Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO CoLearn Abhay Saboo
Sumber: Istimewa

CEO CoLearn Abhay Saboo Sumber: Istimewa

CoLearn Tekankan Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Sabtu, 14 Mei 2022 | 10:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – CoLearn, salah satu perusahaan EdTech yang paling cepat berkembang di Asia Tenggara, menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini. Bahkan, masalah utama di Indonesia dalam dunia pendidikan bukan terletak pada pendidikan tinggi, namun pada pendidikan anak usia dini.

Hal ini pun tercermin dalam laporan UNICEF Indonesia tentang Situasi Anak di Indonesia tahun 2020 bahwa menurut tes PISA dari OECD tahun 2018, hanya 30% anak berusia 15 tahun yang mencapai atau melampaui tingkat kompetensi minimal untuk membaca dan 29% untuk matematika. Secara ranking, Indonesia pun berada di peringkat terbelakang, yakni di peringkat keenam, ketujuh, dan kesembilan dari bawah, dari total 79 negara.

Baca juga: Bank Raya Diramu BRI untuk Integrasikan Proses Bisnis 

Berangkat dari sinilah, Abhay Saboo membangun program pendidikan anak usia dini bersama dengan dua co-founder, yakni Marc Irawan (COO) dan Sandeep Devaram (CPO) membesarkan platform pendidikan CoLearn sejak tahun 2018. Baru-baru ini berhasil membawa CoLearn mendapatkan babak pendanaan Seri-A terbaru. “Misi para founder Co-Learn adalah untuk membawa Indonesia ke top 50% ranking PISA,” ungkap Abhay yang menjabat CEO CoLearn dalam keterangan pers, Sabtu (14/5/2022).

Abhay menambahkan, sebagai salah satu negara yang berkembang pesat dan memiliki sumber daya melimpah, Indonesia digadang-gadang untuk menjadi pasar strategis bagi perkembangan ekonomi di era digitalisasi, terutama di kawasan Asia Tenggara. Sebagai negara dengan populasi keempat terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi yang menjanjikan untuk menjadi ‘hub’ inovasi teknologi di masa mendatang.

Namun, lanjut dia potensi ini sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri. Peningkatan kapabilitas sumber daya manusia tampaknya masih harus menjadi agenda prioritas pemerintah. Pasalnya, posisi Indonesia dalam Human Development Report 2020 masih berada di urutan yang belum menggembirakan, yakni 107 dari total 189 negara.

Baca juga: Maureen Tseng Pimpin Hoffman Agency Singapura dan Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia yang tergolong rendah pun menyebabkan Indonesia kurang kompetitif. Laporan Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2020 menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-65 dunia dengan subsektor tenaga kerja berkemampuan tinggi masih berada jauh di rangking ke-82 dan dampak tenaga kerja di peringkat ke-91 dari total 132 negara.

Saat menjalani studi magister di Harvard Business School pada tahun 2007, Abhay melihat masih sedikit pelajar Indonesia yang berkuliah di sana. Ia pun sempat berdiskusi dengan Direktur Penerimaan Mahasiswa Baru di salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia ini, dan mendapati adanya permasalahan kepercayaan diri di kalangan anak muda Indonesia untuk berani tampil di kancah internasional.

“Masalah utama di dalam negeri bukan terletak pada pendidikan tinggi, namun pada pendidikan anak usia dini,” tutupnya.

 

 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN