Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Saham dan Ramadan

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 7 Juni 2016 | 06:46 WIB

BULAN suci Ramadan telah tiba pada awal Juni ini, di mana umat Islam menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Jauh sebelumnya, Presiden Jokowi telah menginstruksikan agar terjadi peristiwa ‘jungkir-balik harga’, yakni harga sembako yang biasa meroket pada bulan suci tersebut, diperintahkan menjadi sebaliknya.

 

Naiknya harga komoditas ini secara konsep disebabkan oleh shortage (kekurangan) pasokan baik secara nyata ataupun artifisial (barang ditimbun) dan karena adanya kenaikan permintaan (juga dapat nyata maupun artifisial karena kekhawatiran terjadinya shortage — kenaikan harga sehingga menciptakan panic buying).

 

Peristiwa stabilitas harga merupakan salah satu hal pokok yang diwaspadai pemerintah. Para produsen kebutuhan pokok, sebagian merupakan perusahaan terbuka (Tbk), yang masuk dalam kelompok subsektor makanan dan minuman (sektor 5.1) dan sebagian lainnya masuk pada subsektor perdagangan eceran (sektor 9.3).

 

Dengan demikian, menjadi menarik untuk melihat bagaimana potensi pergerakan harga saham dari kedua subsektor tersebut jika dikaitkan dengan fenomena Ramadan. Terdapat beberapa saham yang termasuk subsektor 5.1 dan 9.3 ini. Penulis mengambil contoh Ramadan tahun 2014 dan 2015 dengan waktu berkisar seminggu sebelum Ramadan, saat Ramadan; dan seminggu sebelum Idul Fitri.

 

Saham yang dipilih (random) adalah Indofood (INDF), Mayora (MYOR), Sari Roti (ROTI), Alfamart (AMRT), Ace Hardware (ACES), HERO, serta IHSG sebagai pembanding umum. Kinerja saham tersebut sebagai berikut: per tama; seminggu sebelum Ramadan sampai dengan 1 Ramadan tahun 2014 (2015) masingmasing untuk emiten di atas memberikan pengembalian (capital gain/ loss) sebesar: -1.8% (3.01%); 0.3% (-0.78%); 2.1% (-4.60%); 3% (11.76%); 1.7% (0.78%); 3.5% (2.63%); 0.7% (0.34%).

 

Kedua; kinerja 1 Ramadan sampai dengan seminggu sebelum Idul Fitri tahun 2014 (2015) adalah: 5.2% (-4.38%); 1.3% (4.74%); -7.7%(- 4.60%); -1.9% (11.76%); 4.5% (0.78%); 6.4% (2.63%); 4.4% (-1.74%).

 

Dari data di atas apa yang dapat disimpulkan? Secara umum, kecuali untuk ACES dan HERO, maka tidak ada konsistensi bahwa harga saham tersebut akan mengalami kenaikan (capital gain), dan juga besarnya deviasi kinerja saham antaremiten tersebut, dimana ada yang mengalami kerugian lebih dari 4% (INDF, ROTI, 1-23 Ramadan 2015) hingga mengalami kenaikan lebih dari 11% hanya dalam waktu seminggu (AMRT).

 

Dengan demikian, pemilahan emiten, kejelian mengamati situasi dapat saja menjadi faktor penentu untuk mendapatkan laba. Bagaimana dengan saham penyelenggara transportasi (udara) yang juga sibuk pada bulan Ramadan?

 

Untuk hal ini kinerja Garuda Indonesia (GIAA) ternyata juga tidak wah. Pada 2014 (2015) sebelum Ramadan memang mengalami kenaikan harga sebesar 1.44% (1.58%), namun data Ramadan hingga menjelang Hari Raya kinerjanya 2.13% (-3.12%).

 

Dengan demikian tidak seluruh situasi tersebut membuat harga saham Garuda naik. Belakangan ini harga saham GIAA sempat menembus 500-an, walau kemudian turun lagi (saat artikel ditulis berkisar 494). Naik atau turunnya harga saham ini, apakah respons terhadap informasi berkenaan dengan ‘sanksi’ bagi pesaingnya?

 

Jika ya, maka investor dapat menduga tingkat perubahan harga sesuai dengan peluang terjadinya sanksi tersebut. Perlu ditegaskan di sini, pasar saham dapat bergerak lebih cepat dari anginkarena dapat berubah tanpa tiupan isu apapun!

