Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
The Fed. Foto: wikipedia

The Fed. Foto: wikipedia

The Fed Perkirakan Inflasi Terus di Bawah 2%

(gor/ant), Rabu, 27 Februari 2019 | 08:54 WIB

WASHINGTON – Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) solid dan lapangan kerja terus bertambah. Namun Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memperkirakan, laju inflasi hingga beberapa waktu ke depan terus di bawah target bank sentral yang sebesar 2%.

Prediksi itu memperkuat komentar Powell bahwa The Fed akan bersabar sebelum mengambil langkah lebih lanjut mengenai suku bunga acuan AS.

“Penurunan harga energi belakangan ini besar kemungkinan terus menekan inflasi inti di bawah sasaran jangka panjang 2%,” ujar Powell, dalam pernyataan enam bulanan di hadapan Komisi Perbankan Senat AS di Washington.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali pada tahun lalu. Tapi meningkatnya ketidakpastian, khususnya mengenai perang dagang AS-Tiongkok, menambah kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan global. Juga kekhawatiran bahwa The Fed akan bergerak terlalu agresif.

Kondisi itu mendorong The Fed untuk memberi sinyal -selama beberapa pekan terakhir- bahwa pihaknya akan bertindak hati-hati. Kebanyakan ekonom sekarang memperkirakan tidak ada penaikan suku bunga acuan tahun ini. Sebagian kecil bahkan memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga jika ekonomi terus melambat.

Powell mengatakan, tolok ukur inflasi tahunan The Fed tetap sebesar 1,7%. “Waktu dan besaran penaikan suku bunga berikutnya akan bergantung pada data-data mendatang dan perkembangan prospek ekonomi,” kata Powell.

Ia tetap optimistis terhadap prospek ekonomi AS ke depan. Para pejabat The Fed, tambah dia, secara umum memperkirakan kegiatan perekonomian tetap tumbuh solid, walau sedikit melambat dibandingkan 2018. Pasar tenaga kerja pun, kata dia, akan tetap kuat. Namun demikian, ia mengakui bahwa sinyal-sinyal yang keluar dalam beberapa bulan terakhir saling kontradiktif.

Termasuk melambatnya pertumbuhan di negara-negara dan kawasan ekonomi besar, khususnya Tiongkok dan Eropa. “Ketidakpastian meningkat atas beberapa isu kebijakan pemerintah yang belum terselesaikan, termasuk Brexit dan negosiasi perdagangan. Kami akan terus mencermati setiap perkembangannya,” kata Powell. (afp/sn)

 

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN