Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Prof Dian Masyita, Pengamat Ekonomi Syariah, Dosen Universitas Padjajaran Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di BeritaSatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Prof Dian Masyita, Pengamat Ekonomi Syariah, Dosen Universitas Padjajaran Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di BeritaSatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Agar Dipilih Masyarakat, Bank Syariah Harus Menjaga Kekhasan  

Kamis, 8 April 2021 | 19:30 WIB
Herman

Jakarta, investor.id – Pengamat Ekonomi Syariah yang juga dosen di Universitas Padjajaran Bandung Dian Masyita menyampaikan, agar bisnis bank syariah bisa terus melesat dan menjadi pilihan banyak masyarakat, perlu ada kekhasan yang harus terus dipertahankan, sehingga tidak menjadi bank syariah dengan rasa konvensional. Beberapa prinsip bank syariah antara lain harus terhindar dari riba atau bunga, gharar atau ketidakjelasan dana, maupun maysir atau perjudian.

“Banyak lesson learn yang bisa kita pelajari dari pengelolaan bank syariah sebelumnya, bahwa mindset bisnis memang harus dipertimbangkan, tetapi juga nature dari bank syariah itu harus memiliki kekhasan. Kekhasan itulah yang membuat orang memilih bank syariah,” kata Dian Masyita dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Prospek Industri Perbankan Syariah Indonesia” yang disiarkan langsung BeritaSatu TV, Kamis (8/4/2021).

Dian menambahkan, selain harus terhindar dari riba, gharar, dan maysir yang menjadi kekhasan bank syariah, akad transaksi bank syariah juga perlu menerapkan sistem profit-loss sharing.  

“Untuk menerapkan profit-loss sharing itu ada dua belah pihak, baik bank maupun nasabahnya harus paham. Selain itu pengusaha penerima pembiayaan juga harus paham. Jadi, nasabahnya mengerti kalau usaha itu turun-naik, dan rela atau ikhlas bisa untung lebih besar dari suku bunga yang ada di bank lainnya, atau bisa juga turun suatu saat, karena di bisnis yang menggerakkan uang mereka juga ada dinamikanya. Nah, bank sebagai intermediary harus bisa menjembatani dengan sistem yang baik. Jadi, pembedanya harus jelas, sehingga masyarakat punya alasan yang kuat untuk pindah ke bank syariah karena akad-akadnya clear,” ungkap Dian.

Hal selanjutnya terkait nilai keberkahan rezeki yang juga harus ditanamkan. “Tentu niat orang ke perbankan syariah itu karena ada keberkahan rezekinya. Jadi, harus paham bagaimana keberkahan itu, paham konsep terhadap uang dan rezeki, itu harus ditanamkan kepada ketiga pihak ini, baik nasabah, orang yang bekerja di perbankan, maupun penerima pembiayaan,” kata Dian.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN