Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama BRI Sunarso pada acara Halal Bi Halal bersama para pemimpin redaksi di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Direktur Utama BRI Sunarso pada acara Halal Bi Halal bersama para pemimpin redaksi di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Restrukturisasi Kredit Nasabah BRI Terdampak Pandemi Tersisa Rp 144 Triliun

Sabtu, 14 Mei 2022 | 00:37 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id) ,Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Selama pandemi Covid-19, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan restrukturisasi kredit sebesar Rp 246 triliun dan kini tersisa Rp 144 triliun. Penyusutan sekitar Rp 100 triliun itu terbagi atas Rp 69 triliun yang telah lunas tapi debitur tidak melanjutkan kredit baru dan sebesar Rp 21 triliun yang selesai dan kredit berlanjut.

Sedangkan kredit direstrukturisasi yang diperkirakan tidak bisa diselamatkan senilai Rp 6 triliun. Nilai itu mencakup sekitar 5% dari Rp 246 triliun kredit yang direstrukturisasi BRI. Risiko yang mungkin terjadi masih dapat diantisipasi melalui pencadangan yang telah dilakukan.

Baca juga: Sunarso: Pertumbuhan Kredit BRI Anti Krisis

"NPL 3,09%, kita cadangkan 276%. Jadi kalau bicara angka, NPL BRI itu sekitar Rp 30 triliun, sedangkan cadangan yang ada sekitar Rp 80 triliun. Maka kalau dua kali cadangan saja butuh Rp 60 triliun, sehingga kita masih punya simpanan Rp 20 triliun," kata Direktur Utama BRI Sunarso pada acara Halal Bi Halal bersama para pemimpin redaksi di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Di sisi lain, BRI berupaya menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sebagai salah satu bentuk transformasi neraca keuangan (balance sheet) menjadi lebih sehat. Dengan sejumlah inisiatif yang telah dilakukan, CoF BRI kini mampu susut menjadi 1,7%.

Sunarso menerangkan bahwa BRI telah lama diguyur kejayaan. Tapi, berkah itu tidak membuat perusahaan menjadi malas untuk berubah. Berbagai tantangan sudah seharusnya direspons tepat sasaran.

Sebelum 2014, kata dia, tingkat bunga efektif KUR bisa mencapai 22%. Besaran itu berubah seiring rezim baru yang mendorong tingkat bunga efektif KUR menjadi 14%. Karena itu, transformasi menurunkan rasio CoF dibutuhkan agar pos pendapatan tidak ikut tergerus.

Baca juga: Bank Raya Diramu BRI untuk Integrasikan Proses Bisnis

"Maka cabang dan kantor wilayah, semuanya saya haramkan mengurus dana kelembagaan atau korporasi. Semua itu ditarik ke kantor pusat. Sehingga yang urus itu sedikit dengan biaya rendah. Jadi, dananya mahal tapi biayanya murah, kalau dijumlah maka ketemu di tengah-tengah. Sumber daya yang banyak di daerah hanya boleh cari dana dari ritel, ritel, dan ritel," ungkap Sunarso.

Dia menegaskan, BRI tidak menghitung peningkatan performa bagi sumber daya di daerah yang hanya mencari dana mahal. Dengan pendekatan tersebut, pergerakan mencari dana dari segmen ritel pun dinilai dapat berlangsung baik "Alhamdulillah, CoF turun mencapai yang terendah sepanjang sejarah BRI yakni 1,7%," ujar Sunarso.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN