Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangunan Sri Lanka. Foto ilustrasi: AFP PHOTO/Ishara S. KODIKARA

Pembangunan Sri Lanka. Foto ilustrasi: AFP PHOTO/Ishara S. KODIKARA

Pascaserangan Bom, Pariwisata Sri Lanka Mulai Bangkit

ELD, Jumat, 28 Juni 2019 | 07:23 WIB

KOLOMBO, investor.id – Industri pariwisata Sri Lanka pulih lebih cepat dari yang diharapkan setelah serangan bom bunuh diri pada Hari Paskah mengguncang negara pulau tersebut. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Lanka Mangala Samaraweera mengatakan, pemulihan ini memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan oleh perekonomian.

Negara tersebut dilanda pembantaian massal setelah kelompok jihadis yang didukung Negara Islam (IS) menyerang tiga gereja dan tiga hotel pada 21 April 2019. Kejadian tersebut menewaskan 258 orang termasuk puluhan orang asing.

Namun, bahkan setelah aksi pengeboman tersebut, wisatawan domestic memenuhi hotel dan pengunjung dari pasar utama Eropa sudah mulai kembali. Samaraweera awalnya meramalkan, Sri Lanka dapat kehilangan 30% dari pendapatan pariwisata yang mencapai sekitar US$ 1,5 miliar tahun ini. Tetapi sekarang dirinya percaya kerugian akan kurang dari satu miliar dolar.

“Kami mulai merasa situasinya tidak separah yang kami harapkan. Pemesanan akan datang kembali,” kata Samaraweera dalam sebuah wawancara, Rabu (26/6), kepada AFP.

Ia menambahkan, hotel-hotel mampu mempertahankan staf dengan menawarkan paket bagus kepada wisatawan Sri Lanka. Samaraweera juga mengatakan, pemerintah telah menyisihkan ratusan juta dolar AS dalam bentuk kredit murah bagi bisnis pariwisata yang terkena dampak krisis. Perusahaan bus, pemilik penginapan murah, bahkan pembuat dekorasi festival Budha semuanya menerima pinjaman bebas bunga. “Bahkan para musisi yang mengiringi prosesi mengklaim mereka kehilangan pendapatan,” katanya.

Setelah selama lima tahun Sri Lanka menghadapi serangkaian pukulan, Samaraweera mengatakan ekonomi bisa mencapai 5% pertumbuhan tahunan dari tahun depan jika pemerintah mampu memulihkan ketenangan.

“Lima tahun terakhir tidak mudah bagi Sri Lanka,” katanya.

Ia merujuk pada banjir dan kemudian kekeringan yang diikuti krisis politik pada 2018 dan serangan pada 2019. Ekonomi Sri Lanka melambat menjadi 3,2% tahun lalu, turun dari 3,4% pada 2017 karena perebutan kekuasaan antara presiden dan perdana menteri negara itu.

Samaraweera mengatakan kepada parlemen tahun ini, pertempuran politik telah menelan biaya US$ 1 miliar dalam pelarian modal dari utang dan pasar ekuitas. Dana Moneter Internasional (IMF) telah menghidupkan kembali program bailout dengan Sri Lanka dan pemerintah melanjutkan penjualan obligasi negara internasional pada Maret 2019.

“Saya berharap untuk tahun ini kita dapat kembali ke pertumbuhan 3,8% hingga 4,0% dan dalam dua tahun ke depan jika itu (mencapai) 5% kita akan senang,” ujarnya. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA