Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Bank Mandiri,  Darmawan Junaidi. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bank Mandiri: Perpanjangan Restrukturisasi Kredit Sangat Tepat

Jumat, 20 November 2020 | 20:45 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menilai, tahun 2021 masih menjadi tantangan bagi perbankan. Untuk itu, perpanjangan program restrukturisasi kredit dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Maret 2022 merupakan keputusan yang tepat untuk membantu bank dan sektor riil pulih dari krisis akibat pandemi Covid-19.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengungkapkan, perseroan berhati-hati dan tidak terlalu agresif dalam ekspansi bisnis ke depan. Hal itu juga terpengaruh oleh Peraturan OJK (POJK) 11/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19, di mana bank bisa mengelola likuiditas dan permodalannya.

"Sebab, hal itu akan menunda pendapatan bunga yang diterima serta kebutuhan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) secara khusus untuk antisipasi penurunan kualitas kredit yang direstrukturisasi," ujar Darmawan Junaidi dalam webinar di Jakarta, Jumat (20/11).

Darmawan menjelaskan, pemulihan ekonomi akan terjadi secara gradual. Pada 2021, perekonomian nasional bakal mulai tumbuh positif. "Dengan kondisi seperti ini, POJK 11 kalau hanya berlaku sampai 2021 akan berat bagi kami ke depan. Jadi, keputusan OJK memperpanjang program restrukturisasi kredit sampai Maret 2022 sangat tepat," tegas dia.

Hindari PHK

Menurut Darmawan, fungsi perbankan dalam mendukung ekonomi nasional melalui restrukturisasi bisa dilakukan melalui penundaan bunga maupun angsuran pokok serta penyesuaian jangka waktu kredit. Hal tersebut bermanfaat untuk menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan.

"Dengan adanya POJK 11 ini jadi kolektibilitas 1 dan memang tidak diwajibkan menambah CKPN. Tapi kami lebih prudent, tidak hanya as usual, tapi built up CKPN. Itu untuk antisipasi, begitu POJK 11 habis, bank bisa siap, tidak mengganggu modal untuk ekspansi setelah Covid," papar dia.

Bank Mandiri, kata Darmawan Junaidi, telah membagi porsi atau segmen-segmen yang terdampak pandemi supaya bisa menyiapkan pencadangan yang memadai. Yang terdampak bukan hanya nasabah ritel kecil, tapi juga nasabah wholesale.

"Kami bisa terus menjaga. Apabila kelanjutan restrukturisasi tidak bisa juga, kami siapkan CKPN yang cukup. Secara sektor, Rp 116 triliun yang direstrukturisasi Mandiri, paling besar ada sektor di konstruksi, perdagangan besar, dan eceran," tutur dia.

 

 

 

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN