Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BRI Diprioritaskan Rights Issue Tahun Depan

Rabu, 4 Februari 2015 | 20:29 WIB
Oleh Agustiyanti dan Devie Kania

JAKARTA – Pemerintah akan memprioritaskan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) untuk rights issue tahun 2016, sehingga perseroan bisa menjadi salah satu Qualified Asean Banks (QAB) untuk bersaing dengan bank-bank di Asean.

“Nanti kami lihat dari sisi modal untuk QAB dua bank yaitu, Bank Mandiri dan BRI. BRI tahun depan (rights issue), karena market tahun ini yang rights issue bukan hanya Bank Mandiri, BUMN lain juga ada,” kata Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Konstruksi, dan Jasa lainnya Kementerian BUMN Gatot Trihargo di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Gatot, pemerintah memiliki rencana untuk menyuntikkan modal di empat bank BUMN. Jika memungkinkan dari sisi kemampuan APBN dan kondisi pasar, lanjut dia, rights issue tiga bank BUMN (BRI, BNI, dan BTN) dilakukan tahun depan setelah rights issue PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada 2015.

“Nanti akan bergantung pada kemampuan APBN, apakah dua atau tiga bank yang dapat disuntikkan PMN (penyertaan modal negara) untuk rights issue, karena kami ingin menjaga porsi saham,” ujar dia.

Menurut dia, idealnya, modal keempat bank BUMN tersebut harus ditambah. Pasalnya, jumlah modal disetor pemerintah di keempat bank BUMN tersebut baru sekitar Rp 200 triliun. Pemerintah menginginkan agar bank bank BUMN menjadi besar. Dengan modal yang besar, ujar dia, batas maksimum pemberian kredit (BMPK) akan meningkat. Gatot menilai, bank bank BUMN saat ini memiliki kinerja yang baik dan cukup prospektif. Namun, kapasitas bank bank BUMN tersebut harus ditingkatkan guna meningkatkan daya saing.

Dalam menentukan BUMN yang menerima PMN, termasuk perbankan, lanjut dia, Kementerian BUMN akan mengutamakan BUMN yang dapat melakukan akselerasi dan mengembalikan dana yang disuntikkan pemerintah dalam bentuk PMN melalui pembayaran pajak. “Kami harus hitung dalam berapa tahun PMN, berapa leverage bisa kembali dari sisi pajak. Kami harapkan harapkan dalam 3-4 tahun. Hitungan kami, dalam lima tahun ke depan bisa balik. Kontribusi negara diperhitungkan begitu juga dengan efeknya ke sektor rill,” terang dia.

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni belum lama ini mengungkapkan, tahun ini BRI belum memiliki kebutuhan untuk penambahan modal melalui rights issue, karena rasio kecukupan modal (capital to adequate ratio/CAR) masih memadai sebesar 18,31%.

Namun, penambahan modal tetap dibutuhkan untuk menopang bisnis BRI ke depan. “Tanpa rights issue, tahun ini kami tetap akan menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur. Rasio modal kami masih sangat cukup tahun ini. Keperluan rights issue itu untuk kebutuhan pada tahun tahun ke depan,” tambah dia.

Genjot Transaksi Elektronik
Sementara itu, BRI berencana mendorong pertumbuhan pendapatan nonbunga (fee based income) dengan menggenjot transaksi electronic banking (e-banking) dan e-channel. Sampai Desember 2014, fee based income yang diperoleh BRI mencapai Rp 6,1 triliun.

Corporate Secretary BRI Budi Satria mengatakan, perseroan serius menggarap transaksi e-banking maupun e-channel. Saat ini, fee yang diperoleh dari anjungan tunai mandiri (ATM) dan e-channel merupakan fee income yang memberikan kontribusi terbesar bagi fee based income BRI. “Fee based income kami pada kuartal IV 2014 tumbuh 24,9% dibanding tahun 2013, yaitu dari Rp 4,9 triliun menjadi Rp 6,1 triliun,” ujar dia dalam siaran pers yang diterima Investor Daily di Jakarta, Selasa (3/2).

Pada akhir 2014, ungkap Budi, pemegang kartu ATM BRI tumbuh 66,3% secara year on year (yoy) dari 19,4 juta menjadi 32,2 juta. Sedangkan jumlah pengguna mobile banking BRI yang pada 2013 tercatat ada 5,9 juta, meningkat 49,3% menjadi 8,8 juta.

Pengguna internet banking BRI juga naik sebesar 103,8% (yoy) dari 1 juta menjadi 2,1 juta orang. Dari sisi jumlah transaksi, papar Budi, untuk ATM tumbuh 28,1% dari 1.150,7 juta pada Desember 2013 menjadi 1.474,5 juta. Sedangkan jumlah transaksi mobile banking BRI sebanyak 84 juta, meningkat hingga 56,2% menjadi 131,3 juta. Sementara itu, jumlah transaksi internet banking naik 140,4% (yoy) dari 23,9 juta menjadi 57,4 juta.

Dari volume transaksi, jelas Budi, ATM naik 25,7% dari Rp 757,8 triliun tahun 2013 menjadi Rp 952,6 triliun pada kuartal IV 2014. Mobile banking BRI tercatat meningkat hingga 130,5% menjadi Rp 48,5 triliun dari posisi akhir tahun 2013 yang mencapai Rp 21 triliun. Sedangkan volume transaksi internet banking BRI naik 219,1% (yoy), yakni dari sebesar Rp 26,8 triliun menjadi Rp 85,5 triliun pada akhir Desember 2014.

“Ke depan, BRI akan selalu mengembangkan jaringan unit kerja baik konvensional maupun e-channel. Kami juga akan meningkatkan kualitas layanan dalam bertransaksi,” ujar Budi.

Editor :

BAGIKAN