Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Modal Seluruh Konglomerasi Keuangan di Atas 100%

Senin, 10 Agustus 2015 | 19:12 WIB

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, seluruh entitas utama konglomerasi keuangan saat ini memiliki permodalan yang cukup untuk menenuhi ketentuan permodalan konglomerasi. Dalam draf Rancangan Peraturan OJK (RPOJK), konglomerasi keuangan wajib menyediakan modal minimum terintegrasi sebesar 100% dari modal minimum konglomerasi keuangan yang disyaratkan.


Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon menuturkan, OJK telah menetapkan besaran modal minimal konglomerasi keuangan secara terintegrasi. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, OJK menilai seluruh perusahaan konglomerasi telah memenuhi ketentuan permodalan minimum konglomerasi yang ditetapkan. “Sudah kami lihat, semua (konglomerasi keuangan) memenuhi kebutuhan modal minimum,” ujar Nelson di Jakarta, pekan lalu.


Dia memperkirakan, aturan tersebut kemungkinan akan dirilis ada kuartal IV-2015. Pasalnya, terdapat proses rule making rules yang cukup panjang. OJK sudah menetapkan sebanyak 50 konglomerasi keuangan. Adapun 50 konglomerasi keuangan tersebut memiliki total aset mencapai Rp 5.142 triliun atau sekitar 70,5% dari total aset industri jasa keuangan di Indonesia.


Dalam draf RPOJK tentang kewajiban penyediaan modal minimum terintegrasi bagi konglomerasi keuangan, konglomerasi keuangan wajib menyediakan modal minimum terintegrasi paling rendah sebesar 100% dari modal minimum konglomerasi keuangan yang dipersyaratkan.


Penyediaan modal minimum tersebut dihitung dengan menggunakan rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) terintegrasi, yang merupakan perbandingan antara total modal aktual dengan total modal minimum konglomerasi keuangan.


Total modal aktual konglomerasi keuangan merupakan nilai nominal penjumlahan dari modal aktual masing-masing lembaga jasa keuangan (LJK) secara individu dan/atau secara konsolidasi dengan perusahaan anak dalam konglomerasi keuangan, sesuai ketentuan di masing-masing sektor keuangan.


Total modal aktual tersebut wajib dikurangi dengan faktor pengurang modal berupa penyertaan LJK kepada LKJ lainnya dalam konglomerasi keuangan, dan penempatan dana hasil penerbitan instrumen modal LJK kepada LJK lain dalam konglomerasi keuangan berupa instrumen modal.


Sementara itu, total modal minimum merupakan nilai nominal penjumlahan dari modal minimum secara individu dan/atau secara konsolidasi dengan perusahaan anak yang dipersyaratkan bagi masing-masing LJK dalam konglomerasi keuangan, sesuai ketentuan di masing-masing sektor keuangan.


Selain kewajiban penyediaan modal minimum terintegrasi, menurut draf RPOJK tersebut, konglomerasi keuangan wajib menerapkan manajemen permodalan terintegrasi secara komprehensif dan efektif. Penerapan manajemen permodalan terintegrasi wajib dilakukan oleh entitas utama, direksi, dan dewan komisaris utama.


Kewajiban Pelaporan

Entitas utama wajib menyampaikan laporan kecukupan permodalan terintegrasi kepada OJK yang disampaikan secara semesteran, untuk posisi akhir Juni dan Desember. Penerapan KPMM sebagaimana diatur dalam POJK itu bagi konglomerasi keuangan yang terdiri atas LJK-LJK sejenis, berlaku efektif pada saat penerapan manajemen risiko terintegrasi dan tata kelola terintegrasi bagi konglomerasi keuangan dimaksud telah berlaku efektif pada masing-masing sektor.


Dalam aturan manajemen risiko konglomerasi keuangan yang dikeluarkan OJK sebelumnya, pengawasan konglomerasi keuangan secara terintegrasi akan dimulai pada konglomerasi keuangan yang entitas utamanya merupakan bank dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV awal tahun depan.


Bank-bank tersebut harus menyampaikan laporan profil risiko secara konglomerasi pada OJK per Juni 2015. Sedangkan kewajiban menyampaikan laporan profil risiko secara konglomerasi pada bank selain bank BUKU IV dan lembaga keuangaan bukan bank, termasuk perusahaan efek.


Baru-baru ini, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menjelaskan, kendati minimal modal ditetapkan sebesar 100% dari total penjumlahan modal minimal seluruh anggota lembaga jasa keuangan, tetapi menurut dia, modal antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya tidak bersifat subsidi silang.


Dengan demikian, setiap LJK tetap harus memenuhi minimal modal sesuai aturan di masing-masing sektor keuangan. “Bentuk minimal modalnya menggunakan building block, di atas 100%. Kalau overall memenuhi, tapi satu per satu ada yang kurang, itu nanti tetap harus dipenuhi. Jadi minimum dari sektoralnya tidak boleh ada yang kurang. Kami sudah memanggil beberapa konglomerasi keuangan untuk berdiskusi,” terang dia.


Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo menuturkan, jika syarat modal minimum yang ditetapkan OJK kepada BRI sebagai entitas utama sebesar 12%, BRI siap memenuhi persyaratan modal. BRI sebagai entitas utama pada tahun ini berencana menyuntikkan modal ke dua anak usaha yakni BRI Agro dan BRI syariah.


“BRI Agro akan memiliki modal Rp 1 triliun, sehingga bisa masuk ke BUKU II. Untuk BRI Syariah kami akan tambah modal agar tetap bisa menjaga CAR di atas 12% dan tetap menjadi bank devisa,” ujar Haru.


Direktur Utama PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Taswin Zakaria juga menuturkan, saat ini BII telah ditunjuk sebagai entitas utama dari konglomerasi keuangan Maybank Group di Indonesia. Taswin mengaku belum membaca rancangan aturan terkait permodalan tersebut, sehingga tidak bisa berkomentar lebih jauh terkait ketentuan permodalan tersebut.


Namun, menurut dia, masing-masing entitas keuangan Maybank Group sudah memenuhi ketentuan minimal permodalan masing-masing sektor keuangan. “Setiap entitas saat ini sudah memenuhi ketentuan permdoalannya masing-masing. Selama ini, karena beberapa entitas keuangan tidak dimiliki langsung BII, laporan keuangan dan permodalan kami tidak terkonsolidasi,” terang dia.


Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Panin Tbk Herwidayatmo juga mengatakan Bank Panin saat ini telah ditunjuk sebagai entitas utama dari konglomerasi keuangan Panin Group. Pada tahun ini, pihaknya berencana untuk meningkatkan permodalan perseroan melalui revaluasi aset sesuai dengan penerapan metode pernyataan standar akuntansi keuangan. (ID)

Editor :

BAGIKAN