Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Literasi Rendah dan Serakah Picu Fraud

Kamis, 23 Februari 2017 | 13:58 WIB
Oleh Gita Rossiana dan Fikry Rausyan

JAKARTA- Sifat serakah (greedy) investor yang ingin meraup keuntungan besar dalam waktu singkat seraya mengesampingkan faktor-faktor rasionalitas turut memicu maraknya kasus penipuan (fraud) berkedok investasi. Terbukti korban fraud banyak yang berpendidikan tinggi, paham investasi, berasal dari kalangan menengah ke atas, dan tinggal di perkotaan. Pemicu lain terjadinya fraud adalah masih rendahnya literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air.


Indeks literasi dan inklusi keuangan saat ini masing-masing baru mencapai 29,66% dan 67,82%. Masih rendahnya literasi dan inklusi keuangan juga tercermin pada minimnya jumlah investor pasar modal dan nasabah perbankan. Jumlah investor pasar modal domestik baru sekitar 600 ribu atau 0,2% dari populasi. Sedangkan jumlah nasabah perbankan baru sekitar 60 juta orang atau 24% dari populasi meski jumlah rekeningnya mencapai 175 juta.


Untuk mendongkrak literasi dan inklusi keuangan secara efektif, seluruh pemangku kepentingan (stakehoderes), terutama pemerintah dan pelaku industri, harus menggalakkan edukasi dan sosialisasi yang lebih terintegrasi, masif, intens, kontinu, dan terencana. Meningkatnya literasi dan inklusi keuangan pada akhirnya juga akan menciptakan budaya investasi yang sehat. Apalagi jika penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara tegas dan konsisten.


Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad, Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, ekonom UI Budi Frensidy, perencana keuangan Joice Tauris Santi, Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawodinata, dan analis Infovesta Utama Wawan Hendrawan.


Mereka dihubungi terpisah di Jakarta, Rabu (22/2), seputar masih maraknya kasus penipuan berkedok investasi. Kasus terbaru yang menggemparkan masyarakat adalah penipuan dan penggelapan yang diduga dilakukan Salman Nuryanto lewat koperasi Pandawa Group di Depok, Jawa Barat. Dengan iming-iming keuntungan 10% per bulan, Nuryanto menggalang dana hingga Rp 3 triliun. Ribuan nasabah menjadi korban. Nuryanto ditangkap polisi, Senin (20/2).


Berdasarkan Peraturan OJK No 76 /POJK07/2016 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan bagi Konsumen atau Masyarakat, literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.


Adapun inklusi keuangan adalah ketersediaan akses pada berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan. (nti/c10/tl/az)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/dua-profil-korban-penipuan-investasi/156927

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN