Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah robot mengambil sampel usap (swab) dari seorang pria untuk menguji virus Covid-19 di Shenyang, di provinsi Liaoning, Tiongkok timur laut pada 13 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

Sebuah robot mengambil sampel usap (swab) dari seorang pria untuk menguji virus Covid-19 di Shenyang, di provinsi Liaoning, Tiongkok timur laut pada 13 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

28 Kasus Baru, Kota Berpenduduk 37,5 Juta Deklarasikan Keadaan Darurat

Kamis, 14 Januari 2021 | 07:25 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Pemerintah provinsi (Pemprov) Heilongjiang di Tiongkok timur laut mendeklarasikan keadaan darurat pada Rabu (13/1) guna memadamkan segelintir kasus virus corona Covid-19. Hal ini menyusul pernyataan tegas dari pemerintah pusat untuk mengekang penyebaran infeksi. Sedangkan di Jepang, pihak berwenang memperluas darurat virus corona pada Rabu menjadi tujuh wilayah lagi.

Terdapat lebih dari 20 juta penduduk yang saat ini berada di bawah semacam isolasi, di wilayah yang terletak di Tiongkok utara itu.

Pihak berwenang Heilongjiang timur laut – yang memiliki populasi 37,5 juta orang – telah memberitahu penduduk untuk tidak meninggalkan provinsi kecuali benar-benar diperlukan, serta membatalkan konferensi dan pertemuan.

Langkah tersebut sebagai respons atas temuan 28 kasus Covid-19 pada Rabu, termasuk 12 kasus tanpa gejala. Di samping itu, tiga kasus infeksi juga ditemukan di Harbin – ibu kota provinsi Heilongjiang timur laut. Harbin sendiri terkenal sebagai tuan rumah penyelenggaraan festival patung es yang menarik banyak wisatawan.

Sebagai informasi, festival es telah menarik kunjungan jutaan orang selama bertahun-tahun ke salah satu kota paling dingin di Tiongkok, di mana suhunya akan turun hingga minus 30 derajat Celcius selama beberapa hari berikut.

Menurut laporan, sebagian besar wilayah di Negeri Tirai Bambu telah mengendalikan penyebaran virus corona, sejak kemunculannya di Wuhan pada akhir 2019. Tetapi beberapa pekan terakhir, muncul beberapa kasus yang mendorong penerapan karantina atau lockdown lokal, pembatasan perjalanan segera, dan peningkan tes Covid-19 terhadap puluhan orang.

Kota Suihua – yang dihuni 5,2 juta orang – juga ditutup pada Senin (11/1) setelah melaporkan satu kasus virus Covid-19 terkonfirmasi, dan 45 kasus tanpa gejala. Beberapa kota kecil lain di dekat Suihua pun ditutup atau berada di bawah aturan pembatasan perjalanan. Demikian disampaikan pihak berwenang, Rabu, yang dikutip AFP.

Meskipun jumlahnya masih kecil dibandingkan dengan banyak negara lain, Tiongkok sedang mencoba untuk menekan penambahan kasus infeksi menjelang pelaksanaan festival Tahun Baru Imlek pada Februari mendatang. Umumnya, perayaan Imlek akan mendorong ratusan juta orang mudik ke kampung halaman masing-masing.

Ada kekhawatiran bahwa kegiatan mudik tahunan yang sangat dinanti-nantikan itu akan terhambat jika penambahan klaster terus berlanjut.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok melaporkan terdapat 115 kasus Covid-19 baru pada Rabu, di mana 90 lainnya terjadi di sebuah klaster provinsi Hebei, yang mengelilingi Beijing.

Tapi Feng Zijian, seorang pejabat senior di Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok atau (Chinese Center for Disease Control), mengatakan negara ini tidak mungkin mengalami penyebaran penyakit dalam skala besar.

“Setelah berjuang melawan Covid-19 selama lebih dari satu tahun, kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang virus itu,” ujar Feng pada konferensi pers.

Pekan lalu, pihak berwenang Tiongkok meluncurkan uji coba massal dan menutup jalur transportasi, sekolah, dan toko-toko di kota Shijiazhuang, Hebei – yang diklaim sebagai pusat wabah terbaru.

Lembaga penyiaran negara CCTV melaporkan, terdapat ribuan penduduk dari satu desa di pinggiran kota itu yang dikirim ke fasilitas karantina. Penduduk desa terlihat memakai masker dan baju medis tengah menaiki bus yang akan membawanya ke fasilitas karantina. Sejumlah tenaga kesehatan berpakaian hazmat mencatat data para penduduk desa. Tetangga wilayahnya, Xingtai yang dihuni tujuh juta penduduk juga telah dikunci sejak Jumat (8/1).

Wilayah Darurat Diperluas

Di sisi lain, Pemerintah Jepang pada Rabu akan memperluas keadaan darurat Covid-19 menjadi tujuh wilayah lagi, termasuk kota-kota besar Osaka dan Kyoto. Ini dilakuan menyusul lonjakan kasus infeksi secara nasional.

Wabah virus corona di Negeri Sakura itu sendiri relatif kecil, dengan sekitar 4.100 kematian secara keseluruhan. Tetapi pada musim dingin ini telah terjadi lonjakan tajam kasus infeksi Covid-19. Para tenaga kesehatan juga mengungkapkan, bahwa rumah sakit berada di bawah tekanan berat di daerah-daerah yang terkena dampak paling parah dari virus corona.

Langkah darurat selama sebulan telah diterapkan di wilayah Tokyo, pada pekan lalu. Dalam penerapan ini pihak berwenang meminta restoran-restoran dan bar-bar untuk tutup pukul 20.00. Penduduk juga diminta untuk menghindari tamasya yang tidak perlu dan menganjurkan kerja dari rumah (telework).

“Kami ingin melihat tren penurunan infeksi pada 7 Februari,” tutur Yasutoshi Nishimura, menteri yang bertanggung jawab atas respons pandemi Covid-19 Jepang.

Langkah darurat – yang diperkirakan diumumkan oleh Perdana Menteri Yoshihide Suga malam ini – berarti, mulai Kamis (14/1), sebanyak 11 dari 47 prefektur negara akan berada dalam keadaan darurat. Mulai dari Aichi tengah, pusat industri dan komersial, hingga Fukuoka di barat daya dan Osaka, yang telah melaporkan penambahan kasus baru dalam beberapa hari terakhir bersama dengan prefektur Kyoto dan Hyogo yang bertetangga.

Undang-undang yang berlaku saat ini di Jepang, tidak mengizinkan pihak berwenang untuk menegakkan permintaan darurat tersebut, meskipun pemerintah sedang merencanakan undang-undang untuk memberikan sanksi kepada para pelaku usaha yang tidak patuh.

Situasi krisis kesehatan itu terjadi lebih dari enam bulan sebelum Olimpiade Tokyo yang ditunda pelaksanaannya karena virus corona. Tetapi Suga tetap berkomitmen untuk mengadakan Olimpiade musim panas ini, meskipun jajak pendapat menunjukkan penolakan publik yang meluas.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN