Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tangguh Berkat Positive Thinking

ant/afp, Senin, 27 Februari 2012 | 10:29 WIB

Muda, kaya, dan sukses. Predikat itulah yang kini disandang Hendy Setiono. Dalam usia yang baru 29 tahun, ia sudah menjadi salah satu raja waralaba kuliner di Tanah Air. Bahkan, Hendy tak lama lagi bakal go international. Selalu berpikir positif, berikhtiar, dan bersedekah adalah kunci suksesnya.

Siapa tak kenal kebab Baba Rafi? Hampir di semua kota besar di Tanah Air bisa dijumpai gerai penganan khas Timur Tengah itu. Tak kurang dari 850 gerai Baba Rafi kini tersebar di berbagai kota. Dalam tiga tahun ke depan, PT Baba Rafi Indonesia –perusahaan pewaralaba (franchisor) kebab Baba Rafi yang dinakhodai Hendy Setiono— menargetkan jumlah gerai hingga 4.000 unit di seluruh Indonesia.

Agresivitas Hendy Setiono dalam berekspansi tak berhenti sampai di situ. PT Baba Rafi Indonesia juga sedang berancang-ancang menancapkan kuku bisnisnya di negara-negara lain alias go international. Pada April tahun ini, perusahaan yang dirintis semasa Hendy masih kuliah itu berencana merambah pasar kuliner Malaysia dan Filipina.

Hendy, yang menemukan ide berjualan kebab Turki saat berkunjung ke Qatar, bahkan telah melebarkan sayap bisnisnya ke produk kuliner lain, seperti Roti Maryam Aba-Abi, Piramizza (pizza), Nasi Goreng Kebab, dan Ayam Bakar Mas Mono. Tentu saja sukses yang dipetik Hendy Setiono tidak jatuh dari langit. Pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 yang rutin menyabet berbagai penghargaan bisnis dan kewirausahaan itu sempat jatuh-bangun dan merasakan pahit-getirnya bisnis kuliner.

Kegagalan demi kegagalan tak membuatnya patah arang. “Kegagalan itu justru saya syukuri. Saya berupaya menikmatinya dan tidak menyerah. Itu masih terjadi hingga sekarang, namun dengan level yang berbeda,” tutur Hendy Setiono kepada wartawati Investor Daily Ratna Wahyuningsih dan pewarta foto David Gita Roza di Jakarta, baru-baru ini.

Berkat keberanian, keuletan, kegigihan, dan kesabarannya, PT Baba Rafi Indonesia terus berkibar. “Kami terus belajar memperbaiki berbagai kekurangan dan kelemahan agar menjadi lebih baik lagi,” kata Hendy yang menerapkan filosofi harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Dalam menjalankan bisnisnya, Hendy Setiono memegang teguh empat hal, yaitu selalu berpikir positif (positive thinking), berikhtiar, bersedekah, dan terus berupaya meraih kesuksesan. Prinsip itulah yang telah membuatnya menjadi seorang wirausahawan tangguh. “Prinsip itu pula yang menjadikan saya berani berwirausaha dan berbisnis,” papar Hendy.

Berikut petikan langkap wawancara tersebut.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Awal karier saya dimulai ketika saya masih menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Saat itu saya berkeinginan mendirikan usaha kecil-kecilan. Lantas, inspirasi itu muncul ketika berkunjung ke tempat bekerja ayah saya di Qatar, Timur Tengah. Di sana, saya melihat banyak orang berjualan kebab. Setelah saya mencoba makan kebab, ide untuk berjualan kebab pun muncul.

Saya pun memulai berjualan di Surabaya de- ngan satu outlet kebab. Tahun 2001 adalah awal kisah saya sebagai seorang mahasiswa berusia 19 tahun, yang berjualan kebab di pinggir jalan. Modal awalnya Rp 4 juta, itu pada 2003. Uang itu saya gunakan untuk membeli gerobak (counter) dan peralatan lainnya seperti kompor dan penggorengan.

Anda langsung sukses?
Semuanya melalui proses. Dari satu outlet, saya berjuang pelan-pelan, membuka cabang kedua dengan keuntungan yang ada dan seterusnya. Saya sempat jatuh-bangun. Hingga satu tahun kemudian, yaitu pada 2004, saya berhasil mendirikan enam cabang outlet kebab di Surabaya.

Kemudian saya berinisiatif mengembangkan ide bisnis kebab agar berkembang cepat. Saya mengajak saudara dan keluarga untuk berbisnis sejenis. Lalu muncul ide untuk membuat perusahaan franchise (waralaba) dan mem-franchise-kan bisnis kebab ini. Kami ingin menjadi franchisor (pewaralaba). Alhamdulillah dalam waktu delapan tahun lebih saya telah memiliki 850 lebih gerai Kebab Baba Rafi di seluruh Indonesia.

Apa kiat Anda?
Dalam mengelola perusahaan, saya melakukannya secara step by step, yaitu membuka dari satu gerai ke gerai yang lain, mengelola dengan tata kelola yang baik, memberikan pelayanan yang terbaik. Apa yang saya terapkan terbukti mampu meningkatkan omzet dan volume usaha, tentunya dengan proses jatuh-bangun yang menjadikan kami terus belajar memperbaiki berbagai kekurangan dan kelemahan agar menjadi lebih baik lagi.

Bagaimana peran keluarga Anda?
Saya mendirikan usaha Baba Rafi ini bersama mitra bisnis, yaitu istri saya. Saat merintis usaha ini, kami menikah. Usia saya waktu itu 20 tahun. Lalu kami pun terinspirasi untuk menamai bisnis kami dengan nama anak-anak kami. Saya dikaruniai tiga anak, yaitu Rafi Darmawan, Reva Audrey Zahifa, dan Ready Enterprise. Nama Baba Rafi terbagi atas dua arti. “Rafi” berasal dari nama depan anak pertama saya, Rafi Darmawan. Adapun “Baba” merupakan bahasa Arab, artinya ayah.

Alasan Anda memilih terjun ke bisnis kebab?
Ya, semuanya berawal dari passion, yaitu di bisnis makanan. Berawal dari ide makan kebab di Qatar, saya pun berhasil mengembangkan bisnis ini. Selain itu, saya hobi makan. Passion itu mendorong saya melebarkan sayap bisnis ke sejumlah produk kuliner, seperti roti Maryam Aba-Abi, Piramizza, Nasi Goreng Kebab, dan Ayam Bakar Mas Mono. Tahapan bisnis saya dimulai secara pelan-pelan dan bertahap. Baru 2,5 tahun saya mengembangakan bisnis Ayam Bakar Mas Mono dan Piramizza, semua melalui proses perjuangan.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda dalam mengelola per usahaan?
Saya selaku chief executive officer (CEO) atau presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia menggunakan konsep leadership kekeluargaan. Semua karyawan memiliki target pencapaian pada per divisi, di mana mereka bebas meng-explore caranya masing-masing untuk menjalankan tugasnya. Untuk mengembangkan kinerjanya, mereka tidak bergantung kepada saya sebagai pimpinan atas, namun kepada masing-masing divisi manajernya.

Strategi Anda dalam memajukan perusahaan?
Sederhana saja, yaitu melalui pengembangan usaha secara organik, pengembangan bisnis sesuai bidang yang dikuasai, melaksanakan fungsi delegasi dalam setiap tugas, dan membentuk manajemen tim yang baik, yang tidak bergantung kepada sosok Hendy Setiono. Kami juga terus berinovasi. Misalnya kami secara rutin membuat kemasan menarik. Contohnya pada Febuari ini, desain kemasan kami buat lebih beragam dengan tema kasih sayang.

Visi perusahaan Anda ke depan?
PT Baba Rafi Indonesia akan go international. Untuk tahap awal kami akan masuk pasar Malaysia dan Filipina. Pada April tahun ini kami akan buka masing-masing enam outlet Kebab Turki Baba Rafi dari total target tahun ini sebanyak 15-20 gerai. Saat ini, kami memiliki 850 gerai di seluruh Indonesia dengan rara-rata penjualan 60-80 bungkus per hari.

Kami juga terus berinovasi dan menargetkan hingga 2015 membuka gerai kebab hingga 4.000 unit di seluruh Indonesia. Kami buka di Malaysia karena pasar Malaysia sangat potensial. Begitu pun di Filipina. Di Malaysia, kami akan buka di tempattempat yang populer, seperti Central Market, Petaling Jaya, dan Syah Alam. Sebelum memutuskan untuk membuka outlet di sana, kami telah melakukan riset sejak 2009. Kami juga bekerja sama dengan entrepreneur di sana. Untuk menemukan mitra bisnis yang memiliki visi sama memang tidak mudah.

Apa kesimpulan semua upaya Anda selama ini?
Semua kesuksesan ini diperoleh melalui perjuangan. Selain sedang melangkah untuk go international, Baba Rafi juga telah melakukan breakthrough. Contohnya dahulu, ketika baru punya satu gerai dengan satu karyawan, saat karyawan sakit, saya yang berjualan. Waktu itu hujan deras, omzet sepi, tapi saya syukuri, menikmatinya, dan tidak menyerah. Hal seperti itu masih terjadi hingga sekarang, namun dengan level yang berbeda. Namun, saya percaya dengan keyakinan dan kemauan yang kuat, niscaya segala persoalan dapat teratasi dengan baik.

Filosofi hidup Anda?
Filosofi dan impian saya yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Salah satu caranya antara lain dengan mengembangkan lebih banyak jaringan outlet, menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak, serta mengedukasi masyarakat tentang makanan kebab yang sehat dan berkualitas.

Apa obsesi Anda?
Obsesi saya untuk perusahaan yaitu bagaimana menjadikan Baba Rafi bisa bermanfaat dan dinikmati seluruh stakeholder, terutama pemilik, karyawan, dan pelanggan. Sebetulnya apa kunci sukses Anda dalam berwirausaha? Saya selalu berupaya untuk berpositive thinking, berikhtiar, bersedekah, dan meraih sukses. Keempat hal tersebut saya terapkan dalam kehidupan saya. Itu pula yang menjadikan saya berani berwirausaha dan berbisnis. Saya selalu berpikir secara positif dalam menyikapi berbagai hal.

Bagaimana Anda menyeimbangkan bisnis dengan kehidupan pribadi?
Saya sendiri percaya bahwa bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat itu harus berjalan linier. Hidup saya tidak berorientasi pada bisnis semata, tapi juga berusaha menyeimbangkan antara keluarga, bisnis, dan spiritual. Waktu senggang saya gunakan untuk berbagi dalam seminar motivasi bisnis kepada generasi muda Indonesia. Saya telah melakukan seminar di 30 provinsi. InsyaAllah bulan depan saya dan keluarga akan melakukan ibadah umrah untuk kedua kalinya.

Apa yang Anda kejar dalam hidup ini?

Saya berpikir bahwa yang saya kejar dalam hidup ini adalah hidup berkecukupan dan selalu bersyukur atas apa yang telah dicapai, baik pribadi maupun untuk perusahaan. Kami pun terus berusaha dengan menargetkan yang terbaik, di antaranya kami menargetkan penambahan gerai dari 1.000 menjadi 4.000 dalam kurun waktu lima tahun.

Anda punya waktu khusus untuk keluarga?
Saya meluangkan waktu bersama anak-anak saya untuk mengobrol, menciptakan suasana yang harmonis dan penuh tantangan.
(*)

BAGIKAN