Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para pengunjung sedang berfoto di taman Merlion, Singapura pada 13 Agustus 2019. Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan tahunannya pada 13 Agustus 2019, akibat meningkatnya perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok yang memukul ekspor. AFP / afp foto / Roslan RAHMAN

Para pengunjung sedang berfoto di taman Merlion, Singapura pada 13 Agustus 2019. Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan tahunannya pada 13 Agustus 2019, akibat meningkatnya perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok yang memukul ekspor. AFP / afp foto / Roslan RAHMAN

Singapura Perkirakan Ekonomi Stagnan

Happy Amanda Amalia, Rabu, 14 Agustus 2019 | 08:43 WIB

SINGAPURA, investor.id – Pemerintah Singapura pada Selasa (13/8) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dan memperkirakan terjadi stagnasi. Penurunan prediksi tersebut disebabkan karena meningkatnya perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, yang berdampak melemahkan perekonomian negara yang sangat bergantung pada kawasan itu, juga memukul ekspor.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan, pertumbuhan ekonomi negara bakal turun tajam pada 2019, dari proyeksi sebelumnya 1,5%-2,5% menjadi 0,0%-1%. Catatan tersebut menandai revisi turun kedua pada tahun ini, setelah ekonomi Singapura pada 2018 tumbuh 3,2%.

Jumlah pengiriman dari Singapura dilaporkan telah jatuh, sementara ekonominya mengalami kontraksi kuartala yang mengejutkan sepanjang tiga bulan terakhir hingga Juni, akibat pertikaian Tiongkok dengan AS terkait sistem perdagangan global yang kompleks.

Tercatat, angka-angka Kuartal II terakhir menunjukkan tingkat produk domestik bruto (PDB) tahunan berkontraksi 3,3% dari tiga bulan pertama 2019, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya kontraksi 3,4%.

Seperti diketahui, negara yang terkenal menjadi pusat kegiatan ekspor itu sangat peka terhadap guncangan-guncangan eksternal, dan sejak lama menjadi salah satu tempat pertama di Asia yang terkena dampak krisis global, yang mana kerap diawali dengan riak-riak kecil kemudian menyebar ke seluruh wilayah lainnya.

“Prospek pertumbuhan pasar negara berkembang dan negara-negara maju, dan Tiongkok telah memburuk, sebagian dikarenakan meningkatknya konflik perdagangan AS-Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir. Ketidakpastian dan risiko penurunan dalam ekonomi global telah melonjak sejak tiga bulan lalu. Ini bisa sangat merusak bisnis global dan kepercayaan global, dengan implikasi yang merugikan pada perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi global,” demikian peringatan dari Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura.

Peringatan tersebut mengacu pada pengumuman yang disampaikan Presiden AS Donald Trump pada bulan ini, tentang rencananya yang bakal mengenakan tarif tambahan US$ 300 miliar terhadap impor dari Tiongkok.

DBS Bank menyampaikan, penurunan proyeksi semakin memperkuat Singapura untuk melonggarkan kebijakan moneter selama pertemuan yang dijadwalkan pada Oktober, yang bertujuan meningkatkan ekonomi.

Tanda-tanda pertikaian perdagangan AS-Tiongkok akan segera selesai pun masih belum terlihat. Namun ekspor telah merosot di seluruh Asia dan pemerintah telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi.

“Sebagai negara dengan ekonomi kecil dan terbuka, Singapura adalah salah satu negara yang merasakan dampaknya pertama kali. Kami melihat penurunan tingkat pertumbuhan di sejumlah tempat berbeda seperti Hong Kong, meskipun mungkin karena alasan yang berbeda. Tetapi ini adalah tren untuk sebagian besar Asia saat ini,” kata Selena Ling, kepala riset dan strategi keuangan di Oversea-Chinese Banking Corp., Singapura, seperti dikutip dari Bloomberg.com.

 

Prospek Suram

Catatan ekonomi Singapura Kuartal II pun hanya tumbuh 0,1% dibandingkan tahun lalu, dan tidak berubah dari perkiraan pemerintah sebelumnya. Rata-rata perkiraan dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom menyebutkan kontraksi kuartal mencapai 3% dan pertumbuhan 0,2% dibandingkan dengan tahun lalu.

Sementara mata uang dolar Singapura melemah 0,1% menyusul rilisnya kabar penurunan proyeksi, selang satu hari setelah mencapai level terendah dua tahun.

Di sisi lain, prospek Singapura sendiri telah menjadi sangat gelap dalam beberapa bulan terakhir karena masalah AS dan Tiongkok – dua mitra dagang terbesarnya – yang terus berdebat soal perdagangan. Isu kedua negara itu pun berujung pada meningkatnya prospek resesi di Singapura dan kemungkinan hilangnya lapangan pekerjaan.

“Menghadapi latar belakang makroekonomi eksternal yang menantang ini dan penurunan dalam siklus elektronik global, ekonomi Singapura kemungkinan akan terus menghadapi krisis yang kuat di sepanjang sisa tahun ini,” kata Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura.

Dalam pesan peringatan Hari Kemerdekaan Singapura pekan lalu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong menyampaikan, pemerintah bersedia memberikan stimulasi ekonomi jika diperlukan. (afp/sumber lain/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA