Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Simalakama Internet

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 20 Januari 2015 | 10:56 WIB

Kebutuhan dasar manusia kini rupanya sudah bertambah, bukan hanya sandang, papan, dan pangan, tapi juga fasilitas internet. Internet juga berperan dalam kemajuan sektor-sektor produktif seperti bisnis, pendidikan, dan sarana promosi.


Namun, ada hal yang merisaukan dengan kehadiran internet, yakni potensi hilangnya produktivitas karena karyawan kerap bermain internet di waktu kerja, di tempat kerjanya. Laporan Young & Case yang diterbitkan pada Jurnal Cyber Psychology and Behavior (2004), menunjukkan kerugian hilangnya produktivitas ini berkisar US$ 54 miliar pada 2002. Nilai tersebut sudah tergolong fantastis, dan diperkirakan terus membesar pada tahun berikutnya.


Young & Case (YC) menunjukkan tiga metode untuk mengawasi pemakaian internet di kantor yakni, monitoring, zero tolerance, dan disciplined/ fired (penghukuman bagi karyawan yang memakai kepentingan internet untuk hal yang tidak pantas. Dari hasil survei ternyata 60% perusahaan tidak melakukan monitoring terhadap pemakaian internet, 82% tidak melakukan tindakan zero tolerance dan 66% tidak melakukan tindakan disiplin terhadap penyalahgunaan internet.


YC juga menunjukkan tiga strategi untuk mengatasi penyalahgunaan internet yakni kebijakan (policy) perusahaan; training (bagi mereka yang menyalahgunakan) serta rehabilitasi. Hasil survey YC menunjukkan 50% perusahaan tidak memiliki kebijakan (berkenaan dengan pemakaian internet). Jika terjadi penyalahgunaan maka sebanyak 78% perusahaan tidak melakukan training dan 96% perusahaan tidak melakukan rehabilitasi. Tingkat efektivitas strategi di atas dilaporkan sebagai berikut: 40% menyatakan kebijakan tentang internet tidaklah efektif; 50% menyatakan employed management training tidak efektif. Implementasi strategi ini dilakukan pada berbagai skala perusahaan, dari perusahaan kecil (<100 tenaga kerja) hingga perusahaan besar (>500 tenaga kerja).


Candu atau Racun

Hasil-hasil di atas menunjukkan simalakama. Sekalipun diyakini internet banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, ternyata tindakan pencegahan oleh perusahaan sangatlah minim. Hal ini disebabkan sulit memisahkan antara aktivitas positif dan aktivitas negatif, serta sulitnya perusahaan melakukan kontrol. Kontroversi pengangkatan Kapolri, misalnya, telah memenuhi laman-laman situs berita internet. Karyawan tentunya ingin mengetahuisituasi ini. Apakah hal ini positif atau negatif?


Seorang chief executive of ficer (CEO) sebuah holding company pernah berkata bahwa rapat (breefing) tidak mungkin lebih dari 2-3 jam. Hal ini disebabkan karena semua gadget terhubungkan dengan internet, dan peserta rapat mencuri waktu berasyik ria sendiri. Kebijakan perusahaan untuk menutup akses situs media sosial seperti Facebook, Twitter, merupakan satu keharusan, demi mengurangi potensi karyawan berubah menjadi netizen.


Beberapa waktu lalu, pada media berita diberitakan bagaimana karyawan rela membolos kerja dengan alasan sakit. Namun, pada akhirnya terpantau bahwa yang bersangkutan sehat karena status-status facebooknya. Karyawan juga dapat membentuk grup perusahaan, dimana konten dalam grup tersebut dapat positif dan juga negatif. Jika karyawan memposting konten negatif maka tentu saja imbasnya tidak baik bagi perusahaan


Jika karyawan bekerja dengan komputer, dan ada saluran internet, maka karyawan betah kerja (di depan komputer) sangat mungkin karena internet. Hal ini terjadi jika karyawan tidak memiliki target kerja. Untuk hal ini, perlu ada kebijakan yang lebih ketat berkenaan dengan ketersediaan sarana internet.


Internet juga seperti candu, meracuni, bukan hanya bagi karyawan tetapi manusia modern pada umumnya. Hal inilah yang harus disiasati oleh perusahaan agar karyawan bekerja tidak untuk surfing internet, tetapi menggunakan internet untuk mendukung kualitas pekerjaannya.


Google dan Facebook

Perusahaan internet menjamur, dan pada awal 2000-an sudah memasuki pasar saham. Perusahaan internet masuk bursa diawali oleh Scient pada Mei 1999 dengan harga penawaran umum perdana saham atau initial public of fering (IPO) sebesar US$10. Pada hari perdagangan pertamanya, harga ditutup sebesar US$ 32,63. Nilai tersebut sangat fantastis.


Scient mengalami harga puncaknya sebesar US $133,75, pada 10 Maret 2000, ketika usia di pasar modal belum genap satu tahun. Untuk periode tersebut berarti telah mendapatkan return sebesar 1238%. Pada Februari 2001 – kurang dari satu tahun kemudian – harga sahamnya tinggal US$ 2,94 atau return-nya minus 98%. Pada Februari 2001 tersebut seluruh saham internet berguguran dengan return minus 90-an%, serta 83 perusahaan di ambang kebangkrutan.


Mengapa hal ini dapat terjadi? Ini karena sikap optimistis berlebihan atau tepatnya bubble terhadap pangsa pasar dari dot.com. Saya kutipkan pernyataan pengamat berikut ini sebagai penguat: “Bases on our market growth estimates, we are still at the very early stages of a powerful secular growth cycle.”


Sekalipun penuh cerita buruk, dua pemain utama internet, Google dan Facebook, merajut sukses besar dan terus melaju hingga kini. Google memasuki bursa saham pada 19 Agustus 2004 dengan harga US$ 85.00. Saat ini (2 Januari 2015) harganya telah US$ 524,81, atau mencatatkan return berkisar 19,97% per tahun dalam waktu 10 tahun terakhir ini. Facebook IPO pada 18 Mei 2012 dengan harga US$ 38,23, saat ini harganya berkisar US$ 78.02, setelah kurang-lebih 2,5 tahun, atau return berkisar 33% per tahun. Nilai pertumbuhan itu jauh di atas rerata suku bunga T-Bill, yang berkisar hanya 2% saja.


Sementara itu, Google sukses menguasai mesin pencari, video sharing (Youtube), blog (Blogger). Tidak seperti cerita di atas, Google tetap eksis hingga sekarang ini. Bagaimana Google dan Facebook ke depan? Apakah keduanya akan tetap meraih sukses? Ini tentu sepenuhnya tergantung dari kehadiran pesaing baru. Saat ini, Google dan Facebook praktis tanpa pesaing. Keduanya merupakan monopoli di bidangnya.


Meski demikian para pemegang saham harus tetap antisipatif seraya terus berinovasi. Bila suatu saat hadir layanan baru yang lebih canggih, dapat saja konsumen beralih ke produk baru tersebut. Jika masa itu tiba, harga saham Google dan Facebook dapat bisa saja akan anjlok. Apakah kita masih menggunakan Google dan Facebook?. Tentu!. Apakah bermanfaat?. Pasti!. Apakah dilakukan pada jam kerja?. Tentunya, karyawan dapat memahami aktivitas yang menunjang produktivitas. Mumpung masih tahun baru 2015, mari awali tahun ini dengan resolusi: bijak mempergunakan internet, internet untuk produktivitas!


Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business, Jakarta

BAGIKAN