Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi berita bohong atau hoax. ( Foto: kominfo.go.id )

Ilustrasi berita bohong atau hoax. ( Foto: kominfo.go.id )

Grup Teknologi Global di Australia Luncurkan Kode Anti-Informasi Salah

Selasa, 23 Februari 2021 | 06:23 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SYDNEY, investor.id – Perusahaan-perusahaan teknologi global di Australia meluncurkan kode praktik baru pada Senin (22/2) untuk mengekang penyebaran kesalahan informasi (disinformasi) yang beredar secara daring (online). Hal ini dilakukan menyusul tekanan dari pemerintah.

Kelompok lobi DIGI – yang mewakili Facebook, Google, Twitter, Microsoft, TikTok, dan Redbubble – telah menyatakan komitmen di bawah kode tersebut untuk berbagai tindakan, termasuk memberi label konten palsu pada platform mereka, menurunkan konten-konten palsu dan lebih memprioritaskan sumber informasi yang kredibel.

Kelompok tersebut juga setuju untuk menangguhkan atau menonaktifkan akun-akun palsu dan menyinggung, termasuk bot yang secara otomatis menyebarkan informasi ke seluruh platform mereka. Langkah-langkah – yang sebagian besar mengkodifikasi praktik yang sudah ada – ini dikatakan menargetkan iklan berbayar dan politik serta konten yang dibagikan oleh para pengguna.

“Semua yang bertandatangan berkomitmen pada pengamanan untuk melindungi penduduk Australia dari bahaya informasi palsu dan keterangan yang salah, serta mengadopsi berbagai langkah yang dapat diukur guna mengurangi penyebaran dan visibilitasnya,” demikian menurut kelompok yang merilis kode praktik setebal 29 halaman, yang dikutip AFP.

Pembuatan kode sukarela itu dikembangkan sebagai tanggapan atas penyelidikan Pemerintah Australia tentang peran platform online dalam penyebaran ketengan yang salah dan informasi palsu. Permasalahan ini menjadi sangat akut selama peristiwa kebakaran hutan bersejarah yang melanda Negeri Kangguru pada akhir 2019 dan 2020, serta selama pandemi virus corona Covid.

Pasalnya, pada saat itu, platform-platform media sosial dibanjiri informasi palsu tentang asal-usul penyakit dan upaya-upaya untuk mengekang penyebarannya.

Pendekatan Fleksibel

Menurut Otoritas Komunikasi dan Media pemerintah atau Communication and Media Authority (ACMA) – sebagai pengawas penerapan kode tersebut – pada 2020 terdapat lebih dari dua pertiga warga Australia yang menyatakan keprihatinannya atas tingkat kesalahan informasi yang beredar secara online.

“Berita dan informasi online yang salah dan menyesatkan – seperti yang menyebar saat insiden kebakaran hutan 2020 dan pandemi Covid-19 – berpotensi menyebabkan bahaya serius bagi individu, komunitas, dan masyarakat,” demikian disampaikan dalam sebuah pernyataan, Senin.

Ketua ACMA Nerida O'Loughlin sendiri menyambut baik kode itu sebagai pendekatan yang fleksibel, dan proporsional terhadap risiko bahaya yang ditimbulkan oleh informasi yang salah.

Sebagai informasi, para penandatangan kode praktis itu telah sepakat untuk melaporkan kepada pemerintah tentang kepatuhan awal terhadap kode tersebut pada akhir Juni. Dan kemudian menerbitkan laporan tahunan setelah itu.

Di sisi lain, Menteri Komunikasi Paul Fletcher memperingatkan perusahaan-perusahaan teknologi, bahwa pemerintah akan “mengawasi dengan cermat” guna memastikan mereka menindaklanjuti langkah-langkah tersebut.

Tekanan pemerintah konservatif Australia bagi perusahaan-perusahaan online untuk bertindak melawan informasi yang salah ini bertepatan dengan kampanye yang lebih kontroversial, yakni memaksa perusahan internet terbesar – Facebook dan Google – membayar konten berita yang mereka tampilkan di platform mereka.

Ada pun legislasi yang mengatur pembayaran tersebut diperkirakan disahkan parlemen pada pekan ini.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN