Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pemeringkatan Risiko Kesehatan Terintegrasi Mulai Tahun Ini

Jumat, 15 Januari 2016 | 20:09 WIB
Oleh Agustiyanti dan Devie Kania

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merampungkan draf aturan pemeringkatan risiko kesehatan konglomerasi keuangan. Pemeringkatan tersebut akan dimulai tahun ini, dan sanksi terkait penerapan aturan tersebut akan berlaku tahun depan.


Direktur Pengawas Perbankan OJK Anung Herlianto menuturkan, Peraturan OJK terkait dengan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) telah rampung dan tengah menunggu pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). OJK juga telah merampungkan draf aturan terkait peringkat kesehatan konglomerasi keuangan.


“Drafnya sudah ada dan mungkin tidak lama lagi tinggal keputusan, mungkin pad semester pertama tahun ini,” ujar Anung kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (14/1).


Pemeringkatan risiko kesehatan secara terintegrasi bagi konglomerasi keuangan akan dilakukan tahun ini. Namun, sanksi terkait dengan penerapannya kemungkinan tidak langsung diimplementasikan tahun ini, tetapi akan dilaksanakan satu atau dua tahun setelah penerapan perhitungan pemeringkatan risiko kesehatan tersebut. Adapun sanksi terkait penerapan pemeringkatan terintegrasi dapat berupa teguran, denda, hingga pembatasan kegiatan usaha.


“Kemungkinan aturannya akan berlaku bertahap terlebih dahulu untuk bank kategori BUKU (bank umum kegiatan usaha) IV, seperti perhitungan KPMM terintegrasi,” terang dia.


Di sisi lain, menurut dia, perhitungan KPMM terintegrasi bagi konglomerasi keuangan akan diwajibkan mulai Agustus 2016 untuk pelaporan posisi Juni 2016 pada BUKU) IV. Kendati baru akan dimulai dari bank kelompok BUKU IV, menurut dia, seluruh konglomerasi keuangan yang ada saat ini memiliki modal di atas kewajiban penyediaan minimum modal (KPMM) secara terintegrasi sebesar 100%.


Berdasarkan data OJK, saat ini terdapat sebanyak 50 konglomerasi keuangan yang terdiri atas 14 grup konglomerasi keuangan yang bersifat vertikal, 29 grup konglomerasi keuangan yang bersifat horizontal, dan tujuh grup konglomerasi keuangan yang bersifat mixed. Adapun hingga September 2015, total aset 50 konglomerasi keuangan mencapai Rp 5.123 triliun atau sekitar 70,3% dari total aset industri keuangan sebesar Rp 7.298 triliun.


Sementara itu, Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Zulkifli Zaini menuturkan, aturan terkait penyampaian profil risiko maupun ketentuan KPMM terintegrasi telah diatur oleh OJK dan wajib dipenuhi oleh konglomerasi keuangan. Namun, menurut dia, perlu dipastikan di entitas utama maupun di lembaga-lembaga jasa keuangannya semua pelaksana aturan tersebut harus memahami dan melaksanakan dengan baik.


“Akhirnya juga kembali ke SDM yang perlu diyakini mereka memiliki kompetensi melaksanakan manajemen maupun tata kelola terintegrasi, apalagi nanti keluar KPMM terintegrasi,” terang dia.


Manajemen Integrasi

Sementara itu, sejumlah entitas utama dalam konglomerasi keuangan lembaga jasa keuangan (LJK) kesulitan untuk menerapkan manajemen integrasi dengan sister company yang berupa perusahaan patungan (joint venture/JV). Pasalnya, mitra strategis sister company tersebut rata-rata berasal dari luar negeri dan belum terbiasa dengan ketentuan konglomerasi LJK di Indonesia.


Direktur Utama PT Bank Permata Tbk Roy Arman Arfandy mengatakan, perseroan menjadi entitas utama LJK dari Group Astra sesuai keputusan internal grup. Sejauh ini, ada 12 sister company dan hanya PT Astra Sedaya Finance (Astra Credit Companies/ACC) yang memiliki hubungan langsung dengan Bank Permata. Sebab, perseroan memiliki kepemilikan saham di perusahaan multifinance itu sebesar 25%.


Dia menegaskan, ketentuan terkait manajemen terintegasi telah dipenuhi. Bank Permata memiliki empat sister company lembaga jasa keuangan yang berupa JV. “Dua dari empat perusahaan tersebut adalah PT Toyota Astra Financial Services dan PT Komatsu Astra Finance. Rekanan JV dari perusahaan itu belum terbiasa dengan ketentuan ini. Itu tantangan bagi kami untuk menjelaskan kepada mereka dan mendapat akses data,” ujar dia di Jakarta, Rabu (13/1).


Perseroan merasa belum memiliki tangan yang cukup kuat terkait transparasi keterbukaan data di sister company JV. Di samping itu, sebagai entitas keuangan perseroan juga tidak berkeinginan upaya penerapan ketentuan itu membuat Bank Permata sampai melanggar ketentuan yang berlaku di perseroan terbatas (PT).


Berdasarkan kondisi tersebut, Bank Permata mengharapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat meningkatkan sosialisasi penerapan manajemen terintegrasi kepada perusahaan nonbank yang memiliki anak usaha termasuk dalam konglomerasi keuangan LJK. “Apabila pemegang saham asing kurang menangkap ketentuan manajemen terintegrasi ini, bisa critical. Jadi sosialisasi yang aktif itu sangat dibutuhkan,” jelas dia.


Pendapat senada diutarakan Direktur PT Asuransi Sinar Mas (ASM) Dumasi MM Samosir. Dia meyatakan, salah satu tantangan yang dialami untuk menerapkan manajemen terintegrasi adalah mengenai keterbukaan data oleh perusahaan sister company. Saat ini, ASM memiliki enam sister company berupa LJK, dan salah satu perusahaan JV yang terafiliasi adalah PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life).


Sebelumnya, dalam tahap awal ASM merupakan entitas utama di konglomerasi keuangan LJK yang berasal dari industri keuangan nonbank. Namun, menjelang akhir tahun lalu posisi entitas utama dari konglomerasi lembaga jasa keuangan Group Sinarmas beralih kepada PT Bank Sinarmas Tbk.


“Itu kan kewenangan dari OJK untuk memutuskan. Namun, beberapa waktu lalu satu dari general insurance di grup kami mengundurkan diri dari konglomerasi keuangan Sinarmas. Namun, ASM memang hanya memiliki saham 30% di perusahaan itu,” papar Dumasi. (ID)


Editor :

BAGIKAN