Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Panitia Penyelenggara, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas (lima dari kanan) resmi membuka perhelatan akbar Simposium Wastra Asean Ke-7 (7th Asean Traditional Textile Symposium) di Yogyakarta, pada 5 November 2019. Simposium yang digelar kali kedua di Indonesia ini dan mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengambil tema

Ketua Panitia Penyelenggara, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas (lima dari kanan) resmi membuka perhelatan akbar Simposium Wastra Asean Ke-7 (7th Asean Traditional Textile Symposium) di Yogyakarta, pada 5 November 2019. Simposium yang digelar kali kedua di Indonesia ini dan mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengambil tema "Merangkul Perubahan, Menghormati Tradisi". ( Foto: Istimewa )

Pecinta Wastra se-Asia Tenggara Berkumpul di Yogyakarta

Indah Handayani, Selasa, 5 November 2019 | 14:02 WIB

YOGYAKARTA, investor.id – Para pecinta wastra (kain tekstil) se-Asia Tenggara yang tergabung dalam Yayasan Tradisional Textiles Arts Society of South East Asia (TTASSEA) sedang berkumpul dalam simposium dua tahunan bagi pemerhati wastra se-Asia Tenggara.

Simposium dengan tajuk “7th Asean Traditional Textile Symposium (ASEANTTS) 2019” yang diadakan di Yogyakarta itu akan berlangsung mulai 5-8 November.

Simposium yang digelar kali kedua di Indonesia ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang mengusung tema “Merangkul Perubahan, Menghormati Tradisi”. Selain para pecinta wastra dari negara-negara Asean, hadir pula berbagai mitra TTASSEA yang berasal dari Amerika Serikat (AS), Australia, India, Kanada, Korea, Rusia, Selandia Baru, Tiongkok, dan Eropa.

Ketua Panitia Penyelenggara ASEANTTS Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengatakan sejak diprakarsai pada 2009 hingga saat ini, TTASSEA atau masyarakat Wastra Asia Tenggara telah mengalami berbagai perkembangan yang signifikan. Perkembangan itu meliputi segi sumber daya manusia, komunikasi internasional, dan hubungan kerjasama internasional.

Oleh karena itu, lanjut dia, ajang ASEANTTS ketujuh ini sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa desain dan tekstil, pelaku wastra, peneliti wastra di perguruan tinggi, pecinta wastra Asia Tenggara, dan pemerhati budaya, khususnya budaya material.

“Selain itu, ASEANTTS tidak hanya menyediakan panggung untuk saling berbagi pengetahuan dan mengupayakan jalinan persahabatan wastra tapi juga meningkatkan kolaborasi kalangan akademis, pelaku bisnis, dan pelaku wastra di lapangan,” ungkap GKR Hemas di sela pembukaan ASEANTTS di Yogyakarta, pada Selasa (5/10).

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Binsar Simanullang menambahkan, bahwa ASEANTTS diharapkan dapat mendorong akademisi, pengrajin, kolektor, dan pelaku industri tekstil tradisional untuk secara aktif mencari solusi bagi isu-isu pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kain tradisional.

“Serta menumbuhkan rasa saling menghormati dan membentuk kerjasama yang kuat diantara komunitas wastra di wilayah Asean dan dunia," jelasnya.

Tercatat lebih dari 20 pembicara dan pemerhati wastra mancanegara diagendakan akan mempresentasikan makalah penelitian mereka terkait wastra. Di antaranya membahas Tenun di Asean: Berbagi Sejarah, Tema Bersama oleh Christopher Buckley dari Universitas Oxford, Safe guarding-menjaga Tekstil Tradisional Indonesia oleh Jadin Jamaludin dari Indonesia, dan Talismanic Seeing, Gambar Figuratif dan Islam dalam Batik Jawa oleh James Bennett dari Australia.

Makalah-makalah lain yang disampaikan termasuk Nilai Estetika Ikat Ganda: Studi Kasus Gringsing dan Oshima-Tsumugi oleh Shigemi Sakakibara dari Jepang, Tenun Tiongkok Kuno: Perangkat Pola Heddle Berganda oleh Long Bo of China, dan Melestarikan Tekstil Terfo Papua di Wilayah Sarmi oleh I Wayan Rai dari Indonesia.

Dalam simposium yang diikuti oleh 200 peserta ini dihadirkan pula 26 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah telah dipilih dan memamerkan produk tekstil mereka di Pendopo Royal Ambarukmo dan ruang Pendopo Ndalem Ageng di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. (Iin)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA