Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktris Ariel Tatum

Aktris Ariel Tatum

Ariel Tatum Pernah Alami Gangguan Jiwa Karena Dibully

Rabu, 15 September 2021 | 17:39 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Aktris Ariel Tatum mengaku pernah mengalami gangguan jiwa karena dibully akibat berbadan gemuk. Sempat terpuruk, Ariel akhirnya berdamai pada dirinya dan tidak mau memikirkan apa omongan orang yang dapat mengganggu pikirannya.

"Saya diejek seperti sapi karena gemuk. Dulu omongan kayak begini sangat mengangguku. Tapi sekarang nggak mau aku pikirin " ungkap Ariel dalam video yang dirilis platform Menjadi Manusia, baru-baru ini. Video diluncurkan dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia yang dirayakan setiap 10 Oktober.

Sejak setahun lalu, kata Ariel, ia mulai berdamai pada dirinya. Ariel juga tak malu untuk membuka diri bahwa dulu pernah mengalami gangguan jiwa. “Itulah pentingnya mengafirmasi diri setiap hari. Beri pesan positif pada diri kita. Jangan sebaliknya, gue tuh emang males, nggak bisa berubah. Jadi mulailah berbaik hati pada diri sendiri, " ujar Ariel.

10% Penduduk Alami Gangguan Jiwa

Kesehatan mental adalah permasalahan bersama yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan banyak pihak. Pada 2018 saja, hampir 10% penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan. Melalui kampanye Kita Manusia, platform sosial Menjadi Manusia bersama Kita Bisa, Karin Novilda, Ariel Tatum, dr. Jiemi Ardian, Avianti Armand, Ubah Stigma, TeamUp, Infia, dan Marsan Susanto mengajak masyarakat untuk bergandengan tangan menyediakan fasilitas kesehatan memadai bagi para penderita gangguan jiwa akut di Indonesia. 

Kita Manusia adalah kampanye dengan misi untuk mengedukasi masyarakat akan minimnya penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia, sekaligus menggalang donasi dalam rangka membangun infrastruktur kesehatan yang lebih layak bagi mereka.

Kampanye ini diprakarsai oleh Menjadi Manusia, platform sosial yang digagas Rhaka Ghanisatria bersama kedua rekannya, Adam Alfares Abednego dan Levina Purnamadewi. 

Terkait latar belakang lahirnya program Kita Manusia, Rhaka mengungkapkan, “Kami percaya, semua ODGJ berhak pulih. ODGJ yang tidak tertangani sekarang juga manusia, seperti kita. Namun sayangnya, karena stigma yang kuat dan minimnya infrastruktur kesehatan, banyak dari mereka tidak mendapatkan treatment yang tepat.”

Sebagai sesama, Menjadi Manusia merasa terpanggil untuk bahu-membahu menolong ODGJ yang terlantar dan membutuhkan bantuan. “Salah satu ikhtiar kita merangkul mereka adalah melalui kegiatan Kita Manusia ini,” ujar Rhaka.

Merayakan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober, Kita Manusia akan melangsungkan berbagai aktivitas edukasi, yang juga bertujuan untuk mengumpulkan donasi. Di antaranya, pembuatan video dokumenter mini yang menampilkan Ariel Tatum, film pendek yang diperankan oleh Ray Sahetapy, dan berbagai macam video edukasi tentang kesehatan jiwa supaya masyarakat lebih mengenal ODGJ dan kondisi mereka yang belum tertangani dengan baik. Video-video ini akan ditayangkan di berbagai kanal media sosial Menjadi Manusia. 

Selain itu, mereka akan dilanjutkan beragam kegiatan daring melibatkan masyarakat serta ODGJ yang telah berhasil bangkit. 

“Harapan kami, kampanye Kita Manusia akan dapat menghimpun donasi untuk menyediakan tempat yang lebih layak untuk ODGJ di Indonesia. Kami akan merenovasi panti rehabilitasi Al-Fajar Berseri yang didirikan oleh Marsan Susanto yang saat ini ditinggali oleh teman-teman ODGJ, supaya mereka mendapatkan keamanan dan kenyamanan selama tinggal di sana,” tutur Rhaka. 

Dalam kegiatan dimaksud, Kita Manusia bermitra dengan beberapa dokter spesialis kejiwaan, arsitek, komunitas, media alternatif, dan aktivis kesehatan mental lainnya. Dengan infrastruktur kesehatan dan dukungan perawatan yang mumpuni, diharapkan ODGJ pada akhirnya dapat menolong dirinya sendiri untuk berdikari menjadi individu yang memiliki kehidupan seutuhnya.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN