Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjuk rasa berkumpul di luar markas polisi di Hong Kong, Jumat (21/6/2019). Foto ilustrasi: AFP / HECTOR RETAMAL

Pengunjuk rasa berkumpul di luar markas polisi di Hong Kong, Jumat (21/6/2019). Foto ilustrasi: AFP / HECTOR RETAMAL

Industri Pariwisata Terpukul

Pertumbuhan Ekonomi Hong Kong Terdampak Demonstrasi

Grace Eldora, Senin, 12 Agustus 2019 | 09:53 WIB

HONG KONG, investor.id – Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam memperingatkan, bahwa kota yang menjadi pusat kegiatan finansial internasional ini sedang menghadapi krisis ekonomi yang lebih buruk dibandingkan wabah SARS 2003 yang sempat melumpuhkan kota, atau pun krisis finansial pada 2008.

“Situasi kali ini lebih parah. Dengan kata lain, pemulihan ekonomi akan memakan waktu yang sangat lama,” ujar dia.

Sementara itu, di sektor swasta, khususnya industri pariwisata, sudah mulai menghitung biaya-biaya yang dikeluarkan selama lebih dua bulan akibat meletusnya aksi demonstrasi menolak rencana rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi ke Tiongkok, yang sekarang telah berubah menjadi gerakan pro-demokrasi yang lebih luas.

Ekonom Tiongkok dari Capital Economics Martin Rasmussen mengatakan, dampak protes terhadap pertumbuhan tidak akan jelas sampai akhir tahun ini, dan krisis itu kemungkinan akan sangat membebani.

“Pada awalnya mereka cukup damai, bisa dibilang sebanding dengan protes pada 2014. Sekarang mereka sudah menjadi jauh lebih ekstrem, jadi kami pikir dampak pada ekonomi akan mulai terlihat dampaknya,” katanya, merujuk pada Gerakan Payung pro-demokrasi.

Menurut laporan, kamar-kamar hotel dalam keadaan kosong dan toko-toko pun harus berjuang menjual dagangannya. Tak ketinggalan objek wisata Disneyland juga terganggu akibat aksi protes yang sudah berlangsung berbulan-bulan di Hong Kong, sehingga menimbulkan dampak besar pada kondisi perekonomian di kota. Bahkan aksi protes tersebut belum memperlihatkan tanda-tanda berakhir.

Angka-angkanya tampak jelas: tingkat hunian hotel turun “dua digit” persentase, begitu juga dengan jumlah kedatangan pengunjung pada Juli. Tingkat pemesanan wisata kelompok mulai jarak pendek pun telah merosot hingga 50%.

“Dalam beberapa bulan terakhir, apa yang terjadi di Hong Kong memang membuat mata pencaharian masyarakat setempat, serta ekonomi dalam situasi yang mengkhawatirkan, atau bahkan berbahaya,” demikian peringatan Edward Yau, sekretaris bidang perdagangan dan pembangunan ekonomi Hong Kong.

Disneyland Terdampak

Di sisi lain, industri pariwisata Hong Kong mengaku merasa terkepung.

“Saya pikir situasinya semakin dan semakin serius. Dampak yang ditimbulkan sangat buruk sehingga agen-agen perjalanan mempertimbangkan untuk tidak membayar upah staf, karena mereka mencoba bertahan mengatasi cobaan,” ujar Jason Wong, ketua Dewan Industri Perjalanan Hong Kong, kepada AFP, seraya mengingatkan

Salah seorang juru bicara Badan Pariwisata Hong Kong mengatakan kepada AFP, bahwa jumlah pesanan pada Agustus dan September telah turun secara signifikan. Ini menunjukkan, dampak korban ekonomi akan berlangsung berkepanjangan slama musim panas.

Bahkan, beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Australia, dan Jepang telah mengeluarkan rangkaian imbauan atau larangan melakukan perjalanan (travel warning) ke Hong Kong, yang kemungkinan bakal memperparah penderitaan yang dialami industri tersebut.

Penurunan jumlaah kedatangan wisatawan ikut merugikan maskapai penerbangan Hong Kong Cathay Pacific, yang juga terpaksa membatalkan sejumlah jadwal penerbangan pekan ini akibat aksi protes yang menyebabkan kekacauan di kota itu.

Bahkan Disneyland Hong Kong telah terpukul. Chief Executive Officer (CEO) The Walt Disney Company Bob Iger mengatakan kepada wartawan: “Kami telah melihat dampak dari aksiprotes. Pasti ada gangguan. Hal itu memengaruhi kunjungan kita ke sana.”

Sektor ritel juga terpukul dengan berkurangannya jumlah kedatangan pengunjung yang mencari barang murah. Toko-toko sering kali terpaksa harus tutup selama aksi protes, yang kadang-kadang berlangsung setiap hari.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA