Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Varietas Unggul Pacu Peningkatan Produksi Padi 2019

Senin, 14 Januari 2019 | 22:59 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Kepala Balai Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) Priatna Sasmita menyatakan bahwa terdapat tiga faktor penentu peningkatan produktivitas padi yang dapat terpenuhi dan memacu produksi tahun ini, yakni faktor genetik, lingkungan, serta interaksi faktor genetik dengan lingkungan.

Upaya peningkatan produksi dari aspek genetik saat ini hampir sebagian besar petani di Indonesia telah melakukannya melalui penggunaan berbagai varietas unggul potensi hasil tinggi yang telah teruji di masing-masing sentra produksi padi.

Priatna menjelaskan, hanya saja masih ada faktor lingkungan lainnya yang sulit dikontrol manusia, khususnya iklim. Hal ini berkaitan dengan curah hujan, intensitas cahaya, temperatur, dan kelembapan yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman, terutama fase generaf yang dibutuhkan untuk akumulasi fotosintat optimal pada proses pengisian bulir gabah.

“Penentu produksi padi adalah varietas benih unggul. Juga bagaimana melakukan pengelolaan lingkungan melalui perbaikan berbagai teknologi budidaya dan adaptasi spesifik lokasi, yakni menginteraksikan kedua faktor varietas dan lingkungan," kata Priatna di Jakarta, Minggu (13/1).

Kondisi lingkungan ideal untuk fase pertumbuhan generatif padi secara umum meliputi intensitas (kualitas) cahaya tinggi, temperatur relatif tinggi, serta kelembapan dan curah hujan rendah yang biasanya terjadi mulai Maret-April.

"Selain efek fisiologis yang kondusif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, kondisi tersebut secara tidak langsung dapat mengurangi perkembangan populasi hama dan penyakit tanaman di lapangan. Karena itu, prediksi pergeseran waktu tanam padi periode Oktober 2018-Maret 2019 ke Januari 2019 cukup beralasan berimplikasi kondusif terhadap peningkatan produktivitas tanaman padi secara signifikan," tutur Priatna.

Sementara itu, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) menyerahkan benih padi varietas unggul baru kepada petani dan penangkar melalui Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan). Penyerahan itu merupakan program berkelanjutan dari program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA) yang digagas oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

“Totalnya 40 ton, tapi kami serahkan secara simbolis. Adapun VUB yang diserahkan terdiri atas Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 42 Agritan Green Super Rice dan Situbagendit. Varietas unggul baru ini memiliki keunggulan potensi hasil tinggi, pulen, dan memiliki ketahanan terhadap beberapa penyakit utama padi," kata Priatna.

Priatna mengatakan, penyerahan benih varieyas unggul baru merupakan bagian dari upaya pemerintah mengganti penggunaan varietas lama karena ketahanannya terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) sudah tidak efektif. Untuk itu, penggantian ke varietas yang baru diprediksi mampu meningkatkan potensi hasil produksi padi secara nyata.

Untuk diketahui, varietas Inpari 32 HDB memiliki keunggulan dan potensi hasil tinggi sebanyak 8,42 ton per hectare (ha). Beras ini juga dikenal pulen dan tahan penyakit kresek, hawar daun bakteri. Sedangkan, varietas Inpari 42 Agritan GSR (Green Super Rice) memiliki keunggulan tinggi, yakni 10,58 ton per ha serta relatif tahan terhadap penyakit kresek," papar dia.

Menurut Priatna, varietas tersebut ramah lingkungan karena penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida menjadi relatif sedikit. Hal ini sebagai dampak dari implikasi adaptasi yang baik dan tahan terhadap beberapa OPT. Varietas lainnya

Situbagendit, merupakan padi gogo yang dapat beradaptasi baik terhadap kondisi sawah (basah) maupun lahan kering atau bersifat amfibi. (eme)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN