Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BSI, Bank Hasil Merger untuk Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah

BSI, Bank Hasil Merger untuk Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah

BSI Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp 13 Triliun

Rabu, 24 November 2021 | 19:13 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencatat penyaluran pembiayaan untuk sektor infrastruktur mencapai Rp 13 triliun sampai dengan Oktober 2021. Perseroan berkomitmen untuk terus menyalurkan pembiayaan pada sektor tersebut, terutama melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Wholesales & Transaction Banking Director BSI Kusman Yandi menyampaikan, pihaknya memiliki portofolio pembiayaan di tujuh ruas jalan tol dengan limit senilai Rp 5,3 triliun. Pembiayaan dengan nilai besar juga dilakukan proyek ketenagalistrikan PLN maupun proyek kelistrikan lainnya.

"Sampai dengan Oktober 2021, BSI memiliki portofolio pembiayaan infrastruktur lebih dari Rp 13 triliun. Ini angka yang relatif besar kalau dibandingkan total eksposur pembiayaan kami pada posisi yang sama sebesar Rp 193 triliun, atau mencapai 8% dari total pembiayaan," kata Kusman dalam diskusi virtual dengan tema Akselerasi Pembangunan Infrastruktur 2022 di acara Beritasatu Outlook 2022, Rabu (24/11).

Dia menyatakan, BSI belum bisa secara spesifik menentukan target pembiayaan untuk proyek-proyek infrastruktur di tahun 2022. Sebaliknya, Kusman bilang bahwa pembiayaan diyakini bertumbuh seiring dengan ekspansi pembiayaan di tahun depan. "Kita memproyeksikan pertumbuhan di tahun 2022 itu 7-8%. Jadi dari sisi sektor kemungkinan tidak jauh dari angka bank wide yaitu 7-8%," kata dia.

Selain memiliki portofolio di proyek-proyek jalan tol dan ketenagalistrikan, BSI juga mencatatkan portofolio proyek infrastruktur lain seperti bandara, pelabuhan, telekomunikasi dan pemeliharaan jalan. Ke depan, perseroan akan memperluas cakupan pembiayaan dengan skema KPBU. Adapun sepanjang 2021 BSI sudah menyetujui lima proyek infrastruktur, empat diantaranya dengan skema KPBU dengan total limit Rp 1,8 triliun.

"Kami memang melihat untuk beberapa proyek infrastruktur, terutama beberapa proyek KPBU. Proyek KPBU ini cukup luas jenisnya, pemeliharaan jalan misalnya kami sudah masuk dua proyek. Kami melihat potensi proyek pembangunan sarana air minum, lalu proyek irigasi. Keempat adalah perbaikan dan pemeliharaan jembatan. Ini sebagian dari pipeline yang kami sedang proses," beber Kusman.

Terlepas dari sejumlah pipeline tersebut, pihaknya juga merencanakan tetap melakukan pembiayaan pada proyek jalan tol, bandara, dan pelabuhan. Masuk dalam pipeline yang disebut turut memiliki nilai pembiayaan cukup besar yakni proyek pembangunan dan pemeliharaan jembatan.

Kusman mengungkapkan, BSI tetap berkomitmen menyalurkan pembiayaan pada infrastruktur di tahun 2022. Apalagi setelah merger, kini BSI memiliki kapabilitas permodalan yang cukup kuat. Di sisi lain, industri bank syariah juga mendorong perusahaan mengakselerasi pembiayaan sindikasi, termasuk di sektor infrastruktur.

Dia juga menjelaskan, ada funding gap atas kebutuhan pendanaan infrastruktur yang cukup besar di tahun 2020-2024. Kebutuhan tercatat mencapai Rp 6.445 triliun dan kapasitas APBN hanya mampu menyediakan Rp 2.385 triliun, sehingga funding gap tercatat relatif besar yakni senilai Rp 4.060 triliun atau 63% dari total kebutuhan.

Funding gap itu tersebar di beberapa kelompok proyek seperti infrastruktur pelayanan dasar, infrastruktur ekonomi, infrastruktur perkotaan, serta energi dan ketenagalistrikan. Tapi disisi lain, bank memiliki selera dan standar kelayakan yang berbeda untuk bisa melakukan pembiayaan terhadap sejumlah proyek infrastruktur tersebut.

"Terkait dengan prospek, funding gap lebih dari Rp 4.000 triliun ini tentu merupakan satu potensi untuk perbankan berpartisipasi di dalam kebutuhan pembiayaan. Ini suatu angka yang besar dengan beragam proyek dan tentu bisa disesuaikan kembali appetite dari perbankan," kata dia.

Peluang untuk menutup gap itu memang dapat dilakukan melalui skema KPBU, terutama dalam rangka meningkatkan kelayakan finansial untuk proyek-proyek infrastruktur dengan internal rate of return (IRR) dibawah 10%. Tapi cara itu dinilai memerlukan inisiatif dan komitmen lebih dari pemerintah.

Sementara dari sisi tantangan, pandemi Covid-19 yang memukul arus kas nasabah eksisting dapat menghambat BSI kembali masuk menyalurkan pembiayaan pada proyek baru. Sehingga bank kini masih dihadapkan pada tantangan untuk lebih jeli memilih proyek secara selektif. Kondisi yang diproyeksi mulai membaik di tahun 2022 diharapkan bisa membuka celah untuk masuk ke proyek-proyek baru tersebut.

Tantangan berikutnya adalah menyangkut leverage ratio dari para pemain di proyek infrastruktur, sehingga bank memiliki keterbatasan untuk masuk melakukan pembiayaan. Tapi permasalah leverage ratio itu disebut bisa dialihkan lewat skema pembiayaan al ijarah al muntahiyah bi al-tamlik (IMBT). Sedangkan tantangan lainnya di proyek-proyek infrastruktur yakni mengenai isu pembebasan lahan, nilai pembiayaan yang besar, dan tenor yang panjang.

"Dua hal ini cukup menantang untuk perbankan masuk sehubungan dengan tingkat risiko. Karena proyek bisa lebih dari 15 tahun, konsesi jalan tol juga rata-rata di angka 40 tahun. Tantangan lain adalah keterbatasan permodalan perbankan. Tetapi bagi kami ini menjadi suatu potensi yang bisa kami garap bersama melalui pendekatan sindikasi, BSI dalam beberapa kesempatan juga sudah memimpin pembiayaan jalan tol, termasuk pemeliharaan jalan dengan skema KPBU," terang Kusman.

Dia mengatakan, perekonomian Indonesia di tahun 2022 dipandang akan lebih baik melihat tren penyebaran kasus Covid-19 yang kian menurun dan masyarakat kembali berkegiatan. Situasi itu pun sebagai momentum untuk bank melakukan ekspansi bisnis melalui sejumlah skema pembiayaan syariah yang khas dan unik.

"Kami melihat pembiayaan infrastruktur yang sudah tercatat relatif besar yaitu Rp 13 triliun, kami masih melihat ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan pembiayaan kami kedepan. Kami tentu berharap beberapa proyek dapat insentif pemerintah dengan skema KPBU yang bisa digarap bersama," tandas Kusman.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN