Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Saluran Hotline Dua Korea Kembali Dibuka

Kamis, 4 Januari 2018 | 07:50 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SEOUL – Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) pada Rabu (3/1) kembali membuka saluran telepon lintas batas yang telah ditutup sejak 2016. Pembukaan itu merupakan kelanjutan dari proses menuju perdamaian dua Korea.

 

Saluran telepon dipulihkan pagi waktu setempat, setelah Korsel mengusulkan perundingan tingkat tinggi pada 9 Januari 2018. Usulan itu merupakan tanggapan dari tawaran damai yang langka dari pemimpin Korut Kim Jong Un, yang telah menawarkan untuk mengirim tim ke Olimpiade Musim Dingin bulan depan di Korsel.

 

“Percakapan telepon berlangsung 20 menit,” kata seorang pejabat Kementerian Unifikasi Korsel kepada AFP. Ia menambahkan rincian tidak diketahui dengan segera. Korut untuk membuka kembali saluran tersebut sebagai sangat penting.

 

Presiden Korsel Moon Jae In telah lama mendukung pembicaraan dengan Korut. Moon pada Selasa (2/1) menyambut kode perdamaian Kim sebagai tanggapan positif terhadap harapan Korsel bahwa Olimpiade Pyeongchang akan menjadi kesempatan terobosan untuk perdamaian.

 

Namun, akan ada penyesuaian antara kedua negara saat bertemu dengan latar belakang kecurigaan, jika tidak secara langsung permusuhan, oleh Amerika Serikat (AS). Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa rezim tersebut harus melepaskan ambisi senjatanya sebelum ada perundingan yang dapat dilakukan.

 

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nikki Haley mempertahankan garis keras tersebut, dengan menepis tawaran Korsel untuk mengadakan pembicaraan. Ia mengatakan itu akan menjadi pembalut luka kecuali denuklirisasi juga dibahas dalam diskusi.

 

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert juga memperingatkan bahwa Kim mungkin mencoba mendorong pasak antara kedua negara, antara AS dan Korea Selatan. Go Myong-Hyun, dari Asan Institute for Policy Studies di Seoul, mengatakan Korut telah menggunakan Korsel sebagai perisai saat mencoba untuk menangkis sanksi dan tekanan dari AS.

 

“Jika Korsel menjadi mitra dialog Korut, aliansi AS-Korea Selatan akan menghadapi kesulitan,” kata dia kepada AFP.

 

Menurut Ri Son-gwon, kepala Badan Korea Utara yang menangani urusan antar-Korea, persiapan sementara terus berlanjut pada Rabu, dengan Kim menyambut dukungan Korsel untuk tawarannya. Kedua negara, yang dibagi oleh Zona Demiliterisasi sejak berakhirnya Perang Korea 1950-53, terakhir mengadakan perundingan tingkat tinggi pada 2015 untuk mencoba meredakan ketegangan.

 

Saluran telepon di perbatasan desa Panmunjom yang menjadi gencatan senjata tetap beroperasi sampai Februari 2016. Saluran tersebut ditutup saat hubungan memburuk karena sebuah perselisihan yang melibatkan kompleks industri Kaesong yang dioperasikan bersama dan sekarang ditutup.

 

Sayangnya, proses damai kedua Korea itu diwarnai kembalinya perang kata-kata antara Trump dan Kim. Perang kata-kata kali ini dimulai saat pidato Kim di Tahun Baru yang memperingatkan AS bahwa dia memiliki tombol nuklir di mejanya, yang membuat respon marah dari Trump dan mengejek klaim tersebut melalui Twitter.

 

“Bisakah salah satu orang dari rezimnya yang tengah kehabisan makanan dan kelaparan, tolong beritahu kepadanya (Kim Jong-un) bahwa saya juga memiliki tombol nuklir, tapi lebih besar dan lebih kuat daripada miliknya. Dan tombol saya berfungsi!” tulis dia di Twitter.

 

Twitt tersebut sebagian besar mendapat cemoohan dan peringatan. “Ini berbatasan dengan malapraktik kepresidenan,” kata Senator Demokrat Ed Markey.

 

Mantan Penasihat Keamanan Nasioanl yang kemudian menjadi penasehat Wakil Presiden Joe Biden, Colin Kahl, dalam twitter, menulis bahwa Presidennya seorang anak kecil. Ia menyindir klaim Trump bahwa tombolnya lebih besar terdengar tangguh di tempat bermain. “Tapi ini bukan urusan remaja. Secara harfiah, nyawa jutaan orang dipertaruhkan,” tulis dia.

 

Kedua pemimpin tersebut telah saling memaki sejak Trump berkuasa setahun lalu. Trump telah mengejek Kim sebagai gemuk dan manusia roket kecil. Kim membalasnya dengan menyebut Trump sebagai orang cacat mental.

 

Korut telah mengabaikan serangkaian sanksi yang lebih keras dan retorika yang meningkat dari AS saat negera itu terus maju dengan program senjatanya.

 

Negara tertutup itu mengatakan membutuhkan senjata nuklir untuk melindungi diri dari Washington yang bermusuhan dan telah berusaha menciptakan hulu ledak yang mampu menargetkan daratan AS dengan hulu ledak atom. (afp/leo)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN