Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan paparan tentang Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, Rabu (24/11/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan paparan tentang Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, Rabu (24/11/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

BI Targetkan Kredit 2022 Tumbuh 6-8% 

Rabu, 24 November 2021 | 14:11 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menilai stabilitas sistem keuangan terjaga, sehingga mampu untuk menyalurkan kredit ke depannya. BI pun menargetkan pertumbuhan kredit 2022 sebesar 6-8% secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, untuk target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini berkisar 4-6% (yoy). Artinya, tahun depan permintaan dan penyaluran kredit akan lebih baik dari tahun ini.

Selain kredit, BI juga memasang target pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 2022 sebesar 7-9% (yoy). Target tersebut lebih rendah dibandingkan tahun ini yang sebesar 8-10% (yoy).

"Stabilitas sistem keuangan terjaga, kecukupan modal tinggi, dan likuiditas melimpah. DPK dan kredit akan tumbuh 7-9% dan 6-8% pada 2022," jelas Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan BI 2021, Rabu (24/11).

Perry mengungkapkan, target kredit perbankan tahun depan didukung oleh penawaran kredit perbankan yang kondusif, suku bunga menurun, likuiditas melimpah, serta lending standard yang membaik.

Pihaknya juga mencatat terdapat sembilan sektor atau industri yang siap untuk disalurkan kredit, antara lain, perkebunan; kimia-farmasi; hortikultura; tanaman pangan.

Kemudian, pengolahan tembakau; makanan-minuman; kayu dan furnitur; kertas; serta pertambangan dan logam. "Sedangkan sektor-sektor lain perlu stimulus untuk dapat tumbuh dan kredit meningkat," kata Perry.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN