Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebanyak 40 anak muda di bawah binaan SOS Children Village Semarang mengikuti pelatihan kerja

Sebanyak 40 anak muda di bawah binaan SOS Children Village Semarang mengikuti pelatihan kerja

Program We Are the Future Latih Anak Muda untuk Bekerja

Minggu, 13 September 2020 | 14:29 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Program We Are The Future melatih 40 anak muda dengan berbagai keterampilan agar siap memasuki dunia kerja. Pelatihan yang diberikan, mulai komputer, bahasa Inggris, hingga wirausaha, pendampingan usaha, dan pemagangan. Program ini digelar oleh SOS Children’s Village Semarang bersama Allianz Indonesia.

 

Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia mengatakan, melalui program ini, anak-anak muda di SOS Children’s Villages Semarang bisa mendapatkan bekal yang berguna bagi masa depan dan meningkatkan kepercayaan diri untuk memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. “Terutama saat kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, mereka harus punya keterampilan yang baik agar tidak kalah saing dengan anak muda lainnya,” ujar Gregor dalam keterangan pers.

 

Program ini, jelas Gregor, akan diimplementasikan selama tiga tahun terhitung dari tahun 2020 dan akan berakhir pada 2022. Evaluasi akan dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk memaksimalkan materi yang diberikan tepat sasaran.

 

Masalah kesiapan tenaga kerja ini sudah menjadi perhatian khusus bagi SOS Children’s Villages sejak awal pandemi Covid-19. Sebagai sebuah organisasi nirlaba yang aktif dalam pemenuhan hak-hak anak, SOS Children’s Villages mengasuh dan membina lebih dari 5.500 anak yang telah atau terancam kehilangan pengasuhan orang tua di Indonesia. Sedangkan, jumlah remaja yang saat ini sedang persiapan menuju kemandirian ada sebanyak 2.584 remaja, dengan lebih dari 200 diantaranya di usia yang menempuh pendidikan tinggi untuk siap bekerja.

 

“Berdasarkan assessment yang kami lakukan, ada sebanyak 100 remaja yang saat ini tidak bekerja, sebagian dari mereka karena dirumahkan akibat pandemi. Melihat kondisi ekonomi saat ini, sangat penting bagi kami untuk membantu persiapkan anak-anak dengan ketrampilan yang mumpuni agar bisa bersaing di dunia kerja. Mereka berasal dari lingkungan dan budaya yang berbeda-beda yang tersebar di 11 kota Indonesia, dari Aceh hingga Flores. Namun, tujuan dan keinginan mereka hanya satu, mampu menjadi pribadi yang mandiri dan sukses di dunia kerja” ungkap Gregor.

 

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Februari 2020 adalah sekitar 6,88 juta penduduk Indonesia1. Jumlah ini naik 60 ribu orang dibandingkan Februari 2019, dengan perbandingan tahun per tahun. Keadaan ini kemudian diperparah oleh dampak pandemi Covid-19.

 

Analisis dari International Labour Organisation menyebut setidaknya 1 dari 6 anak muda kehilangan pekerjaan karena dampak dari Covid-19 di seluruh dunia2. Imbas dari virus ini tentu tidak hanya kita rasakan pada masa sekarang, tapi dampaknya dapat dirasakan sampai beberapa tahun ke depan. Untuk mencegah keadaan yang lebih buruk, anak-anak muda harus diberi penguatan dan dukungan dalam mengembangkan potensinya agar dapat membangun kembali perekonomian pasca Covid-19.

 

Sampai dengan 2 September 2020, Pemerintah Republik Indonesia telah melaporkan 177.571 kasus yang dikonfirmasi positif Covid-19. Bisnis di berbagai sektor di negara ini telah terpukul keras ketika pandemi Covid-19 mendatangkan malapetaka pada kegiatan ekonomi nasional. Para pekerja dengan upah rendah kemungkinan besar akan kehilangan pekerjaan mereka, bahkan tidak sedikit yang saat ini sudah dirumahkan.

 

Menteri perekomian Republik Indonesia, Airlangga menyebutkan ada setidaknya 3 juta pekerja yang terdampak Corona, baik yang terkena PHK ataupun dirumahkan tanpa digaji3. Dampak yang lebih jauh, tidak sedikit negara yang melaporkan terjadinya resesi ekonomi. Indikator resesi bisa dilihat dari penurunan pada Produk Domestik Bruto (PDB), merosotnya pendapatan riil, jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur. Penurunan ekonomi yang terjadi signifikan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dapat mengakibatkan resesi.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN