Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan) Dias Kinanthi selaku Diplomat, Program Director dan Co-Founder Vooya Stephanie Wijanarko, Barli Asmara selaku Fashion Designer berfoto bersama usai acara Inspiration Session #TauApaMaumu yang diselenggarakan oleh Vooya, di Jakarta pada 31 Agustus 2019. ( Foto: Dok. Istimewa)

(kiri-kanan) Dias Kinanthi selaku Diplomat, Program Director dan Co-Founder Vooya Stephanie Wijanarko, Barli Asmara selaku Fashion Designer berfoto bersama usai acara Inspiration Session #TauApaMaumu yang diselenggarakan oleh Vooya, di Jakarta pada 31 Agustus 2019. ( Foto: Dok. Istimewa)

Cari Tahu Minat-Bakat Sedini Mungkin untuk Raih Kesuksesan

Happy Amanda Amalia, Senin, 2 September 2019 | 11:50 WIB

JAKARTA – Tidak sedikit anak-anak remaja yang setelah lulus sekolah menengah atau universitas merasa sudah salah memilih jurusan, yang pada akhirnya tidak nyaman dengan pekerjaan yang kemudian dijalankan.

Jika para remaja itu sudah sejak awal mengenal dirinya sendiri serta mencari tahu soal minat dan bakat yang dimiliki, peluang untuk memilih jurusan atau profesi pekerjaan yang salah bisa diminimalisir.

Pengalaman salah jurusan itu juga sempat dirasakan oleh Dias Kinanthi yang kini berprofesi sebagai diplomat urusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beruntung, Dias masih diperbolehkan pindah dari fakultas kedokteran ke sastra Jerman. Dia mengaku, sejak kecil sangat peduli dengan isu-isu di sekitarnya dan kerap mengikuti perkembangan isu yang disukanya dengan menonton berita.

Oleh karena itu dia kemudian berkeinginan masuk jurusan sosial saat masih di SMA, tetapi hasil tes bakat yang diikuti menunjukkan lebih condong masuk ke jurusan IPA. Dia pun mengambil jurusan IPA atas desakan sekolah, disamping itu di masyaraka masih ada anggapan tentang jurusan yang prestisius dan tidak prestisius,

“Setelah SMA, pihak sekolah mendorong saya masuk kedokteran. Tapi selama 4 semester kuliah, kemudian ada satu momentum dalam salah satu keluarga yang sedang kesulitan finansial. Dengan momentum itu, saya masuk dan bilang sama orangtua ingin pindah jurusan dan akan membiayai sendiri kuliahnya. Jadi, saya masuk sastra Jerman dengan membayar sekolah sendiri sambil bekerja. Setelah lulus S1 dan bisa belajar ke Rusia, saya baru memutuskan ingin menjadi diplomat, dan meneruskan kuliah di Hubungan Internasional,” ujarnya di Jakarta, pada Sabtu (31/8)

Sedangkan Barli Asmara, fashion designer mengungkapkan bahwa dirinya berbeda dengan yang dialami Dias. Dalam perjalanan hidup Barli, dia mengatakan orangtuanya termasuk yang memberikan kebebasan sepenuhnya dalam segala hal, termasuk pendidikan.

“Untuk ikut UMPTN, daftar universitas swasta, negeri, saya bergerak sendiri sambil berpikir mau jadi apa nantinya. Orangtua saat itu tidak membolehkan saya masuk sekolah fashion, tetapi karena saya suka menggambar, akhirnya saya ambil seni rupa desain,” katanya.

Menanggapi pengalaman Dias dan Barli, Program Director dan Co-Founder Vooya Stephanie Wijanarko menyampaikan, bahwa sebenarnya hal-hal yang dialami oleh orang-orang seperti Dias dan Barli tidak bisa disebut sebagai kegagalan.

“Kalau gagal selalu ada yang dipelajari dari kesalahan yang dilakukan. Tetapi yang paling penting adalah berani dan jujur untuk mencari tahu,” tuturnya.

Vooya sendiri adalah sebuah institusi yang dibentuk untuk membantu generasi muda yang ingin menemukan passion-nya untuk visinya demi kehidupan yang lebih baik. Dalam hal ini, Vooya memberika tiga layanan utama yakni Vooya Lab, Vooya Journey, dan Vooya Coach.

(kiri-kanan) Program Director dan Co-Founder Vooya Stephanie Wijanarko, Dias Kinanthi selaku Diplomat, dan Barli Asmara selaku Fashion Designer saat berbincang-bincang dalam acara Inspiration Session #TauApaMaumu yang diselenggarakan oleh Vooya, di Jakarta pada 31 Agustus 2019. ( Foto: Dok. Istimewa)
(kiri-kanan) Program Director dan Co-Founder Vooya Stephanie Wijanarko, Dias Kinanthi selaku Diplomat, dan Barli Asmara selaku Fashion Designer saat berbincang-bincang dalam acara Inspiration Session #TauApaMaumu yang diselenggarakan oleh Vooya, di Jakarta pada 31 Agustus 2019. ( Foto: Dok. Istimewa)

Menurut Stephanie, masalah passion sepertinya masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Kurangnya pemahaman individu atas minat dan bakat yang mereka miliki, membuat passion tidak lagi menjadi permasalahan bagi individu saja, namun juga negara.

Hal tersebut terbukti melalui hasil penelitian dari Indonesia Human Resources Forum 2017 yang menyatakan bahwa 87% pelajar di Indonesia mengakui mereka dengan salah memilih jurusan yang ditempuh. Kemudian, dari data Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) 2017, terungkap 63% dari total lulusan baru Indonesia harus bekerja di luar dari bidang yang mereka ambil semasa perkuliahan. Dan yang paling sedih adalah Wrong Majors Phenomenon melaporkan di tahun yang sama bahwa 653.586 lulusan baru terpaksa harus menganggur.

Tentunya angka-angka di atas memiliki keterkaitan satu sama lain, semua berawal dari lalainya seorang individu mengetahui minat dan bakat dirinya.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama adalah ekspektasi orang tua yang cenderung memaksakan ambisi kepada anak dan kurang memikirkan apa yang anak inginkan.

Kedua, tekanan sosial memposisikan arti kesuksesan hanya dari sisi uang dan pencitraan.

“Banyak pelajar yang mengambil keputusan kurang sesuai dan terburu-buru. Misalnya, mereka berpikir bahwa sedikit ketertarikan atau rasa menggebu-gebu terhadap sebuah bidang dapat langsung dianggap sebagai passion, padahal belum tentu. Bisa saja bidang tersebut saat itu lagi happening, sehingga mereka ikutan suka. Atau mereka benar-benar tertarik, tapi di sisi lain pura-pura nggak tahu kalau mereka nggak ada bakat sama sekali di bidang itu,” ujar Stephanie.

Selanjutnya, sistem edukasi yang kurang memberikan pengarahan mengenai pentingnya mengetahui passion. Selain itu, sekolah di Indonesia hanya menginginkan para murid punya nilai yang bagus di semua pelajaran, tanpa melihat minat mereka.

Hal yang terakhir dan yang mungkin paling bisa dirasakan oleh generasi muda sekarang adalah keraguan atas diri sendiri dan generasi yang “mager”, alias malas gerak – generasi yang malas untuk riset atau mencari tahu mengenai jurusan yang mau diambil atau bahkan profesi yang ingin digeluti.

Di sisi lain, passion juga bukan hanya sekedar memiliki karir bagus, gaji besar, atau kesuksesan diri. Dalam realitasnya, passion adalah tentang hasrat, sesuatu yang dikerjakan dengan tekun dan bahagia yang nantinya dapat pula menghasilkan.

Berawal dari kegelisahan, kesalahpahaman dan abainya individu terhadap passion ini akhirnya menginspirasi munculnya gerakan #TauApaMaumu, yang merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan kepedulian terhadap diri sendiri, serta mengetahui apa yang benar-benar menjadi passion mereka. Gerakan #TauApaMauMu memberikan kesadaran akan pentingnya mengambil langkah untuk mewujudkan passion dan keinginan terdalam.

“Lewat gerakan #TauApaMaumu kami berharap dapat memberikan sebuah kontribusi nyata bagi generasi muda untuk dapat mengejar kesuksesan sesuai dengan keinginan diri. Vooya percaya terbentuknya generasi yang #TauApaMaumu dapat membangun masyarakat yang tangguh, passionate, produktif, yang akhirnya membuahkan kontribusi yang lebih maksimal bagi lingkungan ataupun sosialnya,” ungkap Stephanie.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA