Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BCA. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Bank BCA. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

BCA Catat Transaksi di Kantor Cabang Tinggal 0,2%

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:15 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengaku sampai dengan saat ini mayoritas transaksi keuangan dilakukan di luar kantor cabang yakni mencapai 99,8%, sedangkan transaksi di cabang tinggal 0,2%. Meskipun dari persentase sangat kecil, nasabah yang ke cabang bertransaksi dengan nilai yang besar.

"Sekarang masih ada 0,2% yang datang ke cabang untuk transaksi, ternyata setoran dalam jumlah besar, penarikan dalam jumlah besar masih banyak. Memang 0,2% tapi per transaksi itu ratusan juta dan miliaran," ucap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam webinar Kamis (14/10).

Secara persentase transaksi di cabang terus mengalami penurunan, meskipun dari nilai transaksi masih besar. Jahja juga menyebut, transaksi menggunakan mesin ATM saat ini sekitar 13,4%, jumlah ini melandai dari sebelumnya. Sedangkan transaksi yang dilakukan secara digital sebanyak 86,4%.

"Kita belum bisa seperti China yang cashless, walaupun penggunaan uang cash tidak drastis seperti digital atau ATM, tapi banyak tergantikan. Transaksi di ATM turun dari 40% ke 30%, sekarang 13,4%," kata Jahja.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja

Menurut dia, nasabah BCA memiliki rentang usia mulai dari 20 tahun hingga 90 tahun, sehingga tidak semua nasabah bisa mengakses layanan digital. Selain dari faktor usia, besaran nilai yang ingin ditransaksikan juga terbatas pada layanan digital, sehingga nasabah tetap harus ke kantor cabang.

"ATM itu tidak bisa mengeluarkan duit Rp 300 juta, Rp 500 juta, Rp 1 miliar, walaupun bisa kita buka, tapi nanti digunakan untuk money laundering, kita nggak mau," imbuh dia.

Jahja juga menjelaskan, sebagai institusi perbankan yang diatur dan diawasi dengan ketat, BCA menjaga agar transaksi besar hanya bisa dilakukan di kantor cabang. Hal tersebut juga untuk mencegah terjadinya pembobolan rekening secara digital seiring maraknya cyber crime. "Kita bisa saja open, tapi kalau sudah dibuka, sekali kebobolan habis sudah dananya," ujar dia.

Pihaknya menegaskan bahwa kantor cabang masih dibutuhkan, meskipun saat ini eranya bank digital tanpa cabang. Sebab, banyak nasabah yang masih menyukai transaksi giro yang mengharuskan nasabah datang ke kantor cabang.

Di samping itu, Jahja juga menyampaikan tidak semua kredit bisa dilayani secara digital. Untuk kredit konsumen masih bisa melalui digital, namun BCA adalah bank besar yang memiliki nasabah beragam.

"Kalau kita lihat bank secara fisik masih diperlukan, karena cabang itu bisa memberikan kepercayaan masyarakat. Untuk kredit macam-macam ada KPR, KKB, UKM, komersial, korporasi, makanya bank digital tidak perlu cabang karena relatif hanya kredit konsumen, tapi bank tradisional perlu cabang, untuk menjaga hubungan relasi dengan nasabah," papar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN