakeholder tidak kredibel.


Kedua, secara umum, banyak dedengkot bisnis di dunia menyatakan pentingnya nama baik untuk menjalankan bisnis secara langgeng dan terhormat. Nama baik adalah reputasi tak ternilai, dimana hal itu memungkinkan industri mendapatkan sumber daya (bahan baku) dengan murah, serta kesediaan berbagai stakeholder untuk bekerja sama. Utang-piutang dagang pada umumnya berkenaan dengan reputasi, berupa saling memelihara kepercayaan.


Utang-piutang dagang ini dapat menjadi ‘oli’ bagi bisnis, namun jika tidak berdasarkan reputasi, dapat menggelincirkan semua kendaraan yang melewatinya. Reputasi juga perlu diikuti komitmen dan jaminan, dengan jaminan yang bereputasi. Sebuah jaminan yang tidak dapat dipercaya, dapat menjadi bumerang bagi jaminan selanjutnya. Jaminan itu sebenarnya dapat ditunjukkan secara nyata (tangible) maupun secara persepsi (intangible). Jeruk yang manis akan dijamin dari warna kulit dan tentu saja rasanya.


Sebagian pebisnis menunjukkan rahasianya dengan memberikan lebih dari yang diminta. Atau kalimat pedagang yang tidak asing berikut ini: Anda puas, beritahu teman, Anda tidak puas beritahu kami. Anda dapat mendompleng pada orang lain agar bereputasi, tetapi harus diingat Anda belumlah bereputasi, hingga Anda tidak mendompleng lagi.


Ketiga, reputasi ternyata tidak seperti membangun candi Roro Jonggrang, butuh waktu panjang dengan kerja keras dan kerja cerdas. Wakil rakyat, yang jarang menghadiri rapat sudah memberikan reputasi (buruk); begitu juga slogan tajam ke bawah-tumpul ke atas bagi seluruh insan penegak hukum. Dampak reputasi ini, tercermin rendahnya perilaku taat asas bagi sebagian besar masyarakat.


Pada tatanan yang lebih besar, kelak kita tidak lagi mengenal prestasi dan hukum. Kita memerlukan komitmen besar dan mesti ada satu pihak yang bersedia menarik gerbong ‘kereta’nya, dan memindahkan dari satu stasiun ke stasiun lainnya, jika ingin berubah.


Meningkatkan Kualitas Diri

Booth dan Smith menunjukkan bahwa orang percaya pada kualitas sehingga perlu disertifikasi. Sertifikasi ini akan membedakan (justifikasi) antara dua hal, namun hal itu memerlukan biaya. Sesuatu yang berkualitas secara terus menerus akan merupakan reputasi.


Reputasi ini akan memberikan nilai tambah yang sangat besar. Bangsa Indonesia memang belum bereputasi besar. Namun, kita jangan berkecil hati. Mari meningkatkan kualitas diri, mulai hari ini. Besok, kita akan lebih baik, dan nilai yang kita peroleh juga akan meningkat. Semoga!

BAGIKAN