 

Toko emas-perhiasan termasuk juga mendapatkan berkah dari Ramadan dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mungkin dapat dicermati. Untuk periode yang sama di atas, kinerja sahamnya sebelum Ramadan sebesar -2.66% (-5.21%) dan selama Ramadan sebesar 4.04% (-13.31%). Hasil ini justru mengecewakan, karena tiga dari empat data menunjukkan nilai negatif.

 

Dari empat data yang ada; IHSG positif pada tiga data dan hanya negatif pada Ramadan-Lebaran 2015. Ini berarti, pasar saham mengalami kenaikan dan hal ini menjadi sinyal positif adanya gairah transaksi. Ke depan perlu juga didorong budaya untuk menyisihkan sebagian pendapatan (THR) dalam bentuk investasi saham, sehingga selain mengurangi konsumsi ‘jor-joran’, dapat menjadi buffer jika nanti bokek setelah Hari Raya. Jangan khawatir terjadi bencana likuiditas, karena banyak saham terpilih, sangat likuid, dapat laku terjual dalam hitungan detik.

 

 

Mungkin yang perlu dicermati adalah potensi gain-loss, sehingga mengurangi kenyamanan berinvestasi. Untuk hal ini mungkin dapat disiasati dengan menyewa ahlinya alias berinvestasi melalui reksadana. Alternatif berjaga-jaga adalah meletakkan dana dalam bentuk tabungan, namun jika nilai tabungan Anda di bawah Rp 20 juta, sangat mungkin mendapatkan pendapatan bunga riil negatif (setelah dikurangi pajak dan biaya administrasi).

 

Di pasar saham, nilai tersebut dapat memberikan pelajaran investasi (untung-rugi), sehingga investor mendapatkan ilmu, dan juga tumbuh bersama perekonomian. Makin besar kapitalisasi pasar modal, akan semakin baik, karena makin banyak yang ‘terikat’ pada sistem produksi sehingga lebih ‘aware’.

 

Jika Anda pemegang saham Garuda, tentunya Anda akan ‘aware’ terhadap kinerja emiten itu dan hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerjanya lagi. Jika diamati secara periode keseluruhan yakni berkisar dua tahun (23/6/2014-31/5/2016), maka kinerja INDF, MYOR, ROTI, AMRT, ACES, HERO, GIAA, ANTM, serta saham secara keseluruhan (IHSG) berkisar 1.47%; 31.4%; 1.4%; 20%; -25.43%; -57%; 19.71% dan -30.92%, serta saham secara keseluruhan turun sebesar -0.95%. Fakta ini menunjukkan investasi saham mengandung potensi rugi (dan juga untung).

 

Peringatan

Uraian di atas tidak dimaksudkan untuk anjuran berinvestasi pada saham/emiten tertentu, melainkan sekadar ilustrasi fakta. Perubahan harga di atas juga hanya merujuk pada ‘series waktu’ dimana dapat sangat berbeda maknanya dengan investasi secara aktif yang dilakukan oleh investor. Bagi investor saham (retail) serta stakeholder lainnya (perusahaan sekuritas dan bursa), harga saham yang stabil, justru tidak menarik karena tidak dapat melakukan taking profit (dengan konsekuensi taking loss).

 

Karena itu, fluktuasi merupakan suatu yang dinantikan, dimana  pandangan umum dapat keliru menyimpulkannya. Katakan saja emiten/saham XYZ, dimana A memiliki 1 lembar pada harga 100; lalu harga turun menjadi 80; jika A menjual sahamnya, maka ia akan mendapatkan dana (estimasi kasar, tanpa biaya transaksi) sebesar 80; kemudian harga turun lagi menjadi 60 dan A membeli saham XYZ tersebut dan mendapatkan berkisar 1.3 lembar; lalu saham itu naik lagi menjadi 80 dan A menjualnya maka A akan mendapatkan uang sebesar 104; atau untung 4%. Jika melihat dari runtun waktu (time series) saja, maka potensi rugi A adalah harga akhir dikurangi harga awal, yakni berkisar 20%.

 

Dalam hal ini, timing masuk dan keluar merupakan kunci keberhasilan. Suatu hari, sekitar jam 11-an (2 jam setelah perdagangan dibuka), penulis menunjukkan pada kolega via smartphone tentang suatu saham yang telah naik harganya lebih dari 3%. Kolega tersebut bertanya: ambil/investasi? Penulis tersenyum, tidak, tidak tahu akan naik! Selamat berpuasa dan juga selamat berinvestasi saham.

 

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen Kwik Kian Gie School of Business

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN