Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BTN Jajaki Pembentukan Asuransi Jiwa

Selasa, 8 September 2015 | 20:47 WIB

JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali memproses  rencana pembentukan asuransi jiwa untuk direalisasikan tahun ini, setelah sempat tertunda pada 2014. Mitra yang digandeng masih mitra lama, yaitu PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) dan Dana Pensiun BTN.

 

Direktur Utama BTN Maryono mengakui, pembentukan asuransi jiwa ini memang sempat tertunda. Pasalnya, perseroan memerlukan kajian mendalam untuk membentuk asuransi jiwa tersebut. “Saat ini sedang dalam proses, lalu akan kami sampaikan permohonan izinnya ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan akan direalisasikan tahun ini,” ujar dia ditemui usai acara penandatanganan kerja sama BTN dengan Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta, Senin (7/9).

 

Terkait pembentukan asuransi jiwa ini, lanjut Maryono, perseroan belum menganggarkan dana secara spesifik, paling tidak di atas Rp 100 miliar.  Dengan pembentukan asuransi jiwa tersebut, ujar Maryono, perseroan berharap bisa mendukung penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Pasalnya, masyarakat yang menggunakan KPR BTN akan mendapatkan perlindungan asuransi jiwa.

 

Lebih lanjut mengenai penyaluran kredit, Direktur BTN Mansyur Nasution mengungkapkan, pertumbuhan kredit perseroan periode Agustus 2015 ini di angka 18%. “Memang terjadi perlambatan, karena ada periode Lebaran. Namun sampai akhir tahun ini kami optimistis di atas target 15-17%,” terang dia.

 

Fokus penyaluran kredit masih akan diarahkan untuk kredit perumahan, baik yang bersubsidi maupun nonsubsidi. Namun tahun ini, lanjut Maryono belum bisa memenuhi target sejuta rumah yang direncanakan pemerintah. Pasalnya, program tersebut terkendala perizinan dan pembebasan lahan. Sampai akhir tahun, diprediksi perseroan bisa membiayai 300 ribu unit rumah. Sementara itu, posisi saat ini sebanyak 241 ribu unit rumah. “Supaya program satu juta rumah berhasil, kami akan melakukan pendekatan dengan bupati dan gubernur se-Indonesia,” terang dia.

 

Untuk mendanai pembiayaan perumahan tersebut, perseroan tidak hanya mengandalkan simpanan, namun juga obligasi, dan opsi pendanaan lain. Direktur BTN Iman Nugroho Soeko mengungkapkan, kendati opsi pendanaan lain terbuka bagi BTN, perseroan belum berencana melakukannya pada semester II tahun ini. “Bahkan, rencana sekuritisasi tahun ini ditunda sampai waktu yang belum dapat ditentukan,” jelas dia.

 

Sebelumnya, Iman juga menjelaskan, permintaan kredit belum menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan kredit BTN yang awalnya ditargetkan 18-19%, direvisi menjadi 14-16%. Dengan melambatnya pertumbuhan kredit tersebut, Iman menilai BTN belum memerlukan likuiditas tambahan. Apalagi, BTN sudah menerbitkan obligasi senilai Rp 3 triliun.

 

“Jadi rencana sekuritisasi kami tunda dulu, termasuk yang KIK-EBA dan EBA-SP, sampai dana obligasi habis dan pertumbuhan kredit mulai kembali kencang,” jelas dia.

 

Lagipula, lanjut Iman, penerbitan sekuritisasi saat ini bisa membuat BTN kehilangan portofolio kredit. Pasalnya, sekuritisasi berarti menjual kembali portofolio kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi dana baru yang berarti hanya menambah likuiditas tanpa ada pasar untuk menyalurkan kredit baru. Penundaan pendanaan baru juga dilakukan terhadap tawaran dari International Finance Corporation (IFC). Padahal, IFC sudah bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenai tawaran pendanaan ini.

 

Iman mengungkapkan, alasan penundaan bukan hanya terkait perlambatan pertumbuhan kredit namun juga pertimbangan nilai tukar rupiah yang sedang melemah. “Kalau kami dapat pinjaman dari IFC kan denominasinya dolar AS, ketika di-swap nanti biayanya mahal,” ujar dia.

 

Sementara itu, perseroan juga mempersiapkan jaringan kantor untuk mendukung pembiayaan perumahan. Sampai saat ini, ungkap Maryono, perseroan memiliki 854 cabang. Selain itu, BTN memiliki gerai khusus untuk pembiayaan perumahan yang tahun ini berjumlah 50 gerai. BTN mendapat dukungan dari Kantor Pos melalui 3.800 jaringannya di seluruh Indonesia. Sampai Juni lalu, BTN membukukan aset Rp 155 triliun, penyaluran kredit Rp 126 triliun, dan laba Rp 831 miliar. (ID)

Editor :

BAGIKAN