Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso saat Public Expose Live 2021, Kamis (9/9/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso saat Public Expose Live 2021, Kamis (9/9/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rights Issue BRI untuk Hadirkan Ekosistem Ultramikro Terbesar di Indonesia

Rabu, 15 September 2021 | 19:12 WIB
Thomas E Harefa (thomas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Aksi korporasi rights issue PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), bank yang memiliki jaringan terluas di Indonesia dengan nilai transaksi mencapai Rp 95,92 triliun, akan digunakan perseroan untuk modal kerja Holding Ultramikro dan pengembangan ekosistem bagi segmen pelaku usaha ultramikro serta bisnis mikro dan kecil.

Dalam prospektus yang telah diterbitkan BRI pada 31 Agustus lalu, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan, setelah Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I. Harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp 3.400 per lembar saham.

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, penggunaan dana dari hasil rights issue cukup jelas yakni Rp 54,7 triliun akan menjadi penyertaan BRI di Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai konsekuensi dari inbreng pemerintah.

“Dan maksimal dana tunai yang akan BRI terima sekitar Rp 41 triliun dan sekitar 60-70% akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan dalam rangka pengembangan, serta penguatan ekosistem segmen ultramikro. Sisanya untuk modal kerja pada segmen bisnis mikro dan kecil,” jelas Sunarso dalam siaran pers, Rabu (15/9/2021).

Sunarso merinci dengan harga pelaksanaan transaksi Rp 3.400, pemegang saham yang tercatat secara sah pada recording date akan menerima HMETD dengan perbandingan kurang lebih 230 juta HMETD untuk setiap 1 miliar saham yang dimiliki. Atau jika diperkecil kurang lebih 23 HMETD untuk setiap 100 saham atau 1 lot yang dimiliki.

Dia pun menjelaskan, dengan potensi pertumbuhan ekosistem usaha ultramikro yang masih besar di Indonesia akan menjadi pendorong positif pertumbuhan bisnis BRI di masa depan. BRI akan terus memfokuskan kepemimpinannya yakni menyasar pembiayaan di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ultramikro. “Langkah ini sejalan dengan prinsip awal lahirnya BRI. Karena DNA-nya BRI memang sudah jadi bank mikro. Karena itu, komitmen BRI akan tetap konsisten dominan di UMKM,” ungkap dia.

Selain itu, aksi korporasi ini diharapkan akan berdampak pada kenaikan valuasi saham BBRI. Karena itu pihaknya mengajak kepada seluruh investor untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengeksekusi haknya di dalam rights issue.

Adapun untuk investor, Sunarso mengingatkan timeline proses penawaran umum terbatas. Exercise period akan dilaksanakan mulai 13-22 September 2021. Periode ini merupakan periode di mana pemegang saham yang memiliki HMETD yang tercatat pada record date dapat mengeksekusi HMETD. “Dengan timeline ini, kami berharap proses ini dapat selesai pada 29 September 2021,” imbuh dia.

Sunarso menegaskan, rights issue BRI bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan bisnis perseroan di masa yang akan datang melalui pembentukan dan penguatan ekosistem ultramikro. Hal tersebut ditempuh dengan menambah portofolio perusahaan anak yang selama ini bergerak dan berkinerja baik di segmen ultramikro yaitu Pegadaian dan PNM.

“Pembentukan ekosistem ultramikro akan memperkuat perjalanan BRI dalam mencapai aspirasi The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion, dan terus memberikan value berkelanjutan bagi seluruh stakeholders,” ujar Sunarso.

Menurut dia, Holding Ultramikro akan menghasilkan lembaga pemberdayaan mikro termasuk ultramikro terbesar yang memiliki ekosistem keuangan terlengkap. Ekosistem ultramikro yang dibangun berdasarkan sinergi model bisnis BRI, Pegadaian, dan PNM akan mampu memberikan journey layanan keuangan yang terintegrasi bagi pelaku usaha di segmen tersebut.

Lebih lanjut, Sunarso menjelaskan besarnya potensi holding dari segi bisnis. Berdasarkan data Kemenkop dan UKM RI, Asian Development Bank, pada 2018 terdapat sekitar 45 juta usaha ultramikro yang membutuhkan pendanaan tambahan. Dan sejauh ini, hanya sekitar 15 juta usaha ultramikro yang tersentuh pendanaan dari lembaga keuangan formal. Dengan menjangkau potensi ultramikro, aksesibilitas layanan keuangan di segmen tersebut dapat dioptimalkan. Pembentukan ekosistem usaha ultramikro, lanjut dia, berpotensi menciptakan sinergi bisnis yang saling mendukung, melengkapi dan menguntungkan bagi ketiga entitas.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN