Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
GKBRAy Adipati Paku Alam X. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

GKBRAy Adipati Paku Alam X. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

GKBRAy Adipati Paku Alam X, Pelestari Batik dan Wastra Nusantara

Gora Kunjana, Selasa, 14 Mei 2019 | 13:49 WIB

Sebagai Negara dengan ratusan etnik dan ribuan suku bangsa, Indonesia memiliki beragam kain tradisional atau  wastra yang menjadi kekayaan Nusantara.  Keberadaan wastra Nusantara termasuk batik tulis sebagai kekayaan bangsa ini perlu dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan. 

Salah satu sosok atau tokoh pelestari batik dan wastra Nusantara adalah Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam X.

Permaisuri Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta ini dikenal konsisten dan gigih melestarikan batik dan wastra Nusanrara lainnya. Tidak hanya selalu mengenakan kain batik dan kebaya saat tampil di depan publik, ia bahkan sejak 2009 melahirkan motif batik baru yang terinspirasi dari naskah kuno Pakualaman.   

“Bagi suatu bangsa kehilangan kain tradisional itu sama seperti kehilangan satu tradisi. Karena itu kita tidak boleh tinggal diam dan harus terus maju, jangan sampai kain tradisional kita diklaim bangsa lain,” jelas  GKBRAy Adipati Paku Alam X dalam obrolan santai di salah satu mal di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (8/5/2019) malam.

Mengenakan kebaya dan kain batik tradisional usai menghadiri acara pembukaan Gelar Batik Nusantara di Jakarta Convention Centre (JCC), istri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X ini, kemudian bercerita seputar rencana Kota Yogyakarta yang akan menggelar acara 7th Asean Traditional Textile Symposium pada 5—8 November 2019 di Hotel Royal Ambarrukmo.

Acara bertaraf regional tersebut digelar  GKBRAy Adipati Paku Alam X dalam kapasitasnya sebagai President The Traditional Textile Arts Society of South East Asia (TTASSEA) yang diembannya sejak 2017.

Simposium tersebut menjadi ajang pertemuan bagi para pecinta wastra dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, dan mitra TTASSEA seperti Australia, Amerika, Jepang, Korea, India, Uzbekistan, Inggris, dan Kanada.

“Setiap negara punya wastra dengan kekhasan sendiri yang luar biasa bagusnya. Kita pun punya batik tulis dan tenun seperti Songket yang tak kalah bagusnya. Nah para pecinta wastra itu kita wadahi dengan acara tersebut,” katanya.

GKBRAy Adipati Paku Alam X (kiri). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
GKBRAy Adipati Paku Alam X (kiri). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

 

Lebih jauh GKBRAy Adipati Paku Alam X menjelaskan bahwa acara 7th Asean Traditional Textile Symposium meliputi  simposium, pameran, fashion show, hingga galla dinner.

“Simposiumnya sendiri berlangsung dua hari. Karena setiap Negara menghadirkan dua pembicara, dengan 10 anggota ASEAN sudah ketahuan berapa waktu yang dibutuhkan. Belum lagi ada pembicara di luar ASEAN seperti Australia, Amerika, Korea, Inggris, dan Jepang,” ujarnya.

Mengenai target yang ingin dicapai gelaran 7th Asean Traditional Textile Symposium, ia mengatakan, “Saya ingin perusahaan wastra-wastra ini muncul ke permukaan bahwa wastra itu, pasar tradisional itu banyak macamnya dan bagus-bagus.  Tidak kenal maka tidak sayang, karena itu saya ingin memperkenalkan wastra ini.”

“Saya di situ juga akan membagikan buku tentang lurik, lurik khas Jogja. Sebenarnya lurik itu tidak hanya Jogja, Sumatera juga ada, Sulawesi juga ada, Nusa Tenggara Timur juga ada. Jadi betapa kayanya Indonesia,” kata istri Wakil Gubernur DIY yang juga telah selesai menulis buku tentang Tenun Bali itu.

Mengenai batik tulis, pada perjalanannya GKBRAy Adipati Paku Alam X tidak terpaku pada motif Puropakualaman. Ia  juga mengkreasi batik untuk tarian. Kreasi satu paket tarian diciptakan bersama dengan batiknya. “Jadi saya yang menciptakan batiknya, orang lain yang menciptakan tariannya. Ada juga batik untuk (seragam) abdi dalem. Abdi dalem saya semuanya pakai batik corak saya,” ujarnya.

GKBRAy Paku Alam dengan beberapa batik hasil karyanya yang motifnya diambil dari naskah kuno milik Puro Pakualaman, Yogyakarta, Sabtu (24/9).
GKBRAy Paku Alam dengan beberapa batik hasil karyanya yang motifnya diambil dari naskah kuno milik Puro Pakualaman, Yogyakarta. Foto: IST

 

ASEAN Traditional Textiles Symposium  

Yayasan Traditional Textiles Arts Society of South East Asia (TTASSEA) adalah perkumpulan masyarakat pecinta tekstil Asia Tenggara nirlaba yang terdiri dari para akademisi, perajin, para kolektor, dan pelaku yang secara aktif berupaya melestarikan dan mengkonservasi tekstil tradisional Asia Tenggara.

Simposium Tekstil Tradisional ASEAN yang pertama diselenggarakan di Gedung Sekretariat ASEAN Jakarta, pada tanggal 6 Desember 2005. Berkumpulnya pecinta kain tradisional ini bertujuan untuk menangani tantangan ekonomis yang dihadapi era globalisasi ini, yang menghadapi menurunnya produksi tekstil tradisional buatan tangan, dan tendensi meningkatnya produksi tekstil murah bermutu rendah.

Simposium tahun 2005 menghasilkan koalisi 10 negara anggota ASEAN yang didukung oleh berbagai pakar tekstil nasional maupun internasional, yang berkomitmen untuk melestarikan tekstil tradisional. Aliansi budaya ini melahirkan berbagai kolaborasi antara Himpunan Wastraprema di Jakarta dan Museum Foundation of the Philippines (2009), Terengganu Institute of Design Excellence, Malaysia (2011), the Museum of Cultures of Vietnam’s Ethnic Groups, Nguyen City (2013), Payap University, Chiangmai, Thailand (2015), dan Brunei Darussalam University (2017).

Sejak simposium pertama tahun 2005, ASEAN Traditional Textile Symposium diselenggarakan setiap dua tahun di salah satu negara anggota ASEAN. Tahun 2019 ini, simposium diselenggarakan di kota budaya Yogyakarta dari tanggal 5 - 8 November, dengan fokus bahasan menangani isu-isu seperti pelestarian, inovasi, dan dampak berbagai masalah global di abad ke 21 ini.   

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN