Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Senawangi: Wayang Tak Boleh Kehilangan Basis Estetika dan Kulturalnya

Sabtu, 4 Maret 2017 | 12:59 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SOLO- Peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar, menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Krisis karakter, tidak memiliki prinsip dan integritas, adalah indikasi kegagalan pembangunan kebudayaan.

 

“Oleh karena itu, pentingnya kita secara kolektif memberi perhatian lebih serius dan intens terhadap persoalan kesenian dan kebudayaan,” kata Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, ketika menyambut kedatangan delegasi para seniman dan budayawan yang tergabung di Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), di Gedung Balai Kota Surakarta, Kamis (2/3).

 

Hadir dalam pertemuan tersebut, Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum Senawangi), Drs Suyud Winarno MM (Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia  -- Pepadi), Eny Sulistyowati SPd SE, penggiat Wayang, yang juga Direktur Utama Triardhika Production, Agus Prasetyo SSn, (Koordinator Pentas Wayang Orang Sriwedari), serta para seniman Wayang Orang Sriwedari, Heru Purwanto S Sn, dan Dhestian Wahyu Setiaji S Sn.

 

Pertemuan yang didampingi sejumlah aparat terkait dan Kepala Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Surakarta, Sis Ismiyati ini, terkait rencana Pemerintah Kota Surakarta mendukung Kongres Ke-IX Senawangi yang akan berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Cipayung Jakarta Timur, Selasa – Rabu, 25 - 26 April 2017 mendatang.

 

Bersamaan dengan acara Kongres tersebut akan digelar pertunjukan seni Wayang Orang (WO) Sriwedari, bekerjsama dengan Tri Ardhika Production, Selasa 25 April 2017 mendatang. Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, beserta unsur pimpinan lainnya, direncanakan akan hadir menyaksikan pergelaran wayang kolosal ini.

 

Wali Kota mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk melestarikan budayanya yang adiluhung di masing-masing daerah. “Kami juga meminta dukungan Pemerintah Pusat, agar institusi kesenian dan kebudayaan ini tidak tergerus oleh kesenian dan kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan karakter budaya bangsa Indonesia,” ujar Rudyatmo.

 

Terkait dengan pengembangan dan pelestarian kesenian dan kebudayaan di kota Solo, ada tiga lembaga yang menjadi perhatiannya; grup kesenian Wayang Orang (WO) Sriwedari, SMK Negeri 8 Surakarta, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

 

“Di Solo kita punya grup Wayang Orang (WO) Sriwedari. Kita terus mengupayakan dan mendorong agar kesenian ini dapat tampil lebih menarik. Namun roh yang mendasari Wayang Orang (WO) Sriwedari tidak boleh ditinggalkan,” ujar Wali Kota mengingatkan.

 

Dengan selesainya penyusunan masterplan penataan kawasan Sriwedari, kata Rudyatmo, lokasi ini nantinya akan menjadi kawasan konservasi berkhasanah budaya. “Ke depan kita ingin membangun gedung kesenian Wayang Orang yang representatif, dengan sentuhan teknologi yang tidak ketinggalan dengan kemajuan zaman,” ungkapnya.

 

Penggiat Wayang, Eny Sulistyowati SPd SE, dalam kesempatan tersebut menambahkan, bangsa ini perlu bersikap adaptif, lentur; agar nilai-nilai modern, global dan mondial, bisa bersinergi dengan nilai-nilai jatidiri dan kepribadian bangsa.

 

“Diperlukan sikap sensitif dan jejaring antar komunitas budaya yang kuat untuk menyentuh dimensi kesenian dan kebudayaan. Hal ini bagian tak terpisahkan dalam dinamika pembangunan karakter bangsa,” ujar Direktur Utama Triardhika Production, yang kerap menjadi impresario pertunjukan seni tari dan wayang orang ini.

 

Tentang pentingnya memberi perhatian serius terhadap kesenian dan kebudayaan, Eny Sulistyowati mengingatkan, bahwa masyarakat di berbagai belahan dunia kini telah hidup bersama dalam satu atap di sebuah ‘perkampungan global’.

 

“Jangan sampai terjebak dan latah dalam kelancungan slogan moral dan keagungan budi, tapi kita kehilangan basis estetika dan kulturalnya. Dan kita perlu menguatkan lagi karakteristik sebagai bangsa Indonesia yang tetap ‘meng-Indonesia,” tukas Eny, yang juga Ketua Bidang Humas Kongres Ke-IX Senawangi ini. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN