Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 0

Filename: views/article.php

Line Number: 6

Backtrace:

File: /home/user/investor.id/application/views/article.php
Line: 6
Function: _error_handler

File: /home/user/investor.id/application/controllers/Article.php
Line: 55
Function: view

File: /home/user/investor.id/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/article.php

Line Number: 6

Backtrace:

File: /home/user/investor.id/application/views/article.php
Line: 6
Function: _error_handler

File: /home/user/investor.id/application/controllers/Article.php
Line: 55
Function: view

File: /home/user/investor.id/index.php
Line: 315
Function: require_once

Sabar dan Realistis Pangkal Kesuksesan

(gor/ant), Senin, 4 Maret 2019 | 16:33 WIB

Banyak cara untuk menjadi pengusaha sukses. Tapi ada dua hal yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun yang ingin menjadi kampiun sebagai pengusaha, yaitu sabar dan realistis.

Junius Rahardjo adalah salah satu pengusaha yang percaya bahwa sabar dan realistis merupakan pangkal kesuksesan.

Co-founder & Chief Executive Officer (CEO) Javaplant ini yakin betul bahwa perusahaan yang dipimpinnya sukses karena manajemennya menerapkan nilai-nilai dan filosofi tersebut.

Junius memang potret pebisnis yang sabar dan realistis. Ia tidak mudah tergoda untuk jorjoran berekspansi jika memang bisnisnya dianggap tidak feasible atau di luar kemampuannya.

Berbekal kesabaran dan visi bisnis yang realistis, ia tahu apa yang harus diperjuangkan dan apa yang mesti ditinggalkan.

"Awalnya kami melayani semua permintaan konsumen. Tapi setelah beberapa tahun, ternyata itu sangat membebani perusahaan. Maka kami memutuskan untuk selektif dan lebih memilih beberapa produk sebagai spesialisasi kami," kata Junius kapada wartawati Investor Daily Euis Rita Hartati di Jakarta, pekan lalu.

Tentu saja jiwa realis sebagai pebisnis yang dimiliki Junius terbentuk dan terasah oleh pengetahuan dan pengalaman. "Untuk bisa realistis harus dibantu juga dengan insting bisnis yang kuat. Itu hanya bisa didapat dengan pengetahuan yang cukup tentang industri yang kita tekuni, plus pengalaman," ujar dia.

Javaplant semula dibangun untuk 'sekadar' memasok kebutuhan ekstrak herbal bagi satu perusahaan. Lama-kelamaan, Junius Rahardjo melihat potensi pasar yang luar biasa dari bisnis ini.

Dari sisi supply, dia menilai Indonesia memiliki banyak kekayaan sumber daya alam berupa tumbuh-tumbuhan herbal yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan secara modern.

"Dari sisi demand, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat secara alami, permintaan terhadap produk herbal pun terus menunjukkan tren peningkatan," turur dia.

Berdasarkan keyakinan itulah, Junius terus melakukan ekspansi secara terukur dan realistis. Kini, perusahaan yang dipimpinnya eksis dan terus bertumbuh.

Namun, kepuasan Junius tidak berhenti sampai di sini. Dia masih punya mimpi untuk bisa mengeksplorasi lebih banyak jenis herbal. Junius juga ingin suatu saat Indonesia memiliki ikon herbal yang kuat, yang bisa dikenal di mancanegara, seperti ginseng dari Korea. Berikut penuturan lengkapnya:

Bagaimana awal Anda merintis usaha ini?

Awalnya saya tidak langsung terjun ke dunia herbal. Saya lulus kuliah pada 1996 sebagai sarjana ekonomi dari Amerika. Lalu pada 1997 saya pulang dan mendapat tugas dari ayah saya untuk menjalankan perusahaan teh di Kota Pekalongan. Perusahaannya tergolong kecil. Total penjualannya saat itu sekitar Rp 12 miliar per tahun.

Dulu ayah saya membeli perusahaan tersebut tujuannya untuk memberikan pekerjaan kepada rekannya yang ada di Pekalongan. Tapi rekannya itu kemudian meninggal, sehingga akhirnya saya ditawari untuk mengelola perusahaan tersebut.

Namun, pada 2008 saya memutuskan untuk menjual perusahaan itu. Karena, menurut saya, perusahaan itu tidak bisa berkembang lebih besar. Industri teh sangat kompetitif, sehingga profit margin-nya tidak bisa banyak diharapkan. Maka saya usulkan kepada ayah saya untuk menjual perusahaan tersebut. Ayah saya setuju, setelah saya beri penjelasan.

Setelah itu Anda mendirikan Javaplant?

Sebelum saya menjual perusahaan teh, pada tahun 2000 saya dan kakak saya sudah merintis Javaplant. Saat itu, Javaplant didirikan khusus untuk memasok bahan ekstrak herbal kepada PT Deltomed Laboratories, perusahaan herbal yang memproduksi produk Antangin.

Waktu itu Deltomed sangat membutuhkan pasokan herbal dalam bentuk ekstrak untuk memproduksi Antangin JRG. Penjualan Antagin ketika itu mengalami booming. Iklanyang dibintangi almarhum pelawak Basuki dengan jargon wes ewes ewes, bablas angine waktu itu amat populer.

Deltomed kewalahan, mereka kekurangan bahan herbal. Saat itu tidak semua pemegang saham di Deltomed sanggup investasi perluasan pabrik baru. Akhirnya kami masuk. Setelah Javaplant berdiri, Deltomed sangat terbantu. Sampai sekarang kami masih menjadi pemasoknya. Pada 2003, kami tidak puas hanya memasok Deltomed. Kami mulai berjualan ke luar Indonesia.

Mengapa pasar ekspor yang disasar?

Karena saat itu, kami yakin industri herbal Indonesia belum siap menerima produk Javaplant. Pertama, karena dalam bentuk ekstrak. Kedua, harganya relatif tinggi.

Negara mana saja yang menjadi target Anda?

Kami sasar pasar Amerika pada 2006 dan kami berhasil. Saat itu kami jual ekstrak kayu manis, digunakan sebagai bahan food supplement yang mempunyai indikasi untuk menurunkan kadar gula dalam darah,

Sejak itu, Javaplant banyak menjual bahan ekstrak lainnya ke berbagai negara, seperti Jepang, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa. Sekarang total ada 20 varian.

Kelebihan yang Anda tawarkan dibanding perusahaan kompetitor?

Javaplant memang spesialisasinya memproduksi bahan herbal dalam bentuk ekstrak yang berasal dari tanah Indonesia dan tumbuh di Indonesia. Jadi, kami tidak punya suatu keinginan untuk mengimpor bahan, misalnya dari Korea. Dari awal kami memang fokus untuk mengolah bahan hanya yang ada dan tumbuh di Indonesia.

Saat ini produk yang paling laris adalah pasak bumi yang tumbuh di Kalimantan. Kalau di Malaysia namanya tongkat ali. Produk ini sangat diminati di luar negeri, terutama di Jepang dan Amerika. Justru di Indonesia produk ini kurang laku. Produk nomor dua paling laris yaitu kayu manis, lalu ekstrak temulawak.

Berarti perusahaan Anda juga berhubungan dengan para petani?

Benar. Inilah uniknya perusahaan kami. Tidak hanya B to B (business to business) dengan perusahaan lain, tapi juga dengan petani dan para pengepul. Kami bekerja sama secara dekat dengan para petani dan pengepul.

Kami banyak memberikan pengarahan dan pembinaan kepada para petani, untuk memastikan kualitas barang yang dihasilkan benar-benar baik, sesuai dengan standar yang sudah kami tentukan.

Petani di mana saja yang menjadi mitra Anda?

Sekarang kami tengah membina petani di Dieng untuk menanam purwoceng yang kelak akan menggantikan tongkat ali yang tidak lama lagi habis. Tongkat ali kan tumbuh secara liar. Adanya pun hanya di Kalimantan dan Sumatera. Jadi, dari sekarang kami harus mencari penggantinya. Ini memang proyek jangka panjang, mungkin hasilnya baru bisa dinikmati 10-15 tahun lagi. Ini investasi jangka panjang.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?

Saya memberikan kebebasan kepada direksi, manajemen, dan staf untuk berkreasi. Saya juga memberikan motivasi kepada mereka agar mampu menyampaikan inisiatif.

Saya melihat, dengan memberikan kebebasan ini, mereka jadi semangat bekerja dan lebih betah bekerja di perusahaan. Saya sangat terbuka mendengar masukan, bahkan dari karyawan level terbawah sekalipun. Mereka berlomba-lomba memberikan dedikasi yang lebih baik.

Kunci sukses dan filosofi Anda?

Sebagai pebisnis, saya harus sabar dan realistis. Kalau realistis, saya jadi tahu apa yang patut diperjuangkan dan apa yang patut ditinggalkan. Awalnya Javaplant sempat melayani semua permintaan konsumen. Mereka minta apa, kami penuhi. Omzet tinggi. Tapi setelah dijalankan beberapa tahun, ternyata itu sangat membebani perusahaan. Maka kami memutuskan untuk selektif dan lebih memilih beberapa produk sebagai spesialisasi kami.

Dari sekitar 20 varian, kami unggul spesialisasi di tujuh varian, yaitu jahe, kunyit, temulawak, kencur, sambiloto, kayu manis, dan tongkat ali. Untuk purwoceng, masih kami persiapkan dengan berbagai percobaan.

Cukup dengan sabar dan realistis?

Untuk bisa realistis, harus dibantu juga dengan insting bisnis yang kuat. Itu hanya bisa didapat dengan pengetahuan yang cukup tentang industri yang kita tekuni, mencakup produk, proses produksi, regulasi, pasar, kompetitor, konsumen, dan lainnya, plus pengalaman.

Keunikan bisnis herbal dibanding bisnis lainnya?

Background pendidikan saya memang keuangan, tapi bidang keuangan bagi saya adalah hal yang membosankan. Di herbal itu menyenangkan. Saya bisa  mengobrol banyak dengan pemain herbal, dengan para peneliti, sehingga ketertarikan tumbuh.

Bagi saya, bisnis ini tidak hanya menarik. Memang untuk bisnis herbal, butuh keunikan tersendiri. Produk yang unik bukan artinya susah dicari, tapi bisa juga dianggap unik oleh konsumen. Jadi, satu produk mungkin biasa saja, tapi bagi konsumen tertentu itu unik.

Kalau tidak punya produk unik, kita harus memberi servis yang unik. Kami misalnya memberikan custom packing, atau 100% uang kembali jika tidak puas. Terakhir, milikilah konsumen yang unik. Memiliki konsumen yang unik akan melahirkan harga jual yang 'unik' alias mahal.

Siapa yang menjadi panutan Anda?

Ayah saya, Purwanto Rahardjo.(owner PT Marguna Tarulata APK Farma, produsen obat stamina Pilkita). Beliau adalah role model saya. Ayah saya pekerja keras, jujur, dan supportif terhadap saya, bisnis saya, dan keluarga saya.

Cara kerja ayah saya sangat disiplin. Perhatian beliau sangat luar biasa. Saya sangat bangga dan menghargai beliau. Ayah saya mengajarkan bahwa berbisnis itu tidak boleh 'akal-akalan', harus jujur. Tidak boleh mengompromikan kualitas demi keuntungan.

Proyek penting apa lagi yang tengah Anda kerjakan?

Masih di seputar herbal. Saya tidak punya cita-cita lain selain ingin mengembangkan herbal. Saya ingin kembangkan jenis ekstrak baru, yakni dengan bahan baku segar. Kalau sekarang kan kami menggunakan bahan baku yang sudah dikeringkan. Kali ini saya mau bahan-bahan freshlalu diekstraksi. Dengan mengekstraksi dalam bentuk segar, kami akan mempunyai profil dan aplikasi produk yang berbeda.

Saat ini, untuk pasar domestik, Javaplant lebih banyak memasok obat tradisonal. Sedangkan untuk luar Indonesia, kami memasok food supplement.

Saya ingin Javaplant dalam waktu dekat, ini sekaligus passion saya, masuk ke industri makanan dan minuman. Dengan bahan yang segar itu, Javaplant bisa memasok ke perusahaan makanan dan minuman. Ini adalah tantangan yang baru bagi saya. Pasarnya jauh lebih besar. Itu cita-cita saya.

Obsesi Anda ke depan?

Saya kepingin Indonesia punya ikon herbal yang diunggulkan, misalnya temulawak atau purwoceng. Saya ingin maju duluan untuk memperjuangkan ini. Sifat saya memang ingin menjadi pelopor dan selalu menjadi terdepan. Saya rasa, mungkin temulawak dan purwoceng yang akan terus saya sosialisasikan, terutama ke dunia internasional, tanpa saya harus menunggu rekan-rekan yang lain.***

Baca juga https://id.beritasatu.com/home/rutin-minum-jamu/186189

BAGIKAN