Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) dan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) meluncurkan publikasi Pedoman Injeksi Toksin Botulinum yang pertama di Indonesia

Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) dan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) meluncurkan publikasi Pedoman Injeksi Toksin Botulinum yang pertama di Indonesia

KSDKI Luncurkan Pedoman Injeksi Toksin Botulinum di Indonesia

Kamis, 24 November 2022 | 11:03 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) dan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) meluncurkan publikasi Pedoman Injeksi Toksin Botulinum yang pertama di Indonesia. Pedoman tersebut memberikan informasi kepada praktisi estetika untuk memberikan pelayanan terbaik dan aman kepada pasien.

“Saat ini belum ada pedoman penatalaksanaan injeksi Toksin Botulinum di Indonesia. Selama ini para praktisi estetika menggunakan pedoman Barat yang sudah ditetapkan dalam penggunaan Toksin Botulinum yang beredar. Berdasarkan hal tersebut, kami dari Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) yang merupakan bagian dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) menghimpun para pakar yang ahli di bidang kosmetik dermatologi membuat pedoman Injeksi Toksin Botulinum,” kata Ketua Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) dr Lilik Norawati, Sp.KK, FINSDV, FAADV dalam keterangan tertulis.

“Berlatar belakang tersebut, Pedoman Injeksi Toksin Botulinum ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan para praktisi estetika tentang teknik-teknik klinis dalam injeksi, cara kerja, indikasi, kontraindikasi, efek samping Toksin Botulinum serta imunogenitasnya,” lanjut dr Lilik.

dr Lilik menjelaskan, imunogenisitas berkaitan dengan pengurangan atau tidak adanya efek terapeutik setelah perawatan awal yang berhasil. Hal ini mengingat karena injeksi berulang Toksin Botulinum yang merangsang pembentukan antibodi; termasuk antibodi netralisasi (NAbs),  dapat melawan aktivitas biologisnya. Perawatan Toksin Botulinum bersifat sementara dan dapat berkurang seiring waktu. Injeksi berulang diperlukan untuk mempertahankan efek perawatan.

“Mengingat meningkatnya tren saat ini dalam penggunaan Toksin Botulinum untuk perawatan estetika, penting bagi praktisi untuk melakukan penilaian klinis menyeluruh, menginformasikan pasien tentang risiko perawatan, mengembangkan rencana perawatan Toksin Botulinum untuk meminimalkan resistensi imun dan mempertahankan pilihan Toksin Botulinum sebagai perawatan lanjutan dengan hasil yang memuaskan,” tegas dr Lilik.

Apalagi, kata dr Lilik, khususnya di Indonesia, setiap orang memiliki kekhasan anatomi wajah sendiri dan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda saat penggunaan Toksin Botulinum untuk perawatan estetika mereka.

“Karena itu, diharapkan Pedoman Injeksi Toksin Botulinum yang pertama di Indonesia ini dapat memberikan pengetahuan secara penuh kepada praktisi estetika dalam menjalankan prosedur injeksi Toksin Botulinum kepada pasien secara efektif dan aman terutama pencegahan terhadap komplikasi,” tegas dr Lilik.

Sesuai Tipe Anatomi Orang Indonesia

Ketua Perdoski Pusat periode2022-2024 Dr dr M Yulianto Listiawan, Sp.KK, FAADV, menambahkan bahwa puluhan tahun terakhir saat toksin botulinum masuk dan didistribusikan di Indonesia belum ada keseragaman atau pedoman mengenai hal ini. Sampai akhirnya lahirlah “Pedoman Injeksi Toksin Botulinum” sebagai pedoman toksin botulinum pertama yang diterbitkan oleh KSDKI dan PERDOSKI.

Selain itu, adanya Toksin Botulinum dengan berbagai macam brand berbeda yang tentunya dapat memberikan outcome yang berbeda merupakan masalah lain yang harus dihadapi dalam praktik kedokteran Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.

“Terbitnya buku pedoman ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para praktisi dalam melakukan pemilihan toksin botulinum yang tepat dan terbukti efektif dalam mengatasi masalah di bidang kosmetik estetik maupun medik seperti penuaan (keriput), dan yang off label seperti hiperhidrosis (keringat berlebih), kulit berminyak, jaringan parut (keloid), dan nyeri paska herpes (Neuralgia paska herpes),” jelas dr Yulianto.

Dia pun menambahkan, melalui buku ini dapat juga dipelajari teknis-teknis klinis yang disesuaikan dengan tipe anatomi orang Indonesia khususnya, dan orang Asia pada umumnya. Dengan demikian pada akhirnya, dapat menumbuhkan kewaspadaan dan pengetahuan tentang pencegahan komplikasi pada pasien, dan pada akhirnya akan meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kepuasan pasien, serta memajukan Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di Indonesia.

Ia juga menambahkan, prosedur pembuatan pedoman penatalaksanaan ini didukung oleh MERZ Aesthetic Indonesia. ”Semoga bersamaan dengan terciptanya pedoman ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi para praktisi kosmetik dermatologi sehingga dapat mencegah efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi,” sambungnya lagi.

Chief Representative, Merz Aesthetics Indonesia, Heidy Sembung, menyampaikan Merz Aesthetics hadir sebagai mitra para dokter di dunia Medical Aesthetic untuk mendorong kepercayaan diri dengan membantu dokter termasuk para pasien agar bisa terlihat lebih baik, merasa lebih baik, dan hidup lebih baik (look better, feel better and live better).

“Salah satunya kami mendukung dengan cara peluncuran Pedoman Injeksi Toksin Botulinum pertama di Indonesia bersama Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI),” kata Heidy.

 Merz Aesthetics, kata Heidy memastikan bahwa selain produk yang selalu memenuhi standar keamanan dan kualitas (termasuk) efektivitas yang tinggi, pihaknya juga memberi dukungan pendidikan berkelanjutan kepada para dokter, meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang produk estetik terkini. Contohnya toksin botulinum yang bekerja sama dengan organisasi kedokteran seperti Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Seperti diketahui, sejak 1999, injeksi Toksin Botulinum telah menjadi prosedur estetika yang paling banyak dilakukan di dunia. Selain itu, ini juga merupakan pilihan perawatan lini pertama untuk berbagai kondisi medis seperti distonia leher dan kekakuan tungkai. Secara global, penggunaan Toksin Botulinum dalam estetika telah meningkat karena semakin banyak pasien yang mencari perawatan dan perluasan indikasi off-label.

“Di Indonesia,  pertumbuhan tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya tren pasien estetika dari generasi yang lebih muda,” ungkap dr Lilik.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com