Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Film After yang diangkat dari novel Wattpad karya Anna Todd.

Film After yang diangkat dari novel Wattpad karya Anna Todd.

Film After Tidak Sesuai Budaya Indonesia

IS, Sabtu, 20 April 2019 | 09:37 WIB

JAKARTA — Baru dirilis 16 April lalu di berbagai bioskop di Indonesia, film ‘After’ sudah mengundang kontroversi. Berbagai sorotan, terutama karena adanya adegan yang dianggap terlalu vulgar.

“Film ‘After’ menggambarkan kehidupan remaja dan pergaulan ala masyarakat sekuler. Banyak dialog dan adegan yang tidak sesuai dengan budaya dan masyarakat Indonesia yang relijius,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’thi di Jakarta, Kamis (18/4).

Menurut Mu’thi, film ini bisa mempengaruhi pola pikir dan pergaulan remaja yang cenderung bebas dan mengabaikan nilai-nilai dan norma luhur budaya bangsa Indonesia. “Kalau pun mau tayang, film ‘After’ harus dilakukan editing dan sensor yang ketat,” kata dia.

Artis yang juga pengacara, Gusti Randa tidak menampik bahwa ‘After’ memang kontroversial. Terutama, dari sisi penggambaran yang tidak sesuai dengan budaya timur.

Tetapi, lanjut Gusti, justru di situlah sisi menariknya. Karena film ini menggambarkan budaya barat yang lebih terbuka, maka justru memancing penonton untuk ingin tahu.

“Saya belum menonton. Tetapi besok saya mau menonton mumpung belum di-breidel. Nah, itulah sisi menariknya,” tegasnya.

Di sisi lain, Gusti memperkirakan bahwa masyarakat juga akan tertarik menyaksikan ‘After’.  Karena dalam dunia film, terdapat siklus, dimana masyarakat akan mengalami kejenuhan dengan genre film tertentu. “Berarti ini akan masuk ke dalam musim film seks. Musim film dengan tema seperti itu akan lahir jika masyarakat sudah jenuh dengan film-film  horror, komedi, dan drama,” ujar dia.

Respons berbeda ditunjukkan kalangan milenial, seperti Komunitas Anak Nonton. Mereka sangat menantikan film yang diangkat dari novel Wattpad karya Anna Todd ini. “Sangat enerjik sebagai film drama romantika remaja,” kata Febri Sihombing dari Komunitas Anak Nonton di Jakarta, Kamis. 

Febri tidak menampik bahwa beberapa adegan antara Tessa Young (diperankan Josephine Langford) dan Hardin Scott (dimainkan Hero Fiennes Tiffin), bisa menjadi perbincangan. “Adegan dewasa-nya mungkin yang belum terlalu clear di film, apakah pas untuk konsumsi remaja Indonesia atau tidak. Tapi untuk pengganti The Twilight Saga, film ini sepertinya lebih ‘berbobot’ dari segi cerita dan sinematografi,” lanjut dia.

Melalui film ini orang tua justru bisa mengantisipasi anak remajanya yang memasuki usia pubertas. “Apalagi di sisi lain, beberapa adegan justru bisa menjadi kekuatan romantisme anak muda,” kata Febri.

Dalam konteks itulah Febri meminta, bahwa beberapa adegan dalam film ini tidak dipersoalkan, termasuk ketika Tessa dan Hardin Scott berkencan di sekitar danau. Jangan hanya karena atas nama budaya, maka adegan yang sebenarnya bisa menjadi unsur kekuatan dan penghibur film justru dihapuskan.

“Tidak melulu film didasarkan pada budaya. Konteks hiburan dari seni juga jangan dihilangkan dari sebuah film. Karena merujuk pada film remaja romantis lokal, hal ini juga sudah tidak lagi tabu,” jelasnya.

After mengisahkan seorang siswa berdedikasi, Tessa Young, yang tertarik dengan bad boy yang mempunyai sisi misterius, Hardin. Meskipun Tessa sudah mempunyai pacar, namun dia pindah ke asrama perguruan tinggi baru dengan pengalaman baru dan perasaan baru untuk Hardin.

Pada saat pesta di kampus, seseorang menantang Tessa untuk bercumbu dengan Hardin dalam permainan atau tantangan. Meski Tessa menolak tantangan, rupanya dia terpesona kepada Hardin.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN