Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Upah Pekerja Kerek Biaya Produksi CPO

Damiana Simanjuntak, Sabtu, 13 April 2019 | 07:56 WIB

JAKARTA – Biaya produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih akan menjadi momok bagi industri sawit nasional dalam 10 tahun ke depan. Pasalnya, biaya tenaga kerja terus melonjak akibat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) rata-rata 10% setiap tahunnya. Biaya produksi CPO yang dikeluarkan perusahaan sawit di Indonesia pada 2017 berkisar US$ 444-577 per ton.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, sejak 2008-2017 Compound Annual Growth Rate (CAGR) harga CPO hanya naik 1,50%, sedangkan biaya produksi naik 4,90%.

Sementara itu, berdasarkan pantauan atas sejumlah perusaahaan sawit nasional, per semester I-2017, biaya produksi CPO berkisar US$ 444-577 per ton, padahal perusahaan di Malaysia hanya menanggung biaya produksi US$ 329-386 per ton CPO.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

 Joko Supriyono mengatakan, tren harga CPO di pasaran cenderung tidak berubah, hal itu ditunjukkan dengan pola fluktuasi harga yang dalam lima dekade terakhir tetap sama, yang berbeda adalah biaya produksinya.

“(CPO) Indonesia itu menghadapi kenaikan biaya produksi akibat kenaikan UMP yang berkisar rata-rata 10% per tahun. Masalahanya, produktivitas sawit Indonesia naik? Tidak, ini menjadi tantangan," kata Joko Supriyono di Jakarta, Kamis (11/4).

Untuk itu, lanjut Joko, produktivitas sawit nasional harus dipacu. Saat ini, rata-rata produktivitas CPO nasional baru sekitar 4 ton per hectare (ha). Dengan asumsi menggunakan perhitungan harga misalnya Rp 7.000 per kilogram (kg) CPO untuk tahun dasar 2017 maka dalam 10 tahun ke depan untuk mengantisipasi kenaikan biaya produksi sudah seharusnya produktivitas dipacu menjadi 6,90 ton per ha. “Jika (produktivitas) tidak (naik), industri kelapa sawit akan merugi," kata Joko.

Selain harga dan biaya produksi, tantangan lain yang dihadapi industri sawit nasional adalah hambatan perdagangan di sejumlah negara. Untuk mengantisipasi tantangan-tantangan itu maka industri sawit nasional harus fokus pada peningkatan produktivitas dan daya saing industri.

Pengembangan pasar dan produk juga perlu digiatkan, berperang memenangkan pasar, baik dengan kampanye positif maupun penguatan perdagangan.

“Kalau bagus bisa dengan trade agreement yang baik. Kalau tidak baik, beneran perang. Kalau Indonesia dengan Eropa ini belum perang, baru ancam mengancam. Nggak tahu apakah Indonesia berani perang atau tidak, kita lihat saja," kata dia.

Pada intinya, kelapa sawit hanya menyangkut produktivitas dan mengelola biaya produksi seefisien mungkin. Terkait biaya produksi memang harus dikelola agar naiknya tidak sampai berlebihan.

“Memang, nggak akan turun. Untuk itu, butuh usaha dan inovasi teknologi untuk efisiensi itu. Di sisi lain, harga sama sekali tidak bisa dikontrol, yang bisa itu mengelola stok," kata Joko.

Produksi CPO

Produk CPO
Produk CPO

Dia menuturkan, pada 2018 produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan CPKO) melampaui 47 juta ton atau melonjak sekitar 11,70% dari 2017 yang tercatat 42,04 juta ton. Pada 2019, produksi kemungkinan hanya naik 2-2,50 juta ton. “Itu kondisi normal. Apalagi, tahun ini diperkirakan ada El Nino ringan yang dapat atau berpotensi menunda pematangan buah. Hal ini sudah mulai terjadi di Sumatera dan Kalimantan Selatan,” jelas Joko. Pada saat bersamaan, lanjut Joko Supriyono, konsumsi minyak sawit domestik harus dinaikkan, baik dengan program biodiesel 20% (B20), B30, B50, atau B100. Yang jelas, pasokan minyak sawit harus dikelola.

“Kita harus mengendalikan sebagian inventory ke dalam negeri, ini untuk menghindari pertarungan sengit di pasar global. Apakah harga akan naik? Belum tentu. Tapi, dengan mengendalikan sebagian inventory, kita bisa menekan over stock," kata Joko.

Dalam catatan Gapki, stok akhir minyak sawit Indonesia pada Februari 2019 tercatat tinggal 2,50 juta ton atau lebih rendah dari stok akhir Januari 2019 yang sebesar 3,02 juta ton. Penurunan stok ini turut berperan terhadap naiknya harga CPO di pasar global.

“Penurunan stok minyak sawit juga terjadi di Malaysia dan minyak nabati lainnya di negara produsen," kata Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono. Memasuki Februari tahun 2019, kenaikan harga rata-rata bulanan CPO sebesar 5% atau dari US$ 530,70 per ton pada Januari 2019 menjadi US$ 556,50 per ton. Sepanjang Februari 2019, harga CPO global bergerak pada kisaran US$ 542,50- 572,50 per ton. (*)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN