Menu
Sign in
@ Contact
Search

Ekonomi Indonesia Juga Terdampak Super Dolar

Rabu, 17 Juni 2015 | 11:06 WIB
Oleh Agustiyanti dan Devie Kania (redaksi@investor.id)

Dolar dalam 12 tahun terakhir menguat paling kuat. Ekonomi Indonesia juga terdampak super dolar, yang telah menimbulkan gejolak keuangan dan memukul per tumbuhan ekonomi negara berkembang. Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Indonesia (BI) merevisi turun beberapa kali proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Kondisi ini juga dialami hampir semua negara, termasuk negara-negara Eropa. Bahkan, dua kekuatan ekonomi besar dunia seperti Brasil sudah minus ekonominya sejak kuartal II-2012 dan Rusia minus sejak kuartal IV lalu. Hal ini ditambah raksasa ekonomi Tiongkok yang mengalami pukulan. Krisis penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok bersifat struktural.


Ekonomi global yang tidak menentu juga membuat harga komoditas turun selama 13 kuartal. Untuk Indonesia, hal ini menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 hanya 4,71%, terendah selama 12 triwulan. Untuk mendongkrak ekonomi, BI membantu relaksasi di sektor perbankan selambatnya 1 Juli mendatang, atau bahkan bisa minggu depan jika sudah bisa dirampungkan.


“Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi saat inilah, perbankan diharapkan lebih inovatif, berani, waspada, gesit, dan jangan terlalu takut jika non performing loan (NPL) sedikit naik. Industri perbankan masih memiliki kapasitas besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkontribusi pada dunia usaha, terutama sektor industri nonmigas,” kata Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo.


Agus Martowardojo menuturkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi RI saat ini – antara lain akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global – berimbas menurunkan intermediasi perbankan. Hal ini ditunjukkan pada per tumbuhan kredit kuar tal I-2015 di level 11,28%, atau di bawah target, sedangkan DPK tumbuh sekitar 16%. Akibatnya, LDR perbankan melonggar pada level 87,58%.


Melambatnya perekonomian nasional, lanjut dia, juga berdampak meningkatkan rasio kredit bermasalah atau NPL dari 2,16% pada akhir tahun lalu menjadi 2,4% pada kuartal I-2015. “Sektor yang perlu diwaspadai yakni konstruksi, perdagangan, pengangkutan, dan pertambangan,” ujar dia.


Agus menjelaskan, terjadinya perlambatan pada sumber pendanaan di sektor riil tergambar pada kinerja korporasi nonkeuangan yang sudah go public, yang mengalami penurunan. Hal ini membuat ruang perbankan untuk membiayai ekspansi korporasi menjadi terbatas, sehingga menurunkan pertumbuhan kredit perbankan.


Selain karena perlambatan per tumbuhan ekonomi, perlambatan pertumbuhan kredit disebabkan oleh prosiklikalitas industri perbankan, yang terlihat dari ketatnya persyaratan pengajuan kredit perbankan. Hingga kini, masih tinggi angka pengajuan kredit yang tidak disetujui dan undisburse loan meningkat akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat. (th/rw/gor)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/moneyandbanking/bi-pertumbuhan-semester-ii-lebih-baik/119409

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com