Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sir Alex Ferguson dan Kabinet Kerja

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 4 November 2014 | 12:12 WIB

Sir Alex Ferguson dan klub Manchester United (MU), dua nama dalam sepakbola yang paling fenomenal di awal abad 21. Berbagai prestasi berhasil diraih, dan etos kerjanya pun dapat diterapkan di berbagai bidang. Pada konferensi pers pertamanya ketika membesut MU sepertempat abad silam, Sir Alex menyatakan ‘permusuhan’ dengan penguasa liga Inggris saat itu, Liverpool. Ia pun bersumpah akan menumbangkan kedigdayaan Liverpool.


Itulah karakter kuat seorang pemimpin. Impian untuk meraih sukses besar adalah hal penting. Seorang pemimpin besar sudah selayaknya memiliki tujuan besar. Seorang direktur perusahaan mestilah membuat perbandingan dengan kompetitor terbaiknya. Hal ini akan mendorong potensi sumber daya yang dimilikinya.


Teori manajemen tentang gunung es menyatakan 80% potensi gunung tersebut tidak terlihat. Bagaimana mungkin 80% potensi sumber daya manusia akan terungkap jika tidak dirangsang untuk dikeluarkan?


Presiden RI ke-7, Joko Widodo, mencanangkan kabinetnya dengan Kabinet Kerja. Bagi Jokowi, kerja merupakan momen yang baik, langkah awal untuk mencanangkan cita-cita besar. Selain kerja (pelayanan), presiden perlu membuat tujuan revolusioner yakni ‘korupsi nol’.


Seperti halnya Sir Alex Ferguson yang memenuhi janjinya setelah 25 tahun berkuasa, Presiden Jokowi tentu memerlukan waktu. Juga seperti Sir Alex, yang secara bertahap mengumpulkan pundi-pundi kesuksesan, maka Presiden pun perlu menunjukkan perbaikan/hasil setiap waktu.


Kita perlu belajar dari Sir Alex yang pada tahun-tahun pertamanya sama sekali tak mendapatkan gelar. Klub dipimpinnya bahkan beberapa kali finis di urutan 11. Namun, kepercayaan klub dan keyakinan sang pelatih akhirnya sampai juga pada puncak kesuksesan. Tidak mustahil, Kabinet Kerja di bawah kepemimpinan Jokowi juga mengalami masa sulit pada awalinya. Tetapi kepercayaan publik dan keyakinan Presiden dan jajarannya diharapkan sampai pada puncak hasil yang baik.


Etos dan Standar Layanan

Hal pertama yang perlu mendapat tempat perhatian adalah fokus. Tanpa fokus pada tugas sangatlah mustahil bagi Sir Alex Ferguson untuk mencapai juara. Sir Alex sangat fokus pada tujuannya, pada masalah-masalah yang hendak diatasinya. Sebuah perusahaan tidaklah mungkin menghasilkan kualitas barang/jasa yang hebat jika karyawannya tidak pada posisi siap untuk menghasilkan.


Standar layanan/kualifikasi adalah syarat mutlak yang harus dimiliki seorang profesional. Kabinet Kerja perlu mengevaluasi standar layanan dan harus mengetahui standar layanan seperti apa untuk mencapai juara. Jika para pekerja bertingkah seperti ‘pemabuk’ maka otomatis hal itu harus dihilangkan. Tantangan ini tidak boleh ditawar. Metode blusukan, termasuk cara yang tepat untuk mengetahui standar layanan. Hal ini telah dibuktikan ketika Presiden Jokowi blusukan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan di sana ia menemukan standar pelayanan yang tidak ‘juara’.


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menargetkan hasil total dari Rp 300 miliar menjadi Rp 6 triliun. Ia merasa nilai tangkapan Rp 60juta per tahun per kapal dengan kapasitas 30 GW terlalu rendah. Sebagai pebisnis (ikan), ia tahu situasi itu.


Sir Alex juga membina pemain muda dari akademi MU, dan mereka dijadikan tulang punggung klub di masa depan. Langkah tersebut terbukti sukses besar. Ia menanamkan sikap jiwa besar dalam diri para anak didiknya. Mereka tak boleh minder dan merasa orang luar lebih hebat. Mental inferior harus dihilangkan.


Sesungguhnya memanfaatkan orang dalam akan menghasilkan kinerja lebih bagus karena selain potensi yang dimiliki, orang dalam lebih memiliki sense of belonging. Para menteri harus jeli melihat/mengeksplorasi siapa saja bawahan internal yang memiliki potensi untuk menjadi tulang punggung kementerian yang dipimpinnya.


Jelas, kabinet memiliki tujuan besar mensejahterakan rakyat di atas segala kepentingan dari orang/kelompok. Dalam organisasi perusahaan, tujuan mendapatkan laba harus menjadi panduan untuk semua karyawan. Mereka yang tak memahami kepentingan bersama mestinya tidak berada pada kapal yang sama.


Satu hal lagi, Sir Alex adalah orang yang selalu pertama kali datang ke pusat latihan. Pemain terbaiknya pun, seperti C Ronaldo, termasuk yang selalu datang lebih awal. Etos kerja harus menjadi standar awal untuk berprestasi.


Sewaktu menjadi gubernur DKI Jakarta, Jokowi konon kerap melakukan sidak dan menemukan pimpinan unit (camat) tidak/belum berada di tempat. Bahasa kekuasaan yang terbaik adalah keteladanan. Ada kementerian yang telah memulai untuk kerja lebih pagi (07.00) demi menghindari macet. Semoga ini menjadi bagian dari etos kerja positif.


Mendapat Imbal Hasil

Meski tampak sukses besar, Sir Alex juga memiliki kelemahan, yang tidak boleh terjadi pada organisasi lainnya. Pertama, Sir Alex tidak pernah menyiapkan suksesor. Pemimpin yang baik adalah yang melahirkan pemimpin yang ‘lebih’ baik. Setelah memimpin lebih dari seperempat abad, Sir Alex gagal memiliki asisten yang melanjutkan tongkat kepemimpinannya. Pemilihan Moyes ternyata melahirkan demam panggung.


Ada baiknya Kabinet Kerja memiliki prinsip kerja berkesinambungan dan mempersiapkan potensi pemimpin di masa depan. Prinsipinya presiden boleh berganti tetapi semangat kerja tetap untuk rakyat. Sir Alex tidak dapat mengalahkan/ menghalangi hukum alam.


Pembelian klub Manchester City oleh taipan Abu Dhabi menjadi ‘penghukum’ prestasinya di akhir hayat. City, dengan segala sumber daya keuangan yang dimiliki, jelas menjadi menantang MU. Terbukti Manchester City kini sama kuatnya dengan MU. Ini menjadi pelajaran bahwa kita/ negara tidak boleh terlena. Jika terlena otomatis kita akan terlibas oleh negara-negara lain, termasuk negara-negara tetangga.


Pemahaman bahwa berkompetisi adalah hal natural, wajib menjadi panduan bagi Kabinet Kerja. Tanpa kompetisi, tanpa ambisi, maka sulit bagi siapa pun untuk menghasilkan prestasi besar. Lalu, apakah yang didapat oleh Sir Alex Ferguson dan komunitas MU setelah mendapatkan kesuksesan luar biasa? Pertama, penghargaan, keuntungan, atau imbalan, baik material dan nonmaterial bagi keseluruhan stakeholder. Hal ini menjadi kenikmatan yang nyata.


Kedua, mutu produk/layanan meningkat pesat, sehingga permainan yang dihasilkan berkualitas dan menghibur. Akan sangat menyenangkan bagi rakyat apabila kualitas layanan (barang publik) berstandar prima dan ‘korupsi nol’.


Ketiga, kebanggaan sebagai bagian dari kesuksesan. Beranalogi dengan hal di atas maka Kabinet Kerja memiliki kewajaran untuk mendapatkan imbalan/output yang sama. Tentu saja kita belum melihat hasil Presiden Jokowi dan Kabinet Kerjanya, tapi pemilihan tagline ‘kerja’ sudah menunjukkan bahwa kabinet ini sungguh-sungguh mau bekerja. Seperti Sir Alex yang mencatatkan tinta emas, semoga Kabinet Kerja mencatat kisah-kisah sukses dalam buku Sejarah Indonesia.


Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

BAGIKAN